PROPER Terbukti Tingkatkan Ketaatan, Pacu Efisiensi, Dorong Inovasi Industri, dan Berdayakan Masyarakat

Selasa, 01 Agu 2023, 14:58 WIB

JAKARTA - Melalui inovasi Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam pengelolaan Lingkungan (PROPER), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutaan (KLHK) berhasil menjadi pemenang Outstanding Achievement of Public Service Innovation 2023 dengan inovasi penerapan kriteria dan mekanisme penilaian baru Life Cycle Assessment (LCA), inovasi sosial, Social Return on Investment (SROI), dan green leadership.

Pengumuman pemenang yang disiarkan langsung secara live streaming melalui Youtube Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) pada Senin (31/7). Ini bagian dari top inovasi pelayanan publik terpuji, dalam bentuk kompetensi inovasi pelayanan publik di lingkungan kementerian dan lembaga atau K/L, Pemda, BUMN dan BUMD tahun 2023 yang digelar Kemenpan RB.

Ket. Foto: Menteri LHK Siti Nurbaya (tengah) bersama Dirjen PPKL KLHK, Sgit Reliantori (kiri), dan Sesditjen PPKL KLHK, Tulus Laksono. — Sumber: Istimewa

Menurut siaran persnya, Menteri LHK, Siti Nurbaya menyambut gembira penghargaan tersebut. Dia mengatakan PROPER mendorong ketaatan perusahaan terhadap peraturan lingkungan hidup dan meningkatkan kinerja perusahaan dalam pengelolaan sumber daya melalui penerapan sistem manajemen lingkungan, efisiensi energi, penurunan emisi, pemanfaatan limbah B3 dan Non B3, efisiensi air, penurunan beban pencemaran air, keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat.

Pada tahun 2022 sebanyak 3.200 perusahaan diawasi dan dibina (meningkat 37 % dibanding tahun 2019) dan dilahirkan ekoinovasi sebanyak 872 (meningkat 25% dibandingkan tahun 2021).

"Dalam konteks agenda global, PROPER terbukti berkontribusi sebagai hub penggerak partisipasi entitas bisnis untuk capaian pembangunan berkelanjutan yang tercermin dalam SDGs," ujar Menteri Siti.

Dikemukakan Menteri Siti, pada tahun 2022 terdapat 13.355 kegiatan yang menjawab tujuan SDGs dengan total dana dikucurkan sebesar 46,28 triliun rupiah. Angka ini meningkat sebesar 19,66% dari sejak pertama kriteria ini diluncurkan.

"PROPER teruji dan terbukti dapat meningkatkan ketaatan, pacu efisiensi, dorong inovasi industri, dan berdayakan masyarakat untuk pembangunan berkelanjutan. Terima kasih kerja keras jajaran Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) dan seluruh jajaran KLHK. Terus berinovasi untuk menjaga Indonesia kita tercinta," ujar Menteri Siti.

Berbagai Inovasi

Dari penjelasan Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK disebutkan, pada tahun 2019 Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam pengelolaan Lingkungan (PROPER) mendapat penghargaan karena menjadi platform untuk mendorong ketaatan perusahaan terhadap peraturan lingkungan hidup dan meningkatkan kinerja perusahaan dalam pengelolaan sumber daya melalui penerapan sistem manajemen lingkungan, efisiensi energi, penurunan emisi, pemanfaatan limbah B3 dan Non B3, efisiensi air, penurunan beban pencemaran air, keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat.

Platform ini tetap dipertahankan, tahun 2022 sebanyak 3.200 perusahaan diawasi dan dibina (meningkat 37 % dibanding tahun 2019) dan dilahirkan ekoinovasi sebanyak 872 (meningkat 25% dibandingkan tahun 2021).

Continuous improvement (perbaikan menerus) terus dilakukan melalui penerapan kriteria dan mekanisme penilaian baru LCA, inovasi sosial, SROI, dan Green Leadership.

LCA adalah metode analisis yang digunakan untuk mengevaluasi dampak lingkungan suatu produk, proses, atau layanan selama seluruh siklus hidupnya, mulai dari bahan baku, proses produksi, distribusi, komsumsi sampai ke pembuangan akhir.

Metode ini diadopsi PROPER karena ekoinovasi (tahun 2022 ekoinovasi mampu menghemat 126,3 triliun rupiah) perlu diperluas ke seluruh rantai pasok. LCA mampu mengidentifikasi sumber-sumber ketidakefisienan (hot spot) dari seluruh rantai pasok tersebut dan mendorong perusahaan untuk melakukan perbaikan menerus atau berinovasi mengembangkan produk atau layanan baru.

Inovasi sosial diadopsi karena penerapan kriteria pemberdayaan masyarakat dan CSR selama10 tahun terakhir hanya efektif untuk industri ekstraktif (tambang, Migas, PLTU), namun tidak terlalu cocok untuk industri non ekstraktif.

Konsep Creating Shared Value (CSV) Michael Porter (2011) diadopsi untuk menciptakan perbaikan dan inovasi sosial yang saling menguntungkan antara perusahaan dan masyarakat yang berada di jaringan rantai pasok yang dipadukan dengan konsep Luis Protales (Social Innovation and Social Entrepreneurship - Fundamental Concepts, and Tools, 2019) untuk kriteria inovasi sosial.

SROI adalah metode untuk mengukur dan mengevaluasi nilai sosial yang dihasilkan oleh suatu program. SROI mengukur dampak sosial dengan menghubungkan input (investasi atau sumber daya yang digunakan), output (hasil langsung yang dihasilkan), dan outcome (dampak sosial yang lebih luas).

SROI mengevaluasi dampak sosial dalam bentuk nilai moneternya, sehingga dapat dibandingkan antara investasi yang dilakukan dengan manfaat sosial yang diperoleh. Metode ini digunakan untuk mengukur keberhasilan Inovasi Sosial yang dilakukan perusahaan.

Green Leadership adalah penghargaan kepada pimpinan tertinggi (CEO) yang perusahaannya telah memperoleh Peringkat Emas PROPER dan mampu menunjukkan keteladanan, menginspirasi visi bersama, menantang proses, mendukung orang lain untuk bertindak, memberikan semangat kepada konstituennya (James M. Kouzes, et all, 2007).

Konsep ini dan dikombinasikan dengan John Elkinton, Green Swans: The Coming Boom in Regenerative Capitalism (2020). Elkinton beragumentasi pemimpin sebagai motor ekonomi global harus memilik konsep Future Fit untuk mengatasi perubahan iklim, pencemaran lingkungan dan kehilangan keanekaragaman hayati (The Triple Planetary Crisis).

LCA yang awalnya merupakan kajian akademik sekarang sudah mulai digunakan sebagai model pengelolaan lingkungan baru bagi perusahaan.

Dampak adopsi kriteria Inovasi Sosial penilaian PROPER 2022 jumlah industri non ekstraktif yang mendapatkan Peringkat EMAS (merupakan peringkat tertinggi di dalam PROPER) meningkat 89%. Jumlah perusahaan yang menerapkan SROI sebanyak 96 perusahaan.

Green leadership mampu medorong CEO untuk merumuskan roadmap keberlanjutan dan kontribusi perusahaan menjawab The Triple Planetary Crisis.

LCA yang awalnya merupakan kajian akademik sekarang sudah mulai digunakan sebagai model pengelolaan lingkungan baru bagi perusahaan. Dalam waktu 2 tahun, 301 perusahaan di 53 sektor industri sudah mengimplementasikan LCA dan saat ini 22 perusahaan dalam tahap verifikasi untuk mendapatkan sertifikasi EPD. Selain itu muncul kelembagaan dan kompetensi baru untuk pelatihan dan sertifikasi EPD, seperti Pro-LCAS, ILCAN dan Perguruan Tinggi untuk melayani kebutuhan perusahan.

Sumber daya keuangan yang dipersiapkan untuk penyelenggaraan PROPER sebesar 9 miliar rupiah (tahun 2023). PROPER menerapkan kerja kolaboratif yang melibatkan tim PROPER pusat dan instansi lingkungan hidup provinsi 382 orang; peneliti lingkungan dari ITS, Undip, UGM, Unpad, UPN 235 orang; praktisi LCA 17 orang; akademisi dan praktisi SROI 20 orang; Sekretariat PROPER 9 orang; dan Dewan Pertimbangan PROPER 7 orang dari unsur pemerintah, praktisi pendidikan, jurnalis, dan LSM; BNSP dan LSP.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Marcellus Widiarto

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.