• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Menjadi Inspirasi Bagi La...

Menjadi Inspirasi Bagi Lahirnya Budaya Neoklasik

Jumat, 14 Jul 2023, 06:25 WIB

Letusan Gunung Vesuvius membuat mereka yang tetap tinggal di Kota Pompeii, Herculaneum, dan kota-kota lain seperti berada dalam mimpi buruk. Semakin tebalnya abu yang jatuh, itu menyumbat udara sulit bernafas. Tumpukan abu membuat bangunan runtuh karena kelebihan beban.

Kemudian, pada pagi hari berikutnya, aliran piroklastik semburan gas superpanas dan lumpur batuan dengan kecepatan 100 mil per jam mengalir ke sisi gunung, menguapkan segalanya dan semua orang di jalurnya. Pada saat letusan Gunung Vesuvius berakhir pada hari kedua letusan, Pompeii telah terkubur di bawah jutaan ton abu vulkanik.

Ket. Foto: — Sumber: Parco Archeologico di Pompei press office / AFP

Beberapa orang kembali ke kota untuk mencari kerabat atau harta benda yang hilang, tetapi hampir tidak ada yang tersisa untuk ditemukan. Pompeii, bersama dengan kota tetangga Herculaneum dan sejumlah vila di daerah tersebut kemudian ditinggalkan selama berabad-abad.

Letusan dahsyat Gunung Vesuvius membuat sekitar 2.000 orang Pompeii tewas hanya di kota itu. Tetapi letusan tersebut secara total menewaskan hingga 16.000 orang di kota Pompeii, Herculaneum, dan kota serta desa lain di kawasan tersebut.

Mayat pria, wanita, anak-anak, dan hewan dibekukan tepat di tempat mereka jatuh. Banyak dari mayat yang ditemukan kemudian masih mencengkeram benda-benda rumah tangga berharga yang mereka harapkan dapat dibawa dengan aman ke luar kota. Beberapa mayat ditemukan dengan tangan merangkul anak-anak atau orang-orang terkasih lainnya.

Belakangan, para arkeolog bahkan menemukan toples buah dan roti yang terawetkan. Sebagian besar bangunan kota masih utuh dan benda sehari-hari serta barang rumah tangga masih berserakan di jalanan. Serbuk abu vulkanik yang mengubur Pompeii terbukti sebagai bahan pengawet yang sangat baik.

Kota Pompeii yang terkubur sebagian besar tetap tidak tersentuh sampai 1748. Ketika sekelompok penjelajah yang mencari artefak kuno tiba di Campania dan mulai melakukan ekskavasi. Mereka menemukan bahwa abu telah bertindak sebagai pengawet yang luar biasa. Di bawah semua debu itu, kota Pompeii hampir masih sama seperti hampir 2.000 tahun sebelumnya.

Banyak ilmuwan menilai penggalian Pompeii memiliki pengaruh bagi kebangkitan kebudayaan neo-klasik yang berkembang abad ke-18. Keluarga terkaya dan paling modis di Eropa memamerkan seni dan mereproduksi benda-benda dari reruntuhan dan gambar bangunan Pompeii, membantu membentuk tren arsitektur pada zaman itu.

Misalnya, keluarga Inggris yang kaya sering membangun kamar Etruria yang meniru kamar di vila Pompeii. Saat ini, banyak karya seni, lukisan dinding, dan artefak lainnya yang diawetkan dipamerkan di Pompeii Antiquarium, yang terletak di antara reruntuhan kota.

Penggalian Pompeii yang telah berlangsung selama hampir tiga abad berlanjut hingga hari ini, dan seluruh situs tersebut telah dinyatakan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Para sarjana dan turis tetap terpesona oleh reruntuhan kota yang menakutkan dan artefak serta mayat yang terkubur pada hari yang menentukan itu lebih dari 2.000 tahun yang lalu seperti pada abad ke-18.

"Banyak bencana telah menimpa dunia," tulis filsuf-penyair Jerman, Goethe, setelah mengunjungi reruntuhan Pompeii pada tahun 1780-an. "Tetapi hanya sedikit yang membawa begitu banyak kegembiraan bagi keturunan," lanjut dia. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.