- Home
-
- Luar Negeri
-
- Hasil Studi: Warna Lautan ...
Hasil Studi: Warna Lautan Berubah akibat Pemanasan Global
Jumat, 14 Jul 2023, 00:02 WIBNEW YORK - Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada Rabu (12/7) di jurnal Nature, lebih dari separuh lautan dunia telah berubah warna dalam 20 tahun terakhir, fenomena yang kemungkinan besar didorong oleh perubahan iklim.
Studi yang menganalisis data satelit selama beberapa dekade tersebut, menemukan 56 persen lautan global, lebih luas dari total luas daratan di Bumi, telah mengalami perubahan warna antara 2002 dan 2022. Sementara para peneliti tidak mengidentifikasi pola keseluruhan, wilayah laut tropis di dekat Khatulistiwa tampaknya semakin hijau dari waktu ke waktu.
Dikutip dari The Straits Times, penulis penelitian mengatakan bahwa variabilitas alami dari tahun ke tahun saja tidak dapat menjelaskan perubahan tersebut.
Warna lautan adalah hasil dari apa yang ada di lapisan atasnya. Secara umum, semakin banyak fitoplankton, mikroba yang mengandung sejenis pigmen hijau yang disebut klorofil, yang hidup di lingkungan perairan, semakin hijau airnya, sebaliknya jika tidak, warnanya lebih biru.
Lautan juga memiliki bahan organik penyerap cahaya yang dapat mengubah warna air dari biru menjadi kuning dan cokelat, tergantung pada tingkat konsentrasinya. Oleh karena itu, perubahan warna, meskipun terkadang tidak terlihat oleh mata manusia, menandakan perubahan pada organisme dan zat di perairan laut.
"Teknik statistik yang digunakan dalam analisis tren memberi tahu kita bahwa warna berubah, tetapi tidak benar-benar mengatakan bagaimana perubahannya," kata peneliti senior, Stephanie Dutkiewicz, di Massachusetts Institute of Technology dan salah satu penulis studi tersebut.
"Meskipun beberapa daerah lintang rendah memang menyarankan pergeseran yang lebih hijau, itu sama sekali bukan satu-satunya arah dari pergeseran tersebut".
Komunitas Plankton
Menurut para peneliti, tidak jelas persis bagaimana ekosistem laut berubah yang menyebabkan perbedaan warna. Pergeseran warna bisa disebabkan oleh perubahan komunitas plankton yang sangat penting bagi rantai makanan laut.
Keanekaragaman hayati bukan satu-satunya hal yang dipertaruhkan. Pergeseran ini juga dapat memengaruhi berapa banyak karbon dioksida yang diserap lautan, karena jenis plankton yang berbeda memiliki kemampuan yang berbeda untuk menyerapnya.
Perubahan tersebut sejalan dengan pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil. "Ini memberikan bukti tambahan tentang bagaimana aktivitas manusia memengaruhi kehidupan di Bumi dalam skala spasial yang sangat besar. Ini cara lain manusia mempengaruhi biosfer," kata penulis utama dari Pusat Oseanografi Nasional Inggris, BB Cael.
Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana ekosistem laut dapat berubah dari waktu ke waktu, Cael dan timnya menganalisis data yang dikumpulkan oleh sensor di satelit Aqua, yang telah memantau warna laut selama 21 tahun dan melakukan pengukuran dalam tujuh panjang gelombang tampak.
Sebagian besar lautan tampak biru di mata manusia, tetapi warna aslinya mungkin mengandung campuran panjang gelombang, dari biru ke hijau dan bahkan merah.
Sensor berbasis satelit dapat mengenali warna laut yang terlalu halus untuk dibedakan oleh mata manusia.
Cael melakukan analisis statistik dengan menggunakan ketujuh warna lautan yang diukur oleh satelit dari 2002 hingga 2022. Dia pertama kali memeriksa seberapa banyak warna berubah dari satu wilayah ke wilayah lain selama tahun tertentu, yang membantu menentukan dasar variasi alaminya.
Kemudian dia memperkecil untuk melihat variasi tahunan ini selama periode yang lebih lama dari dua dekade. Perubahan itu melampaui variabilitas normal.
Analisis data satelit dunia nyata sebagian besar sejalan dengan pemodelan yang dilakukan Dutkiewicz pada 2019, yang mensimulasikan lautan Bumi di bawah dua skenario: satu dengan penambahan gas rumah kaca, dan satu lagi tanpa itu. Model gas rumah kaca memperkirakan bahwa perubahan warna dapat terjadi pada sekitar 50 persen permukaan lautan dunia dalam waktu 20 tahun.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pabrik MVP, Rahasia Belanda dan Amerika Serikat 'Cetak' Noortje Driessen & Caden Pierce Jadi Raja 3x3 Dunia
-
Old Trafford Tamat? Bos Proyek MU Buka Suara Soal Kapan Stadion Baru Resmi Dibuka
-
Eddy Soeparno: Krisis Energi Dunia Momentum Perkuat Ketahanan Energi Nasional
-
Komisi Pemberantasan Korupsi Buka Peluang Periksa Istri Budi Karya Sumadi dalam Kasus DJKA Kemenhub
-
Mendorong Ball Boy, Pedro Neto Terancam Sanksi UEFA
-
Suhu Bumi Cetak Rekor Terpanas 11 Tahun, PBB Serukan Aksi Global
-
Asik, Kini Ratusan Pramuwisata Kalbar Terima Tip via QRIS GoPay Merchant
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.