AS Dapat Akses ke Pangkalan Militer di PNG

Jumat, 16 Jun 2023, 02:55 WIB

PORT MORESBY - Militer Amerika Serikat (AS) dapat mengembangkan dan beroperasi dari pangkalan di Papua New Guinea (PNG). Akses ini diperoleh berdasarkan pakta keamanan penting yang akan mendukung upaya Washington DC untuk membendung pengaruh Tiongkok di kawasan Pasifik.

Teks lengkap dari kesepakatan itu diajukan di parlemen PNG pada Rabu (14/6) malam setelah pakta itu ditandatangani pada Mei lalu.

Ket. Foto: Pakta Keamanan I Menlu AS, Antony Blinken (kiri), berjabat tangan dengan Menhan Papua New Guinea (PNG), Win Bakri Daki, usai meneken kesepakatan pakta keamanan di Port Moresby pada 22 Mei lalu. Melalui kesepakatan ini maka militer AS akan memiliki akses ke sejumlah ­pangkalan di PNG. — Sumber: AFP/ADEK BERRY

Dengan persetujuan PNG, maka AS akan dapat menempatkan pasukan dan kapal di enam pelabuhan dan bandara utama, termasuk Pangkalan Angkatan Laut Lombrum di Pulau Manus dan fasilitas di Ibu Kota Port Moresby.

"Washington DC akan memiliki akses tanpa hambatan ke lokasi untuk memposisikan peralatan, suplai, dan material terlebih dahulu, dan memiliki penggunaan eksklusif beberapa zona, tempat pengembangan dan aktivitas konstruksi dapat dilakukan," lapor AFP.

Perjanjian tersebut membuka pintu bagi Washington DC untuk membangun jejak militer baru di pelabuhan laut dalam yang berharga secara strategis, pada saat meningkatnya persaingan dengan Beijing.

Bertengger di tepi barat daya Samudra Pasifik, Lombrum di masa lalu telah digunakan sebagai garnisun pasukan Inggris, Jerman, Jepang, Australia, dan AS. Selama Perang Dunia II, Lombrum adalah salah satu pangkalan AS terbesar di Pasifik, yang mampu menampung 200 kapal termasuk enam kapal perang dan 20 kapal induk yang digunakan untuk merebut kembali Filipina dari Jepang.

Tiongkok sendiri telah berupaya mencari pijakan di Lombrum dalam beberapa tahun terakhir, sebelum dikalahkan oleh Australia dan AS, yang pada 2018 setuju untuk bersama-sama mengembangkan fasilitas itu dengan PNG.

Akses pasukan AS ke Lombrum dapat digunakan untuk memperkuat fasilitas AS di Guam di utara, yang dapat menjadi kunci jika terjadi konflik terkait Taiwan.

Perdana Menteri PNG, James Marape, menyatakan bahwa ia harus mempertahankan kesepakatan itu walau ada gelombang protes dan kritik dari dalam negerinya.

"Kami telah membiarkan militer kita terkikis dalam 48 tahun terakhir," kata PM Marape kepada parlemen pada Rabu malam. "Kedaulatan ditentukan oleh ketangguhan dan kekuatan militer kita," imbuh dia.

Tarik-menarik Diplomatik

Sebagai negara kaya akan sumber daya alam dan dekat dengan rute pelayaran utama, PNG semakin menempatkan dirinya berada di pusat tarik-menarik diplomatik antara Washington DC dan Beijing.

Menurut mantan PM Peter O'Neill, perjanjian itu memiliki target di belakang PNG. "Amerika melakukannya untuk melindungi kepentingan nasional mereka sendiri, kita semua memahami geopolitik yang terjadi di kawasan kita," kata dia.

Presiden AS, Joe Biden, sebelumnya dijadwalkan mengunjungi PNG untuk menandatangani kesepakatan itu, namun perjalanan itu batal karena adanya perselisihan anggaran di Kongres AS.

Selain PNG, Washington DC sedang mencoba merayu negara-negara Pasifik dengan serangkaian insentif diplomatik dan keuangan sebagai imbalan atas dukungan strategis, setelah langkah serupa dilakukan oleh Beijing.

Sebelumnya sebuah perusahaan Tiongkok telah mengambil alih perusahaan tambang dan pelabuhan di Pasifik, dan tahun lalu menandatangani pakta keamanan rahasia dengan Kepulauan Solomon yang memungkinkan Tiongkok mengerahkan pasukan ke negara itu.

AS khawatir pijakan militer Tiongkok di Pasifik selatan dapat mengepung fasilitasnya di Guam, dan membuat pertahanan Taiwan lebih rumit jika terjadi invasi oleh Tiongkok daratan. AFP/And

Redaktur: andes

Penulis: AFP

Berita Terbaru

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.