Hilirisasi Kunci RI Jadi Negara Maju

Senin, 27 Mar 2023, 08:37 WIB

JAKARTA - Hilirisasi dan transformasi ekonomi diyakini menjadi kunci Indonesia untuk mencapai visi Indonesia sebagai negara maju pada 2045. Sebab, tanpa terobosan tersebut, perekonomian nasional diperkirakan hanya berada di level lima persen sehingga akan kesulitan keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah alias middle income trap.

Saat menghadiri kegiatan Business Forum on 50 Years of Indonesia-Korea Relations di Seoul, Korea Selatan (Korsel), Jumat (24/3), Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menilai Indonesia berpeluang besar memainkan peran strategis di pasar global, menyusul meningkatnya permintaan pasar global terhadap komoditas mineral dan produk turunannya serta pengembangan produk teknologi ramah lingkungan.

Ket. Foto: Menko bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan — Sumber: Istimewa

"Negara kita ini terletak di sepanjang jalur laut utama yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, dan Oseania, serta kaya akan cadangan mineral transisi energi sehingga potensi energi baru terbarukan tinggi," katanya dalam keterangan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Mengutip data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Statista, Indonesia menjadi negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, timah kedua di dunia, bauksit keenam di dunia, tembaga ketujuh di dunia, serta memiliki 437,4 GW potensi energi baru terbarukan, yang mencakup solar, air, angin, bioenergi, geothermal, dan laut.

Pada 2045, Indonesia berambisi menjadi negara maju dengan produk domestik bruto (PDB) 10.000 dollar AS.

Untuk mencapai target tersebut, Indonesia harus mampu melakukan setidaknya lima hal, antara lain memulihkan perekonomian di tengah berbagai tantangan global; meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi; memperkuat ketahanan ekonomi melalui peningkatan dana desa; mitigasi dampak perubahan iklim melalui dekarbonisasi dan transisi energi; dan transformasi ekonomi dari berbasis komoditas menjadi berbasis industri.

Dalam rangka menerapkan poin tersebut, transformasi ekonomi yang mempertimbangkan kebijakan hilirisasi juga menjadi faktor penentu perekonomian Indonesia.

Ke depan, kebijakan hilirisasi akan mencakup pendirian kawasan industri bernilai tambah tinggi untuk mendukung digitalisasi ekonomi yang semakin pesat dan tren ekonomi hijau.

"Kebijakan investasi dan insentif didorong untuk menciptakan ekosistem industri yang komprehensif dan berdaya saing tinggi juga akan didorong," katanya lagi.

Pacu Perekonomian

Sebelumnya, ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, mengatakan ekonomi Indonesia perlu tumbuh 8 persen per tahun selama 10 tahun agar Indonesia bisa menjadi negara maju pada 2045.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen per tahun selama 10 tahun dibutuhkan untuk meningkatkan produk domestik bruto (PDB) per kapita yang saat ini berkisar empat ribu dollar AS per tahun menjadi 12 ribu dollar AS.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata hanya sebesar 5 persen per tahun juga membuat penyerapan tenaga kerja relatif rendah, padahal saat ini Indonesia sedang mengalami bonus demografi.

"Angkatan kerja kita setiap tahun mencapai sekitar empat juta. Sementara itu, dengan pertumbuhan ekonomi kira-kira hanya sebesar 5 persen per tahun, kita hanya bisa menyerap sekitar 1,25 juta," katanya.

Untuk itu, pemerintah perlu terus menarik investasi dan memacu hilirisasi Sumber Daya Alam guna mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.