Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

The Fed Diprediksi 'Dovish'

📅 Jumat, 17 Mar 2023, 09:07 WIB | Oleh:
The Fed Diprediksi 'Dovish' Doc: istimewa

JAKARTA - Normalisasi moneter di Amerika Serikat (AS) diperkirakan tak lagi seagresif sebelumnya. Spekulasi sikap dovish bank sentral AS (the Fed) menguat menyusul kolpasnya tiga bank di Negeri Paman Sam, termasuk Silicon Valley Bank (SVB).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, memperkirakan the Fed akan mengurangi agresivitasnya dalam menaikkan suku bunga setelah penutupan SVB. Selama ini, SVB fokus mendanai startup.

Dia memperkirakan suku bunga acuan the Fed akan dijaga sebesar 5 persen atau hanya akan dinaikkan 25 basis poin (bps). "Kalau ada kemungkinan kenaikan suku bunga acuan the Fed berikutnya, saya perkirakan hanya 25 bps, sangat moderat. Ini untuk memberi sinyal kebijakan mereka yang berupaya mengatasi inflasi," katanya dalam Diskusi Online Indef yang dipantau di Jakarta, Kamis (16/3).

Dia juga memperkirakan the Fed tidak menaikkan suku bunga dalam waktu dekat, meskipun hal tersebut berpotensi memicu capital outflow dari AS ke negara lain, seperti negara-negara di Uni Eropa dan Australia yang sudah menaikkan suku bunga acuan mereka mengikuti the Fed.

"Kalau the Fed masih agresif menaikkan suku bunga acuannya, bank-bank lain bisa terdampak. Benturan selanjutnya bisa dialami lebih luas oleh sistem keuangan di Amerika Serikat," katanya.

Pada Februari 2023, inflasi AS tercatat sebesar 6 persen, atau masih lebih tinggi dari suku bunga acuan the Fed yang sebesar 4,75 persen, yang memicu deposan menarik uangnya dari perbankan di AS, termasuk dari SVB.

SVB sendiri, yang berfokus menyimpan uang pelaku usaha rintisan dan melakukan pendanaan untuk startup, mengalami pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan deposito di tengah pandemi Covid-19 yang mengakselerasi digitalisasi.

"Tapi kemudian situasi berubah. Setelah aktivitas masyarakat berangsur normal, startup banyak melakukan pemutusan hubungan kerja. Ini implikasinya," katanya.

Menurutnya, kebutuhan penarikan dana yang tidak dapat dipenuhi SVB menyebabkan bank tersebut kolaps dalam waktu kurang dari 48 jam.

Eko berpandangan apabila tidak segera ditangani, penutupan SVB yang kemudian disusul oleh penutupan Signature Bank, dapat memicu resesi ekonomi global.

"Kita masih melihat inflasi yang cukup tinggi, terutama di negara-negara maju, yang dikendalikan oleh kebijakan suku bunga acuan. Probabilitas resesi tidak terhindarkan kalau bank sentral dunia terus mengerek suku bunga acuan," ucapnya.

Tahan Bunga Acuan

Sinyalemen sikap dovish the Fed juga terlihat dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan. Dalam beberapa bulan terakhir, penyesuaian BI 7 Day Reverse Repo Rate (7 DRRR) selalu mengikuti kenaikan Fed Fund Rate (FFR).

Terkini, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (16/3).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.