Rasisme dan Penembakan Massal Dorong Warga AS Keturunan Asia Beli Senjata

Kamis, 16 Feb 2023, 19:14 WIB

AZUSA - Serangan terhadap dan oleh anggota komunitas Asia di Amerika Serikat (AS) telah mendorong banyak orang Asia untuk membeli dan berlatih menggunakan senjata.

Kelly Siu, warga Los Angeles, dulunya termasuk orang yang menghindari senjata api. Namun karena meningkatnya kasus penembakan massal dan serangan bernuansa rasial terhadap orang-orang Asia selama masa pandemi, ia berubah pikiran.

Ket. Foto: — Sumber: VoA/AP/John Locher

Tekadnya menguat setelah gerakan Black Lives Matter semakin terdengar gaungnya pada 2020. Ia khawatir gerakan Black Lives Matter akan berubah menjadi semacam pertempuran antaretnis yang pernah membelah Los Angeles di masa lalu, terutama dalam kerusuhan terkait kasus Rodney King. King adalah orang kulit hitam yang dipukuli polisi secara brutal pada tahun 1992 dan memicu kerusuhan besar-besaran.

Siu pun mulai mengkoleksi senjata pada musim panas 2020. Ia kini memiliki empat pistol, dua senapan semi-otomatis dan satu senapan biasa. Ia mengatakan ayahnya yang berkebangsaan Vietnam dan ibunya berkebangsaan Tiongkok sangat kecewa dengan hobi barunya itu.

"Ayah saya melarikan diri dari Vietnam pada saat perang Vietnam sedang mencapai puncaknya. Ada banyak kekerasan yang terjadi dan ketika ia mengetahui bahwa saya membeli senjata, ia sangat kecewa, dia berkata, 'Oh, kamu tidak membutuhkan itu. Kita kan punya polisi," kata Siu.

Namun, kata perawat berusia 31 tahun itu, penembakan massal di sebuah studio dansa di Monterey Park, California, membenarkan keputusannya. Beberapa jam sebelum penembakan itu, ia merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarganya di pasar terdekat. Pelaku penembakan ternyata orang Asia.

Apalagi, dua hari kemudian di California utara, tujuh pekerja pertanian, kebanyakan dari mereka orang Asia, ditembak mati dalam apa yang menurut jaksa adalah penembakan di tempat kerja yang dilakukan oleh seorang warga keturunan Asia berusia 66 tahun.

Penembakan massal lainnya bisa terjadi, kata Siu, yang telah mengajukan izin untuk membawa senjatanya di tempat umum. Mengetahui bahwa ia memiliki senjata untuk berjaga-jaga dan menanggapi situasi itu membuat hatinya tenang.

Siu tidak sendirian. John Jung, seorang warga Amerika keturunan Korea, juga memutuskan membeli senjata dan mengambil kursus menembak karena sering terjadinya penembakan massal di AS. Keputusan Jung terkait kepemilikan senjata juga dipengaruhi oleh meningkatnya serangan rasis terhadap orang-orang Asia selama beberapa tahun terakhir yang bertepatan dengan penyebaran virus korona.

"Penembakan massal dan pandemi baru-baru ini benar-benar menegaskan perlunya keterampilan menggunakan senjata. Saya pikir kebutuhan akan pelatihan untuk membela diri selalu ada, tapi mungkin saya terlalu naif. Tapi melihat semua itu terungkap langsung, Anda tahu, secara online atau di mana pun, itu benar-benar menekankan perlunya saya memiliki seperangkat keterampilan defensif," tutur dia.

Sekitar 6,6 persen dari populasi AS diidentifikasi secara etnis dari Asia, dan, meskipun tidak ada statistik nasional yang pasti, para pengamat industri senjata mengatakan bahwa komunitas tersebut secara tradisional kurang terlibat dengan senjata dibandingkan komunitas-komunitas lain.

Alex Nguyen dari Pusat Hukum Giffords untuk Pencegahan Kekerasan Bersenjata mengatakan, meningkatnya masalah keamanan, banyak di antaranya terkait dengan pandemi dan meningkatnya kejahatan rasial anti-Asia, telah menyebabkan lonjakan pembelian senjata di kalangan kelompok minoritas ini.

Lebih dari 27 persen toko senjata melaporkan mendapatkan lebih banyak konsumen Asia pada tahun 2021, menurut data terbaru dari National Shooting Sports Foundation, sebuah yayasan olahraga menembak. Orang-orang Amerika keturunan Asia merasa ketakutan dan mereka membeli senjata karena perasaan kurang aman dan adanya prasangka rasial, kata Nguyen.

David Liu, pemilik took senjata Arcadia Firearm & Safety tidak membantah itu. Tapi ia mengatakan, jumlah pembelian senjata secara total tidak meningkat.

"Setelah penembakan massal, kami tidak melihat banyak orang datang dan membeli senjata karena alasan itu, tetapi kami mendapat lebih banyak pertanyaan, dan orang-orang bertanya bagaimana cara mengajukan CCW, izin membawa senjata secara tersembunyi," papar dia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

Berita Terbaru

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.