IMF Menilai Sektor Keuangan Global Tetap Rapuh

Rabu, 01 Feb 2023, 00:04 WIB

» Pelonggaran dini sebagai tanggapan terhadap data inflasi yang lebih rendah dapat memperumit kebijakan anti-inflasi.

» Tekanan biaya pinjaman akan meningkat sehingga memberatkan perusahaan yang jadi debitur bank.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: IMF – Litbang KJ/and - KJ/ONES

WASHINGTON - Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menilai sektor keuangan global tetap rapuh karena bank sentral memulai jalur yang belum dipetakan dengan mengecilkan neraca mereka.

Kepala Ekonom dan Direktur Departemen Riset IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, dalam konferensi pers bertajuk "World Economic Outlook Update" yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa (31/1), mengatakan penting untuk memantau penumpukan risiko dan mengatasi kerentanan tersebut, terutama di sektor perumahan atau di sektor keuangan nonbank yang kurang diatur.

Emerging market atau ekonomi pasar berkembang, jelasnya, membiarkan mata uang mereka menyesuaikan sebesar mungkin dalam menanggapi kondisi moneter global yang lebih ketat dengan mengintervensi pasar valuta asing (valas) atau manajemen aliran modal, yang sesuai untuk meredakan volatilitas yang berlebihan yang tidak sesuai dengan fundamentalnya.

Pasar keuangan menunjukkan kepekaan yang tinggi terhadap berita inflasi, dengan pasar ekuitas naik setelah rilis data inflasi yang lebih rendah baru-baru ini untuk mengantisipasi penurunan suku bunga. Kendati demikian, bank sentral telah mengomunikasikan tekad mereka untuk memperketat kebijakan lebih lanjut.

Dengan puncak inflasi utama Amerika Serikat (AS) dan percepatan kenaikan suku bunga oleh beberapa bank sentral di luar AS, menyebabkan kurs dollar AS telah melemah sejak September 2022, tetapi tetap jauh lebih kuat dari tahun lalu.

Sebab itu, kata Pierre, terdapat risiko perubahan harga di pasar keuangan secara tiba-tiba. Pelonggaran dini dalam kondisi keuangan sebagai tanggapan terhadap data inflasi utama yang lebih rendah dapat memperumit kebijakan anti-inflasi dan memerlukan pengetatan moneter tambahan.

Untuk alasan yang sama, rilis data inflasi yang tidak menguntungkan dapat memicu perubahan harga aset secara tiba-tiba dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan. "Pergerakan seperti itu dapat membebani likuiditas dan berfungsinya pasar secara kritis, dengan efek riak pada ekonomi riil," kata Pierre.

Oleh karena itu, dia menyarankan untuk memastikan stabilitas sektor keuangan, alat makroprudensial dapat digunakan untuk mengatasi peningkatan kerentanan sektor keuangan. Namun, langkah tersebut bergantung pada keadaan negara tersebut.

Pemantauan perkembangan sektor perumahan dan melakukan stress test di ekonomi di mana harga rumah telah meningkat secara signifikan selama beberapa tahun terakhir pun diperlukan.

Pierre menambahkan, peraturan sektor keuangan yang diperkenalkan setelah krisis keuangan global telah berkontribusi pada ketahanan sektor perbankan selama pandemi, tetapi ada kebutuhan untuk mengatasi kesenjangan data dan pengawasan di sektor keuangan nonbank yang kurang diatur, di mana risiko mungkin menumpuk secara tidak mencolok.

Gejolak baru-baru ini di ruang kripto juga ikut disorot dan dinilai sebagai sesuatu yang mendesak untuk memperkenalkan standar umum dan memperkuat pengawasan terhadap aset kripto.

Biaya Pinjaman

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudisthira, yang diminta tanggapannya mengatakan pengetatan moneter bank sentral terhadap ekonomi Indonesia berdampak pada industri jasa keuangan.

Pertama, tekanan biaya pinjaman mulai terasa karena banyak industri yang semula mendapat restrukturisasi kredit, mulai mengalami tekanan ketika harus melakukan penerbitan utang baru atau melanjutkan cicilan sebelumnya. "Sebagai implikasinya, perusahaan bisa melakukan efisiensi atau tutup permanen dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal," kata lulusan UGM tersebut.

Dampak kedua ke sektor nonbank yaitu fintech. Kinerja fintech yang sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga dan arus modal dari negara lain. Dengan banyak fintech yang disuntik dengan modal asing dan kredit macet terus naik maka efeknya bisa ke perbankan kalau tidak hati hati.

Ketiga, asuransi memiliki problem yang akut dari mulai tata kelola hingga pendapatan premi yang turun. "Tahun ini mungkin asuransi jadi salah satu bisnis yang terpukul naiknya suku bunga," kata Bhima.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Berita Terbaru

OJK Tegaskan Perusahaan Modal Ventura Berizin Berada dalam Pengawasan

Buaya Sepanjang Tiga Meter Muncul di Pantai Wisata Pasir Putih, Pengunjung Panik ‎

Joe Taslim Gabung Film Netflix “Extraction 3”

Perluas Pengalaman Lifestyle Padel bagi Nasabah dan Masyarakat, CIMB Niaga Luncurkan OCTO Arena di Jakarta

Di Karawang Terjadi 50 Kebakaran Terjadi Selama Dua Minggu ini

Perkuat Komitmen pada Asuransi Inklusif, AXA Mandiri Raih ESG Award 2026 by KEHATI

Menag Bertemu Dubes Mesir, Grand Syekh Al-Azhar Dipastikan Hadiri IGIC 2026.

Universitas Thailand Tawarkan Kuliah dan Beasiswa di Jakarta

Secercah Harapan Rehabilitasi 300 Orangutan Menanti Kesiapan Pelepasliaran yang Aman

Intensifkan Pemasaran WashTower, LG Bentuk Kolaborasi Dengan Mitra Dealer Spesialis

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Rumah Harimau Sumatera Ikut Hangus Dilalap Kebakaran Hutan

Aturan Baru Tarif Pengantaran Barang dan Makanan Ojol Digodok Kemkomdigi, Tak Adopsi Skema 92:8, Fokus bagi Hasil Adil

LG UltraGear Native 1000Hz Segera Hadir di Indonesia

Impor Udang Vaname 120 Ton Lewat Kawasan Berikat, KKP Minta Industri Utamakan Produksi Lokal

D'Masiv Bikin Album Full Berbahasa Inggris, Beri Warna Baru bagi Massivers

Tapak Tumbuh Hadir di JIA Curated 2026, Ubah Jejak Bumi Menjadi Pengalaman Spasial

Waspada! Modus Paket Umrah di Bawah Rp26 Juta, Kemenhaj Ingatkan Jemaah Indikasi Penipuan

Dopamine Land Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Hiburan Multisensori

Festival Pacu Jalur 2026 di Kuansing Dibuka Plt Gubernur Riau, Ini Jadwal Lengkapnya!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.