Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PBB: Kenaikan Harga dan Kerawanan Pangan Menambah Risiko Kelaparan di Asia

📅 Sabtu, 28 Jan 2023, 12:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
PBB: Kenaikan Harga dan Kerawanan Pangan Menambah Risiko Kelaparan di Asia Doc: VOA/WFP
Ket. Semakin banyak orang Asia mengalami kekurangan makanan akibatnya melonjaknya kerawanan pangan menyusul kenaikan harga dan kondisi kemiskinan yang memburuk, menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO).

WASHINGTON - Semakin banyak orang Asia mengalami kekurangan makanan akibatnya melonjaknya kerawanan pangan menyusul kenaikan harga dan kondisi kemiskinan yang memburuk, menurut laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dan badan-badan PBB lainnya yang dirilis pada Selasa (24/1).

Pandemi COVID-19 menjadi kemunduran besar, menyebabkan raibnya pekerjaan dan gangguan secara massal. Perang di Ukraina juga telah mendorong harga makanan, komoditas energi, dan pupuk, yang membuat jutaan orang mengalami kesulitan untuk mendapatkan makanan yang memadai, katanya.

Laporan tersebut adalah inventarisasi tahunan kelima tentang kerawanan pangan dan kelaparan yang digarap oleh badan-badan PBB termasuk FAO, UNICEF, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan Program Pangan Dunia (WFP).

Selama tahun-tahun tersebut, kemajuan dalam pengentasan kelaparan dan malnutrisi telah terhenti dan kemudian mundur karena semakin banyak orang kehilangan sumber daya untuk mendapatkan cukup makanan. Prevalensi kekurangan gizi yang diukur oleh badan-badanPBB adalah 9,1 persen pada 2021, lebih baik dari angka 14,3 persen yang tercatat pada 2000, tetapi hanya naik sedikit dibandingkan capaian pada 2020.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa "perlambatan dalam perang melawan kelaparan terus berlanjut," menurut laporan tersebut. Kajian itu juga menyoroti meningkatnya kerawanan pangan yang dihadapi orang-orang yang pindah ke kota, di mana mereka memiliki akses yang kurang lancar untuk mendapatkan makanan yang terjangkau.

Indeks Harga Pangan FAO telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, mencapai rekor pada Maret 2022. Indeks tersebut turun kembali karena harga komoditas agak menurun di akhir tahun, tetapi masih berada di angka 28 persen di atas level yang tercatat pada 2020.

Wilayah Asia-Pasifik mengimpor hampir $2 triliun makanan dalam setahun. Naiknya harga kebutuhan pokok, seperti beras, gandum, dan minyak, telah berdampak besar pada orang-orang miskin.

Kondisi itu adalah bagian dari apa yang disebut oleh badan-badan PBB sebagai krisis "5F" karena tidak cukup pangan (food), pakan (feed), pupuk (fertilizer), bahan bakar (fuel), dan pembiayaan (financing). Konflik di Ukraina telah memberikan pukulan berat pada banyak negara yang bergantung pada wilayah tersebut untuk mendapatkan pasokan gandum, minyak nabati dan pupuk.

Hampir 2 miliar orang, atau sekitar 45 persen dari jumlah penduduk yang tinggal di Asia, tidak mampu membeli makanan sehat, sehingga membawa dampak terhadap masalah anemia dan obesitas serta kelaparan.

Menggarisbawahi dampak pandemi, yang sangat memukul pekerja yang rentan di industri pariwisata dan manufaktur, hampir satu dari 10 orang Thailand mengalami kekurangan gizi pada 2019-2021, menurut laporan tersebut. Angka tersebut lebih tinggi dari beberapa tahun sebelumnya dan juga di banyak negara Asia Tenggara lainnya di mana pendapatan rata-rata jauh lebih rendah. Kemiskinan telah meningkat sebesar 2,6 persen antara 2015-2018, menurut data Bank Dunia.

Pola makan yang tidak sehat dan makanan yang tidak memadai juga membahayakan kesehatan dan produktivitas di masa depan, karena menyebabkan anak-anak menderita stunting atau kurus dan membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit. Laporan tersebut mengatakan hampir seperempat anak-anak di Asia-Pasifik mengalami stunting, atau tinggi badan yang kecil untuk usia mereka.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...
Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

1 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.