• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Telat Ngguyu, Berpikir Dul...

Telat Ngguyu, Berpikir Dulu Baru Tertawa

Kamis, 26 Jan 2023, 19:44 WIB

JAKARTA - Di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia Jalan Gereja Theresia nomor 47, Gondangdia, Jakarta Pusat 23-30 Januari memamerkan karya dari Anwar Rosyid. Kartunis dari Yogyakarta ini menawarkan sesuatu yang unik karena karyanya yang tampil dalam bentuk kartun meski sekilas seperti lukisan.

"Sebenarnya karya saya yang berwarna. Proses 'migrasi' kartun ke karya lukis (masih artwork) jadi masih beraroma kartun. Di dalam pameran ditambah beberapa kartun murni saya yang pernah dimuat di media cetak. Karya lain yang pernah dimuat media sangat banyak saya nggak pernah menghitung," katanya, Kamis (26/1).

Ket. Foto: Pameran karikatur — Sumber: Haryo

Seperti halnya kartun, karyanya tidak menampilkan judul. Ia juga tidak menampilkan dimensi dari lukisan ini. Sebagai kartun yang tanpa panduan judul, penikmat seni dibiarkan untuk berpikir sendiri karya-karya mantan ilustrator dan kartunis di Harian Suara Pembaruan dan Sinar Harapan itu.

Bagi orang awam perlu waktu untuk menginterpretasikan karya-karyanya. Apalagi penikmat kartun tidak mengerti konteks peristiwa yang melatarbelakangi karya tersebut dibuat. Namun ketika kemudian menemukan sisi humornya, maka biasanya menjadi tersenyum atau bahkan tertawa. Itulah makanya pameran itu diberi judul Telat Ngguyu,oleh inisiator pameran Prof Dr Chryshnanda Dwilaksana, M.Si.

"Telat Ngguyu atau terlambat ketawa bagi penikmatnya karena harus mikir dulu baru paham artinya kata PakChryshnanda," jelasnya.

Karyanya didominasi objek wanita berambut keriting ala Medusa, seorang dewi pelindung nan cantik berambut ular dalam mitologi Yunani. Dalam cerita pewayangan rambut merah menyala wanita dalam karikatur Rosyid seperti Banaspati atau Buto Rambut Geni.

Wanita dengan rambut ikal berwarna cerah ini kemudian disandingkan dengan binatang seperti ikan, sapi, monyet, unta, bangau, dan sebagainya. Prof Dr Chryshnanda Dwilaksana, M.Si, dalam pengantar pameran menyebutkan melihat karyanya yang terkumpul dalam Don Meong menggambarkan kucing dalam kehidupan manusia atau sebagai fabel.

Kekuatan kartunya bukan dari dialog atau kata katanya melainkan dari kepiawaiannya mengajak penikmat sejenak berpikir. Kelucuannya tidak secara langsung ditampilkan." Kita bisa melihat karya orang dipasung dan diukir oleh si terpasung. Banyak hal dalam pikirannya kita biasa namun dalam kartun Anwar Rosyid menjadi sesuatu yang jenaka," imbuhnya.

Salah satunya dari kartun yang ada adalah gambar burung bangau yang kakinya diangkat satu. Di situ ada sarang dengan telurnya, sementara lingkungan sekitarnya digambarkan pohonnya sudah ditebang semua.

Rosyid dinilai pandai membolak-balik logika melalui visualisasi. Contohnya burung dalam sangkar jadi incaran kucing untuk dimakan di balik logikanya. Dalam sebuah kartunya kucingnya dalam sangkar, dikeroyok para burung untuk jadi santapannya. "Ide semacam ini membuat orang berpikir lama untuk memahaminya. Banyak karya saya yang seperti itu," ungkapnya.

Karya kartun Rosyid yang tanpa teks dan penuh dengan teka-teki. Karya yang telah diterbitkan di kedua harian cetak itu seperti menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Hal ini agar penguasa Orde Baru ketika itu tidak marah. Karena jika demikian akan berakibat fatal bagi kelangsungan media cetak itu, tentu saja periuk nasi keluarga pegawainya. "Rezim ngamukan akan membredel, mem-black list dan banyak cara bisa digunakan untuk membunuh karakter," papar Chryshnanda.

Karya seni bisadilabeli apa saja. Sejarah menunjukkan masa kelam rezim Orde Baru yang membredel, memenjarakan, dan bahkan membunuh. "Ini yang membuat trauma untuk mengajak tertawa. Jangan-jangan penguasa yang muntah-muntah kita yang diperiksa," tulinya.

Bagi Chryshnanda, karya Rosyid yang jenaka mengajak tertawa dalam kernyitan kepala. "Gojek ngajak mikir gaya Pak Rosyid," ujar dia.

Kritikan ala Rosyid bukan untuk membunuh atau menyerang atas dasar kebencian, atau membabi buta menjelek-jelekan, melainkan ada pesan moral yang ingin disampaikan. Kemampuannya mengkritik gabungan antara kecerdasan dan kepiawaian mengolah rasa dalam rupa, meski tanpa kata, namun dapat mengajak bercanda yang menghasilkan tawa.

Karya-karyanya yang dipamerkan di Balai Budaya mencapai ratusan. Tapi jumlah karya karikatur yang sebenarnya mencapai ribuan selama dua dasawarsa bekerja sebagai kartunis di media cetak yang menuntut produktivitas dan ide-ide segar.

"Ide dari karya saya mengalir begitu saja bahwa semua benda, kejadian, angan-angan, mimpi dan lain-lain bisa dijadikan materi berkarya. Karya yang nakal akan menjadikan dikenal dengan branded yang harus diciptakan, tidak plagiat," ujar Rosyid.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.