Kenaikan Harga Pangan Hancurkan Mereka yang Paling Miskin dan Rentan

Jumat, 20 Mei 2022, 00:04 WIB

» Kenaikan tajam harga-harga bahan pokok dan kekurangan pasokan memicu tekanan pada rumah tangga.

» Pembiayaan tidak akan efektif jika tidak digunakan untuk meningkatkan kuasa ekonomi rakyat atas pangan.

Ket. Foto: ESTHER SRI ASTUTI Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip Semarang - Jadi, harus lebih berhatihati dalam menggunakan dana yang sumbernya dari pinjaman. Alokasikan untuk kegiatan yang benar-benar efektif dan efisien. — Sumber: KORAN JAKARTA/WAHYU AP

WASHINGTON - Bank Dunia, pada Rabu (18/5) waktu Washington, mengumumkan kebijakan yang akan ditempuh sebagai bagian dari tanggapan global yang komprehensif terhadap krisis ketahanan pangan yang sedang berlangsung. Lembaga tersebut akan menyediakan pembiayaan hingga 30 miliar dollar AS guna membiayai proyek-proyek yang sudah ada maupun proyek yang baru.

Dalam pernyataannya, Bank Dunia mengatakan pembiayaan yang tersedia di bidang-bidang, seperti pertanian, nutrisi, perlindungan sosial, air dan irigasi akan direalisasikan guna mengatasi kerawanan pangan selama 15 bulan ke depan. Termasuk upaya untuk mendorong produksi pangan dan pupuk, meningkatkan sistem pangan, memfasilitasi perdagangan yang lebih besar, dan mendukung rumah tangga dan produsen yang rentan.

Bank Dunia bekerja dengan negara-negara dalam persiapan 12 miliar dollar AS untuk proyek baru dalam kurun waktu 15 bulan ke depan sebagai respons krisis ketahanan pangan.

Selain itu, portofolio lembaga yang berbasis di Washington itu juga mencakup dana yang belum dicairkan sebesar 18,7 miliar dollar AS pada proyek-proyek yang terkait langsung dengan masalah ketahanan pangan dan gizi, yang mencakup pertanian dan sumber daya alam, gizi, perlindungan sosial, dan sektor lainnya.

"Kenaikan harga pangan memiliki dampak yang menghancurkan bagi mereka yang paling miskin dan paling rentan," kata Presiden Grup Bank Dunia, David Malpass.

Untuk menginformasikan dan menstabilkan pasar, sangat penting bagi negara-negara untuk membuat pernyataan yang jelas sekarang tentang peningkatan produksi di masa depan sebagai tanggapan atas perang Russia-Ukraina.

Malpass juga mendesak negara-negara produsen untuk melakukan upaya bersama guna meningkatkan pasokan energi dan pupuk, membantu petani meningkatkan penanaman dan hasil panen, dan menghapus kebijakan yang menghalangi ekspor dan impor, mengalihkan makanan ke biofuel, atau mendorong penyimpanan yang tidak perlu.

Sebelumnya, Bank Dunia bersama Dana Moneter Internasional (IMF), Program Pangan Dunia PBB (WFP) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyerukan tindakan mendesak dan terkoordinasi terkait ketahanan pangan, dan mengimbau negara-negara untuk menghindari pelarangan ekspor makanan atau pupuk.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin keempat lembaga tersebut memperingatkan bahwa perang di Ukraina menambah tekanan yang ada dari krisis Covid-19, perubahan iklim, dan meningkatnya kerapuhan dan konflik, yang mengancam jutaan orang di seluruh dunia.

Kenaikan tajam harga-harga bahan pokok dan kekurangan pasokan memicu tekanan pada rumah tangga. Ancaman terbesar terjadi di negara-negara termiskin, tetapi kerentanan juga meningkat pesat di negara-negara berpenghasilan menengah, yang menampung sebagian besar orang miskin di dunia.

Krisis yang semakin parah dapat memicu ketegangan sosial di banyak negara yang terdampak, terutama yang sudah rapuh atau terkena dampak konflik.

Liberalisasi Pangan

Peneliti Mubiyarto Institute, Awan Santosa, yang diminta pendapatnya, mengatakan krisis pangan terjadi akibat liberalisasi pangan yang berakibat dominasi korporasi atas produksi dan distribusi pangan. Hal itu, katanya, akan selalu menimbulkan kerentanan karena lemahnya kedaulatan pangan.

"Nah, apakah pembiayaan Bank Dunia tersebut menjawab akar masalah struktural krisis pangan," kata Awan.

Menurut Awan, pembiayaan tidak akan efektif jika hal tersebut tidak digunakan untuk meningkatkan kuasa ekonomi rakyat (petani dan koperasi) atas produksi dan distribusi pangan.

Sementara itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan pembiayaan dari Bank Dunia itu sifatnya loan bukan grant (hibah). "Jadi, harus lebih berhati-hati dalam menggunakan dana yang sumbernya dari pinjaman. Alokasikan untuk kegiatan yang benar-benar efektif dan efisien," paparnya.

Sejumlah tantangan krusial harus diselesaikan seperti perubahan iklim dan bencana, urbanisasi, transisi demografi di sektor pertanian serta kendala teknologi dan produktivitas yang rendah. "Alokasikan dana untuk menyelesaikan tantangan ini," tegas Esther.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Di Karawang Terjadi 50 Kebakaran Terjadi Selama Dua Minggu ini

Perkuat Komitmen pada Asuransi Inklusif, AXA Mandiri Raih ESG Award 2026 by KEHATI

Menag Bertemu Dubes Mesir, Grand Syekh Al-Azhar Dipastikan Hadiri IGIC 2026.

Universitas Thailand Tawarkan Kuliah dan Beasiswa di Jakarta

Secercah Harapan Rehabilitasi 300 Orangutan Menanti Kesiapan Pelepasliaran yang Aman

Intensifkan Pemasaran WashTower, LG Bentuk Kolaborasi Dengan Mitra Dealer Spesialis

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Rumah Harimau Sumatera Ikut Hangus Dilalap Kebakaran Hutan

Aturan Baru Tarif Pengantaran Barang dan Makanan Ojol Digodok Kemkomdigi, Tak Adopsi Skema 92:8, Fokus bagi Hasil Adil

LG UltraGear Native 1000Hz Segera Hadir di Indonesia

Impor Udang Vaname 120 Ton Lewat Kawasan Berikat, KKP Minta Industri Utamakan Produksi Lokal

D'Masiv Bikin Album Full Berbahasa Inggris, Beri Warna Baru bagi Massivers

Tapak Tumbuh Hadir di JIA Curated 2026, Ubah Jejak Bumi Menjadi Pengalaman Spasial

Waspada! Modus Paket Umrah di Bawah Rp26 Juta, Kemenhaj Ingatkan Jemaah Indikasi Penipuan

Dopamine Land Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Hiburan Multisensori

Festival Pacu Jalur 2026 di Kuansing Dibuka Plt Gubernur Riau, Ini Jadwal Lengkapnya!

FLONA 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Pamerkan Kekayaan Flora-Fauna Nusantara

PLN Berhasil Pulihkan Keseluruhan Sistem Kelistrikan Flores Pasca Gempa M7,7

Pertamina Tambah Fasilitas Dermaga Jetty di Terminal BBM Manggis Bali, Amankan Pasokan BBM Bali-Nusra

PT KAI dan KCIC Gelar Program EduTrain bagi 81 Anak Panti Asuhan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.