Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Berterima Kasih, Telah Rasakan Kesetaraan

📅 Sabtu, 11 Sep 2021, 08:55 WIB | Oleh:

Motivasi apa yang membuat sangat ingin kembali bermain?

Karena saya tahu, keluarga saya itu penuh kasih mereka takut saya minder. Saya waktu itu tidak berniat main dan bertanding meski tawaran sudah banyak. "Ayolah segera main" minta pengurus-pengurus yang di Riau. Saat saya main, adik-adik saya semuanya datang, ramai, karena saya 10 bersaudara. Pas main, saya lihat adik-adik di tribun. Saya pikir mereka mendukung, tapi ternyata mereka bilang malu melihat saya main lagi. Waktu itu mereka belum paham, bukan hanya mereka, kebanyakan di Indonesia untuk atlet difabel dipandang sebelah mata padahal prestasinya sama. Terus saya bilang ke mereka, bedanya saya apa, kan sama-sama manusia. Pertama kali turun, saya sudah dapat satu emas dan satu perak. Saya bawa medali itu ke rumah, di situ saya meyakinkan Bapak, ini dunia saya, saya nyaman di sini. Bapak saya melihat medali itu nggak ngomong, tapi medali pertama saya di difabel itu langsung dipajang dekat fotonya dia. Tapi dari ibu, saya dengar bapak ngomong, dalam kondisi begini saja dia masih bisa ngasih kita medali.

Apakah ada perbedaan bermain sebagai atlet difabel?

Tidak ada perbedaan, semuanya sama, dari target, latihan dari pertandingan. Yang saya salut dari mereka itu, saya juga ikut porprov, porseni saat masih normal, di pelatnas difabel ini saya merasakan tingkat difabel berbeda-beda, ada yang dari bawaan lahir dan kecelakaan seperti saya. Dari semua keterbatasan itu, latihan mereka selalu semangat. Saya juga bersemangat melebihi saat masih normal.

Siapa sosok yang berpengaruh terhadap pencapaian hingga saat ini?

Bapak saya, karena saya tidak ingin melihatnya kecewa. Mungkin kebanyakan anak perempaun dekat sama Ibunya, tapi saya yang paling saya kagumi Bapak saya. Beliau orangnya keras, dari kecil saya sudah dididik dengan keras dan disiplin. Saya pertama kali melihat air mata Bapak waktu saya kecelakaan. Dari situlah, bagaimana caranya bisa membuat Bapak bangga. Tapi waktu itu bukan sebagai atlet, tapi saat wisuda nanti. Itu yang membuat saya bertekad membuat beliau tidak pernah bersedih lagi. Apalagi Bapak itu merasa sangat tertekan ketika melihat saya patah, padahal lebih tertekan lagi saat melihat Bapak menangis. Orang yang kuat seperti itu, menangis melihat kondisi saya, padahal hati saya tidak serapuh itu waktu itu. Saya merasa saat itu mengecewakan beliau, saya ingin meyakinkan beliau bahwa saya tidak apa-apa.

Kapan pernah merasakan titik terendah dalam hidup?

Ketika saya kecelakaan mungkin saat itu merasakan titik terendah. Tapi setelah menjadi atlet lagi, itu saya rasakan di Asian Paragames 2018. Saat itu saya berlatih sangat keras, bangun duluan dari teman-teman. Saya berangkat sebelum mereka bangun dan pulang setelah mereka tidur. Itu yang saya lakukan selama setahun dengan target yang saya tuju, tiga emas. Untuk mix saya yakin, untuk double yakin, yang berat di single. Apalagi saat itu berlangsung di Indonesia, saya ingin menunjukkan kemampuan saya, tapi ternyata saya kalah di single. Saat itulah saya merasa terpuruk. Saya kalah saat itu karena grogi. Saya merasa tertekan.

Bagaimana cara menjaga performa agar terus berprestasi?

Saya sering mendapat penghargaan barengan dengan atlet normal, seperti Kevin, Greysia. Mereka bilang, kamu itu main tiga nomor, kalah di satu nomor terpuruk. Kami saja main di satu nomor belum tentu menang. Itu yang memotivasi saya. Di difabel ini, saya menjaga perfoma saya dengan tidak peduli pada omongan orang lain. Saat saya capek, saya isi dengan cara saya sendiri. Kalau di pertandingan saya merasa lebih ke mental dibanding fisik. Kalau di latihan jauh lebih keras secara fisik daripada di pertandingan.

Kembali kepada kondisi saat awal bermain dengan kondisi lutut tidak normal, bagaimana beradaptasi dengan itu?

Pastinya rasa sakit. Badminton kan pas main pergerakan harus lincah untuk mengejar shuttle cock. Berlari ke sana ke mari, maju mundur, pasti beban di lutut terasa banget kan. Tapi, lama-kelamaan juga saya terbiasa sampai sekarang ini.

Sejak Asean Para Games Singapore 2015 sampai sekarang terkadang sering berganti partner dan main tiga sektor sekaligus, apakah berpengaruh juga pada saat di lapangan?

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
  • Indonesia Kantongi 5 Medali Asian Games
    persaingan ketat, mungkinkah kontingen Indonesia bisa masuk 3 ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Nasional
KPK Ungkap Skor Integritas ...
Nasional
Mentan: Nilai Tukar Petani ...
Nasional
Bapanas Jamin Pasokan Beras...
Advertisement
Mentan: Nilai Tukar Petani Alami Peningkatan

Mentan: Nilai Tukar Petani Alami Peningkatan

21 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.