Pandemi Perlambat Vaksinasi Rutin Anak

Jumat, 16 Jul 2021, 05:42 WIB

JENEWA - Hampir 23 juta anak dilaporkan telah melewatkan vaksinasi rutin tahun lalu dikarenakan pandemi Covid-19. Menanggapi hal ini, Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperingatkan negara-negara tak seharusnya mengorbankan vaksinasi anak demi mempercepat vaksinasi Covid-19.

Berdasarkan data yang dirilis Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (15/7), menunjukkan bahwa hampir 23 juta anak di dunia melewatkan vaksinasi rutin tahun lalu karena pandemi Covid-19. Angka tersebut 3,7 juta lebih banyak dibandingkan pada 2019 dan merupakan yang tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir. Hal ini dikhawatirkan akan memicu wabah seperti campak, polio, dan penyakit lain yang dapat dicegah.

Ket. Foto: Vaksinasi Rutin l Seorang petugas medis menyuntikkan vaksin polio pada bayi di sebuah klinik di kamp pengungsi Bureij di Jalur Gaza, pada September tahun lalu. PBB pada Kamis (15/7) melaporkan bahwa sepanjang tahun lalu, sebanyak hampir 23 juta anak dilaporkan telah melewatkan vaksinasi rutin tahun lalu dikarenakan munculnya pandemi Covid-19. — Sumber: AFP/Mohammed ABED 

"Campak, salah satu penyakit paling menular di dunia, dapat berakibat fatal bagi anak-anak di bawah usia lima tahun, terutama di negara-negara Afrika dan Asia dengan sistem kesehatan yang lemah," demikian menurut WHO. "Sementara penyakit polio dapat melumpuhkan anak seumur hidup," imbuh badan internasional itu.

"Kesenjangan dalam cakupan vaksinasi global telah menciptakan sebuah 'badai sempurna', membuat lebih banyak anak rentan terhadap patogen menular seperti banyak negara yang melonggarkan pembatasan Covid-19," demikian kata WHO dan UNICEF dalam laporan tahunan itu.

Hal ini berpotensi bukan hanya mendorong penularan Covid-19, tetapi uga emungkinkan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin untuk mulai menyebar. "Kita perlu bertindak sekarang untuk melindungi anak-anak ini," ujar Kate O'Brien, direktur imunisasi WHO.

Menurun Tajam

Laporan PBB juga menyebutkan bahwa cakupan global untuk vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DTP) dilaporkan stabil pada angka 86 persen selama beberapa tahun terakhir, tetapi kemudian merosot ke angka 83 persen pada 2020.

"Ada peningkatan yang mengkhawatirkan pada anak-anak 'dosis nol', yakni mereka yang tidak mendapatkan vaksinasi apa pun, yang meningkat menjadi 17,1 juta anak tahun lalu dari yang sebelumnya 13,6 juta," ungkap Ephrem Lemango, kepala imunisasi UNICEF. "Mayoritas mereka adalah yang tinggal di negara yang dilanda perang, terpencil, atau daerah kumuh," imbuh dia.

Data juga menunjukkan sebanyak 66 negara tercatat menunda setidaknya satu kampanye imunisasi terhadap penyakit yang dapat dicegah.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, memperingatkan agar negara-negara tidak mengorbankan vaksinasi rutin anak demi mempercepat jalannya vaksinasi Covid-19.

"Beberapa wabah penyakit akan menjadi bencana besar bagi sistem kesehatan yang sudah berjuang melawan Covid-19, membuatnya lebih mendesak daripada sebelumnya untuk berinvestasi di vaksinasi anak-anak dan memastikan setiap anak mendapatkannya," pungkas dia. SB/DW/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.