• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Menyoal Fenomena Resesi Se...

Menyoal Fenomena Resesi Seks

Kamis, 14 Nov 2019, 01:00 WIB

Gejala resesi seks atau menurunnya hasrat kaum muda berhubungan seks mulai melanda dunia. Kaum muda di seluruh dunia kini berhubungan seks lebih sedikit dari generasi sebelumnya.

Kejadian ini memang terdengar aneh, tapi jika diamati secara menyeluruh fenomena ini sangat realistis dan berdampak serius, hingga dapat menyebabkan menurunnya populasi, bahkan perlambatan ekonomi, seperti dijelaskan laporan Orange County Register.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Jake Novak, analis politik dan ekonomi, menegaskan, resesi seks dan menurunnya jumlah perkawinan di AS disebabkan adanya teknologi dan peluang baru yang diberikan teknologi yang memicu orang dewasa muda lebih senang menyendiri ketimbang berhubungan dengan manusia lainnya secara langsung.

"Semuanya, mulai dari pornografi online hingga video game canggih, hingga media sosial digunakan banyak remaja sebagai pengganti kontak dengan manusia nyata, terutama untuk pria," urai Jake.

Hubungan sosial manusia cenderung berubah, dan fenomena ini sejalan dengan teori determinisme teknologi, yang beranggapan bahwa struktur yang ada di dalam masyarakat bergantung pada perkembangan teknologi danberiringan dengan perkembangannya. Jadi semakin berkembang teknologi yang ada di masyarakat, semakin canggih dan semakin banyak inovasi pula yang dibuat.

Teori ini menyatakan bahwa hubungan yang ada di antara masyarakat dan teknologi merupakan hubungan yang saling mempengaruhi, sehingga keberadaan dan perkembangan teknologi juga menentukan perkembangan dan perubahan sosial dan nilai-nilai budaya di dalam masyarakat.

Berkaitan dengan hal itu, mengutip laporan Institute for Creative Technologies yang dimuat Orange County Register, kini anak-anak modern AS yang mengerti teknologi cenderung memiliki masalah yang berkaitan dengan lawan jenis. Mereka bahkan lebih nyaman berinteraksi dengan orang virtual, daripada orang nyata. ima/R-1

Tergantikan Peran Teknologi

Salah satu orang virtual popular yang kerap digunakan adalah Alexam besutan Amazon. Manusia artificial intelligence (AI) itu sangat digemari kalangan milenial.

"Pada 2022, ada kemungkinan bahwa perangkat pribadi Anda akan tahu lebih banyak tentang keadaan emosi Anda daripada keluarga Anda sendiri," kata Annette Zimmermann, wakil presiden penelitian di perusahaan konsultan Gartner.

Oleh karenanya, tidak mengherankan jika survei yang dilakukan terhadap kaum milenial AS menemukan bahwa 65 persen mereka merasa tidak nyaman terlibat dengan seseorang secara langsung, dan 80 persen lebih suka bercakap-cakap secara digital.

Di beberapa negara, terutama Jepang dan Jerman, bahkan semakin banyak yang menggunakan robot untuk melakukan berbagai tugas, termasuk memberikan layanan seksual, sebagai alternatif dari pengganti manusia sesungguhnya.

Robot sex bisa dikatakan sebuah fenomena dunia modern yang ajaib, karena 100 persen hubungan fisik manusia bisa digantikan dengan sebuah boneka, yang memang disematkan dengan teknologi canggih, sehingga terkesan memiliki rasa dan kecocokan layaknya seorang pasangan ketika berinteraksi.

Sebuah perusahaan teknologi lokal di Shenzhen, Tiongkok bahkan menilai robot boneka asmara milik mereka dapat menggantikan hubungan intim manusia ke depan. Hal tersebut berkat kemampuan teknologi kecerdasan AI yang ditanamkan pada produk itu.

Robot asmara bernama Emma itu memiliki kemampuan yang dapat mendorong perilaku sang robot layaknya manusia. Emma dapat menyerap dan menyimpan informasi sebagai bekal merespons percakapan yang diharapkan sang pemilik.

Selain kemampuan percakapan interaktif, robot asmara itu juga dapat menolehkan kepala, menyampaikan ekspresi wajah, serta mengedipkan mata sealamiah mungkin sehingga menyerupai manusia. Seorang pakar di balik kehadiran robot-robot asmara itu bahkan berani mengklaim produk-produk ciptaan mereka bahkan telah menggantikan hubungan emosional dan fisik para pemilik robot itu, terlepas dari kontroversi kehadiran robot boneka asmara itu. ima/R-1

Ketidakmampuan secara Ekonomi

Selain AS, dampak dari perubahan kebiasaan yang sangat besar ada pada Jepang. Negeri Sakura itu kini sedang mengalami penurunan jumlah kelahiran, karena tingkat kesuburan sangat rendah.

Seperti Shota Suzuki, penjaga gedung di Tokyo, yang selepas bekerja lebih suka nongkrong dengan teman-temannya. Di usia ke-28, Suzuki tidak pernah memiliki hubungan romantis dan pesimistis akan mengalaminya.

Peter Ueda, peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo mengatakan tingkat keperawanan Jepang melonjak, kekeringan seks adalah berita buruk. "Akibat buruknya dalam kurun waktu 100 tahun, apabila tren ini terus terjadi, populasi di Jepang dapat berkurang setengahnya," ujarnya.
Penurunan angka kelahiran di Jepang sering dikaitkan dengan jam kerja yang panjang dan terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk online. Namun Ueda mengatakan ia mencurigai kerawanan keuangan dan pekerjaan adalah pemicu utama.

"Dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki pekerjaan tetap, mereka yang memiliki pekerjaan paruh waktu atau sementara, empat kali lebih mungkin tidak berpengalaman secara heteroseksual pada usia 25 hingga 39 tahun, dan mereka yang menganggur delapan kali lebih mungkin," katanya.

Para pekerja muda usia produktif juga merasa tidak menghasilkan cukup uang untuk menikah karena hanya cukup untuk menghidupi diri sendiri. Bahkan ada tren merasa dirugikan apabila menikah. Para peneliti pun memperingatkan jika masalah ini bisa menyasar AS selanjutnya.

Berdasarkan laporan dari Biro Sensus AS pada 2018, mencatat bahwa keamanan ekonomi merupakan prioritas tinggi ketika seseorang ingin membangun pernikahan atau hubungan serius yang dilakukan. Hal ini menunjukan kalau banyak orang di AS kini merasa cemas untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan lawan jenis karena mereka merasa harus stabil secara ekonomi terlebih dahulu.

Padahal bila angka pernikahan dan kelahiran anak rendah dapat menyebabkan pelemahan terhadap ekonomi secara keseluruhan, yang pada akhirnya akan membuat orang semakin sulit untuk bisa stabil secara ekonomi.

Artinya bila angka pernikahan dan kelahiran rendah, maka angka penjualan berbagai produk juga akan mengalami penurunan. Sederhana saja mulai dari penjualan pakaian, bahan pangan, hingga susu dan popok bayi serta barang-barang lain akan mengalami penurunan.

Penurunan penjualan akan menyebabkan penurunan pendapatan perusahaan. Penurunan pendapatan perusahaan menyebabkan PHK, dan PHK menyebabkan banyak pengangguran. Pengangguran tidak dapat membeli banyak produk karena mereka tidak memiliki pendapatan, menyebabkan daya beli produk usaha menjadi lesu dan begitulah seterusnya membentuk sebuah siklus kerusakan ekonomi. ima/R-1

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.