Gombyang Manyung Khas Indramayu
Jumat, 02 Agu 2019, 01:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: koran jakarta/teguh rahardjo
Ada dua kuliner khas asal Indramayu yang menjadi kuliner ikonik. Pertama Pedesan Entog dan kedua adalah olahan kepala ikan yang disebut Pindang Gombyang Manyung.
Lokasinya yang berada dipesisir pantai utara atau Pantura memang wajar jika olahan ikan menjadi menu yang banyak disajikan di daerah ini. Mulai warung pinggir jalan hingga restoran , seafood adalah makanan sajian utamanya.
Jika menikmati ikan bakar atau sajian seafood pada umumnya mungkin dilidah rasanya biasa saja dengan sajian seafood di daerah lain, kalau tidak digoreng ya bakar. Yang membedakan tentu bumbu dan cara mengolah, dan tidak lupa pula kondisi ikannya.
Karena berada di pinggiran pantai, ikan yang diolah tentunya jauh lebih segar. Meskipun itu adalah limbah ikan. Limbah ikan yang dimaksud adalah kepala ikan Manyung atau ikan yang sering dijadikan bahan untuk membuat ikan asin Jambal Roti.
Di toko, ikan asin dengan harga relatif mahal itu memang tidak pernah dijual utuh dengan kepala. Rupanya kepala ikan jambal ini memang dibuang. Namun yang tadinya dibuang dan menjadi limbah, kini menjadi kuliner khas dan favorit pelancong yang berkunjung ke Dermayon.
Sejarah Kuliner
Sekitar tahun 2006 beberapa penjual makanan mulai memanfaatkan kepala ikan manyung untuk diolah jadi makanan enak. Kepala ikan dibumbui pindang sehingga menu ini dikenal dengan nama Pindang Gombyang.
Nama gombyang dalam bahasa setempat berarti ukurannya besar. Kepala ikan manyung yang disajikan memang besar, sehingga harus dibelah. Satu porsi ikan manyung yang disjaikan adalah setengah dari kepala ikannya.
Kepala ikan manyung perlu dikukus atau direbus sebelum dibumbui. Setelah itu, kepala ikan manyung diberi bumbu utama seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, asam Jawa, tomat, dan cabe rawit. Mirip dengan kepala kakap pada sajian kuliner di masakan Rumah Makan Padang. Tetapi tentunya ada rasa yang berbeda.

Dari catatan disejumlah website lokal Indramayu dan cerita kecil dari pelayan rumah makan Panorama, Karangsong Indramayu, disebutkan jika Gombyang Manyung ini muncul karena banyaknya limbah kepala ikan jambal roti yang buang atau dihargai sangat murah, hanya 2.500 rupiah per kilogramnya.
Rumah makan Panorama inilah asal muasal Gimbyang Manyung mulai menjadi kuliener yang tidak bisa dilewatkan kalau melancong ke Pantai Karangsong. Ternyata dibalik populernya kuliner pindang khas Indramayu ini adalah Carmiah, warga setempat, yang kemudian mengolah kepala ikan jambal roti menjadi gombyang.
Pada awal dibuat, tentunya hanya disantap oleh sendiri dan keluarga saja. Menjual menu itu awalnya juga sulit, karena dianggap aneh, kepala ikan dibikin pindang.
Dagingnya pun tidak seberapa banyak. Namun dengan tekun dan terus mengolah dengan bumbu yang main lezat, gombyang pun kini semakin disukai. Bahkan disekitar rumah makan Panorama, banyaj muncul rumah makan yang menyajikan gombyang.
Rasa yang Gurih
Untuk bisa menikmati Gombyang Manyung di Rumah Makan Panorama, perlu kesabaarn ekstra. Apalagi jika akhir pekan, ratusan pengunjung, bukan hanya warga Indramayu yang harus rela antri untuk menikmatinya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!