Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pengembangan Riset dan Teknologi Harus Terpadu

📅 Sabtu, 11 Agu 2018, 06:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pengembangan Riset dan Teknologi Harus Terpadu Doc: istimewa

JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, mengatakan anggaran riset belum berdampak besar untuk kemajuan bangsa.

Sebab, setelah dianalisis, anggaran sebesar 24,9 triliun rupiah ternyata hanya 10,9 triliun rupiah yang menghasilkan riset dan pengembangan. "Lebih dari setengahnya yakni 14 triliun rupiah belum menghasilkan output riset yang maksimal.

Itulah sebabnya, Bapak Presiden menekankan bahwa anggaran risetnya tidak boleh lagi 'diecer'," kata Nasir, dalam keterangan tertulisnya saat puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Kota Pekanbaru, Jumat (10/8).

Presiden Joko Widodo, kata Nasir, pengembangan riset teknologi agar lebih terpadu dan efektif. Karena itu, Presiden mengingatkan kepada para menteri dan kepala lembaga litbang untuk tidak "mengecer" anggaran riset pada APBN 2019.

Tujuannya agar semua pihak lintas kementerian dan lembaga bisa fokus mengarah, dan hasilnya benar-benar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Oleh karena itu, menjadi sangat strategis keberadaan Perpres No 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2017-2045.

RIRN yang dirancang secara holistik, lintas institusi, lintas ranah dan berdasarkan fokus riset, adalah pedoman dan peta jalan riset dan pengembangan iptek dan inovasi jangka menengah dan panjang yang mengintegrasikan dan mensinergikan program riset setiap kementerian dan lembaga, pemerintah daerah dan masyarakat/komunitas peneliti.

Persoalan klasik pengembangan riset dan inovasi Indonesia, lanjutnya, adalah masih terbatasnya alokasi anggaran untuk belanja riset dan inovasi.

Hingga saat ini, anggaran riset nasional hanya sebesar 0,25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, sedangkan Malaysia sudah mencapai 1,8 persen, Vietnam 1,1 persen, dan Singapura mencapai 2,8 persen.

UNESCO bahkan merekomendasikan anggaran belanja riset suatu negara idealnya tidak kurang dari dua persen dari PDB. Kondisi ini akan terus benahi dengan menggagas program prioritas riset dan sinkronisasi kebijakan yang terkait dengan pengembangan iptek dan inovasi nasional.

"Kita tidak boleh menyerah hanya karena alokasi anggaran riset yang masih terbatas, namun tetap harus digunakan secara efektif dan efisien. Untuk itu, fokus riset dan penerapan Iptek dan Inovasi harus memiliki prioritas, arah dan sasaran yang jelas," katanya.

Serahkan Penghargaan

Dalam kesempatan tersebut, Menristekdikti juga menyerahkan penghargaan kepada pemenang Anugerah Iptek dan Inovasi 2018 untuk delapan kategori.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah that's right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

FK UB Tingkatkan Kapasitas Nakes Kendalikan Resistensi Antimikroba

28 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
FK UB Tingkatkan Kapasitas ...
Daerah
Lewat Gebyar Pajak 2026, Pe...
Daerah
Wali Kota Bandung Dorong So...
Megapolitan
Dukung Pelestarian Bahasa L...
Advertisement
Makin Tertekan, INACA Desak Pajak Sparepart Pesawat Juga Bisa Ditekan jadi 0%

Makin Tertekan, INACA Desak Pajak Sparepart Pesawat Juga Bisa Ditekan jadi 0%

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.