Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Yogya Wacanakan Bansos Seumur Hidup bagi Lansia Miskin, Pertimbangkan 4 Hal Ini Dulu

📅 Jumat, 09 Jun 2023, 11:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Yogya Wacanakan Bansos Seumur Hidup bagi Lansia Miskin, Pertimbangkan 4 Hal Ini Dulu Doc: ANTARA/Noveradika
Ket. Pasangan lansia di Jalan Sriwedari, Yogyakarta. Susahnya akses kesehatan bagi warga miskin membuat mereka harus bertahan dari sakit yang dideritanya, salah satunya dengan melakukan pengobatan tradisional.

Yanu Endar Prasetyo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi yang memiliki proporsi lanjut usia (lansia) - yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas - tertinggi di Indonesia, atau sekitar 16,69% dari total lansia nasional. Yogyakarta juga merupakan provinsi di Pulau Jawa dengan tingkat kemiskinan paling tinggi, yakni mencapai 11,49% dari total penduduk. Angka ini naik dari periode Maret 2022 yang sebesar 11,34%.

Gubernur Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, awal tahun ini mewacanakan akan memberikan bantuan sosial seumur hidup bagi lansia miskin berusia 60 tahun ke atas sebagai upaya menekan tingkat kemiskinan di wilayahnya. Gubernur berencana melakukan uji coba skema tersebut di dua Kabupaten, yakni Gunung Kidul dan Kulon Progo.

Jumlah penduduk lansia secara nasional memang terus meningkat dan diproyeksikan akan mencapai hampir seperlima dari total penduduk Indonesia pada 2045. Lansia termasuk kategori penduduk yang paling rentan, karena biasanya mereka memiliki ketidakstabilan kesehatan, dan seringkali finansial, serta membutuhkan pendampingan.

Data statistik menunjukkan lansia menghadapi beberapa tantangan berat, termasuk di antaranya adalah risiko tinggi untuk mengalami kerentanan ekonomi dan berada dalam decent work deficit (tidak adanya kesempatan kerja yang cukup), tidak memadainya perlindungan sosial, penyangkalan hak atas pekerjaan, dan terbatas dalam interaksi sosial.

Dari jumlah lansia di Indonesia yang masih bekerja, 86,12% bekerja di sektor informal, 75,59% merupakan pekerja rentan, dan 19,15% menjadi pekerja tidak tetap. Secara umum, jumlah lansia perempuan (51,81%) lebih banyak daripada laki-laki (48,19%) dan total jumlah lansia lebih banyak terdapat di perkotaan (56,05%) dibanding dengan di pedesaan (43,95%).

Mirisnya, sebanyak 41,11% lansia tinggal di rumah tangga dengan tingkat ekonomi 40% terbawah.

Wacana bansos seumur hidup untuk lansia di Yogyakarta tentu saja sangat baik dan perlu didukung oleh semua pihak. Namun, ada beberapa langkah dan strategi yang harus lebih dulu dipertimbangkan oleh pemerintah daerah agar kebijakan ini dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, khususnya dalam mempertimbangkan faktor cakupan penerima manfaat (coverage), bentuk, nilai manfaat dan kelayakan bansos (benefits), mekanisme penyaluran bansos (delivery), dan aspek keberlanjutan pembiayaannya (financing).

1. Cakupan penerima manfaat

Untuk memastikan distribusi bansos tepat sasaran, diperlukan pemilahan data lansia miskin yang rinci namun menyeluruh. Lansia umumnya memiliki beberapa kategori, baik menurut BPS maupun Kemenkes. Dari segi umur, ada lansia muda (60-69 tahun) yang jumlahnya lebih dari separuh penduduk lansia di Yogyakarta, ada lansia madya (70-79 tahun), dan ada lansia tua (80 tahun dan lebih). Pemda perlu memastikan lansia pada kelompok usia mana yang menjadi prioritas penerima manfaat Bansos seumur hidup.

Idealnya, tentu seluruh lansia dapat menjadi penerima manfaat bansos, namun kemampuan fiskal akan menjadi trade-off yang perlu dipertimbangkan dengan matang.

Selain segi umur, ada pula aspek status kemiskinan. Berdasarkan data Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah lansia miskin tercatat sebanyak 28.428 orang. Jika dikerucutkan lagi, sebanyak 26.525 lansia di Yogyakarta tinggal dengan keluarga atau hidup sendiri di rumah, dan 1.803 lansia tinggal di panti milik pemerintah maupun lembaga kesejahteraan sosial di tingkat kabupaten/kota.

Dari total lansia miskin tersebut, sebagian ada yang telah memperoleh bantuan melalui program keluarga harapan (PKH) dan ada yang telah diakomodasi melalui program di panti atau balai. Dengan mengompilasi data berdasarkan kelompok umur, status tinggal (sekitar 37,09% lansia di Yogyakarta tinggal sebagai extended family dalam 3 generasi), dan status kemiskinan, maka pemerintah daerah akan dapat lebih mudah mengerucutkan sasaran penerima manfaat sehingga distribusi bansos nantinya bisa semakin presisi.

2. Bentuk dan besaran manfaat bansos

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Daerah
Pemprov Jawa Timur Catat Po...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.