Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Vaksin Malaria adalah Lompatan Besar tapi Inovasi Tak Boleh Berhenti

📅 Selasa, 02 Mei 2023, 13:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Vaksin Malaria adalah Lompatan Besar tapi Inovasi Tak Boleh Berhenti Doc: The Conversation/AFP via Getty Images/Brian Ongoro
Ket. Seorang pekerja kesehatan menyiapkan sebuah vaksin malaria di Yala, Kenya.

Jaishree Raman, National Institute for Communicable Diseases dan Shüné Oliver, National Institute for Communicable Diseases

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengambil langkah bersejarah ketika pada 2021 merekomendasikan penggunaan vaksin malaria untuk anak kecil.

Pengumuman tersebut menandai satu pencapaian besar. Pengembangan vaksin malaria pertama berhasil melawan malaria falciparum, bentuk malaria paling mematikan dan yang paling umum di Afrika sub-Sahara.

Penyerapan vaksin secara luas dapat mencegah ribuan kematian di wilayah tersebut. Menurut Laporan Malaria Dunia 2020, lebih dari 250.000 anak di bawah usia lima tahun meninggal karena malaria di Afrika pada 2019. Laporan itu adalah satu statistik sangat suram untuk penyakit yang dapat diobati dan dicegah.

Pengembangan vaksin ini (disebut RTS,S) telah memakan waktu lebih dari 30 tahun. Ini adalah puncak dari kerja para peneliti dari Walter Reed Army Institute of Research, bekerja sama dengan perusahaan farmasi GlaxoSmithKline dan organisasi kesehatan global PATH.

Produksi suatu vaksin malaria yang efektif merupakan tantangan karena parasit malaria dapat bersembunyi dari sistem kekebalan tubuh manusia. Selain itu, berbagai bentuk parasit malaria menginfeksi hati dan sel darah merah.

Uji coba vaksin dimulai pada 2019 di tiga negara Afrika: Ghana, Kenya dan Malawi. Hasilnya, vaksin RTS,S aman pada anak kecil, sehingga mengurangi rawat inap dan kematian pada anak yang divaksinasi lebih dari 70%.

Riset ini juga menunjukkan bahwa program vaksinasi malaria bisa dilakukan dalam konteks pedesaan Afrika.

Studi percontohan (pilot study) ini juga menunjukkan bahwa vaksin dapat menjangkau anak-anak yang tidak terlindungi dengan metode lain seperti kelambu di lokasi penelitian. Ini memberikan dukungan tambahan untuk seruan penggunaan vaksin secara luas di daerah yang terkena dampak malaria.

Sejak 2015 jumlah kasus malaria mendatar atau meningkat. Ini mengikuti masa 15 tahun yang jumlahnya terus menurun.

Penambahan vaksin RTS,S ke perangkat pengendalian dan eliminasi malaria dapat mengembalikan upaya global ke jalurnya. Namun, penambahan itu tidak bisa dilihat sebagai satu-satunya cara atau jalan terbaik yang dibutuhkan untuk mencapai eliminasi malaria.

Bukan solusi lengkap

Vaksin ini memiliki beberapa kekurangan.

Pertama, dalam bentuknya yang sekarang, vaksin ini hanya bekerja sangat efektif pada anak-anak yang sangat muda, berusia antara 5-17 bulan. Anak-anak ini harus diberikan tiga dosis vaksin, setidaknya dengan jarak satu bulan. Dosis penguat keempat direkomendasikan pada 18 bulan agar vaksin bekerja optimal.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.