Kawal Pemilu Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Pencemaran Udara I Harus Ada Komitmen Politik untuk Mengurangi Sumber Polusi

Udara Jakarta Kembali Jadi Paling Buruk di Antara Kota-kota Besar Dunia

Foto : KORAN JAKARTA/WACHYU AP

UDARA JAKARTA TIDAK SEHAT, SAATNYA BERALIH KE ENERGI RAMAH LINGKUNGAN I Pemandangan gedung bertingkat yang diselimuti asap polusi di Jakarta, beberapa waktu lalu. Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono mengatakan telah menyiapkan strategi untuk mengatasi permasalahan polusi udara di Jakarta yaitu Pemprov DKI Jakarta akan menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain itu pemerintah juga harus mulai menghentikan operasional pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang polutif dan segera beralih ke energi bersih dan ramah lingkungan.

A   A   A   Pengaturan Font

Adapun sumber polusi udara terbesar di Jakarta berasal dari kendaraan bermotor dengan kontribusi hampir 67 persen.

Pakar lingkungan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Warmadewanthi, yang diminta pendapatnya, mengatakan tingkat penggunaan kendaraan pribadi dan anomali cuaca merupakan sumber utama dari polusi udara yang buruk di Jakarta.

"Memang seperti diketahui dengan jumlah penduduk yang besar dan dimasuki oleh warga di sekitar Jakarta yang bekerja di sana, tingkat penggunaan kendaraan pribadi di Ibu Kota sangat tinggi," kata Warmadewanthi.

Zat-zat yang keluar dari pembuangan kendaraan menjadi sumber utama polusi di Jakarta. Sebab itu, solusinya adalah beralih ke transportasi massal. Pemerintah harus menyempurnakan dan memperluas jaringan transportasi massal yang sudah ada sehingga menjangkau lebih banyak wilayah.

"LRT dan MRT sudah baik dan modern, tinggal diperluas jangkauannya beserta jaringan feeder-nya. Selain itu yang perlu dibenahi adalah budaya masyarakat Jakarta dan penduduk di sekitarnya agar mau beralih ke transportasi massal," katanya.
Halaman Selanjutnya....


Redaktur : Vitto Budi
Penulis : Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Komentar

Komentar
()

Top