Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Neraca Perdagangan | Agustus 2021, Neraca Perdagangan Surplus 4,74 Miliar Dollar AS

Transformasi Ekspor Harus Dipacu

Foto : ISTIMEWA

Presiden RI Joko Widodo

A   A   A   Pengaturan Font

Indonesia harus berani mengubah struktur ekonomi yang selama ini berbasis komoditas untuk masuk ke industrialisasi, mengingat era kejayaan komoditas bahan mentah sudah berakhir.

JAKARTA - Indonesia sepertinya belum mampu keluar dari jebakan eksportir bahan mentah. Indikasi tersebut terlihat di tengah lonjakan harga komoditas dunia, seperti kelapa sawit dan batu bara, kinerja ekspor Indonesia melesat hingga membuat neraca perdagangan surplus.

Karena itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin agar Indonesia dapat keluar dari jebakan negara pengekspor bahan mentah secepatnnya. "Strategi bisnis besar negara adalah keluar secepatnya dari jebakan pengekspor bahan mentah, melepaskan ketergantungan pada produk-produk bahan impor dengan mempercepat revitalisasi industri pengolahan," kata Presiden Jokowi, di Karawang New Industrial City, Jawa Barat, Rabu (15/9).

Presiden menegaskan era kejayaan komoditas bahan mentah sudah berakhir. Untuk itu, Indonesia harus berani mengubah struktur ekonomi yang selama ini berbasis komoditas untuk masuk ke industrialisasi menjadi negara industri yang kuat dengan berbasis pada pengembangan inovasi teknologi.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir neraca perdagangan pada Agustus 2021 mengalami surplus sebesar 4,74 miliar dollar AS dengan nilai ekspor 21,42 miliar dollar AS dan impor 16,68 miliar dollar AS.

"Kalau kita perhatikan bahwa surplus di Agustus ini membukukan surplus beruntun selama 16 bulan terakhir. Ini capaian yang bagus, sehingga harapan kita untuk pemulihan ekonomi berjalan sesuai harapan," kata Kepala BPS, Margo Yuwono, saat menggelar konferensi pers secara virtual, Rabu (15/9).
Halaman Selanjutnya....


Redaktur : Muchamad Ismail
Penulis : Antara, Fredrikus Wolgabrink Sabini

Komentar

Komentar
()

Top