Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

-

Toeti Heraty Noerhadi Roosseno

📅 Sabtu, 30 Sep 2017, 05:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Toeti Heraty Noerhadi Roosseno Doc: KORAN JAKARTA/Muhaimin A. Untung

Semasa muda hingga kini, Toeti selalu merasakan "keresahan" dan berusaha melepaskan diri dari kemapanan. Penyair perempuan yang juga filsuf ini mengaku sejak kecil sudah senang membaca dan menulis serta tak pernah berhenti untuk belajar, baik secara formal maupun melalui pergaulannya di bidang seni dan budaya.

Untuk mengetahui seperti apa sepak terjang kekaryaan dan perjuangannya sehingga pada usia senja dia menerima Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma, wartawan Koran Jakarta, Frans Ekodhanto, berkesempatan mewawancarai Toeti Heraty Noerhadi Roosseno, di Jakarta, baru-baru ini. Berikut petikan selengkapnya.

Kenapa Anda memilih jalur kesenian, kebudayaan, dan filsafat?

Sebetulnya saya tidak memilih, saya hanya menjalani kuliah di Fakultas Kedokteran karena di keluarga ada tradisi mendalami ilmu eksakta. Ayah saya ahli beton bertulang dan konstruksi besi, jadi kuat dalam matematika dan mekanika. Itu dipertahankan dalam keluarga.

Mengambil Fakultas Kedokteran sebetulnya bukan pilihan mutlak saya. Karena saya juga unggul dalam matematika, tapi saya senang sekali membaca. Sebetulnya, matematika dan membaca itu dua hal yang berbeda. Yang satu ke angka, yang ini ke bahasa. Berarti dari awal sudah ada kontradiksi.

Hal itu membuat sulit untuk memilih. Akhirnya mengambil kedokteran, bukan pilihan saya, tapi keinginan ibu saya. Lantas, saya jalani sampai empat tahun lebih. Setelah itu, saya menyadari bahwa ini bukan yang saya inginkan. Saya tahu ini bukan yang saya inginkan, tetapi saya tidak tahu apa yang saya inginkan.

Lalu saya berpikir, kalau saya sudah suntuk dengan yang sifatnya tubuh karena belajar tentang tubuh, lalu praktikum anatomi, memotong-motong tubuh. Lantas di mana jiwanya? Akhirnya, saya berpikir harus mengambil sesuatu yang terkait dengan jiwa. Akan tetapi, ilmu psikologi belum ada di Indonesia pada waktu itu. Kemudian, saya terpaksa harus ke luar negeri, ke Amsterdam, Belanda, ambil jurusan psikologi sampai lulus sarjana muda.

Saat itu, saya mendapatkan dua gelar sarjana muda, yaitu kedokteran di Jakarta dan psikologi di Amsterdam. Sarjana mudanya kembar dan saya melahirkan anak kembar. Pada saat itu, suami sudah selesai studi jurusan biologi di Belanda. Lantas, kami pindah ke Bandung karena di ITB Bandung, suami menjadi ketua jurusan Botani.

Menjadi dosen psikologi di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, satu-satunya yang sipil. Lainnya militer sebab mereka dari Pusat Psikologi TNI Angkatan Darat di Bandung. Saat itu saya kebetulan sering komunikasi dengan seniman ketika di Bandung. Saya merasa kehidupan sebagai dosen, istri dosen, ibu rumah tangga dengan empat anak, saya merasa ada yang kurang. Saya resah, karena itu saya merasa harus mengambil pilihan lain.

Saya tahu apa yang saya tidak mau. Situasinya terlalu mapan dan harus meninggalkan Bandung ke Jakarta untuk membangun kehidupan baru. Kehidupan apa itu, saya belum tahu. Lalu, saya mengadakan negosiasi dengan suami.

Saya mengatakan, sekarang giliran saya untuk membuka pintu dan jendela luas, untuk berkembang. Sebab kamu (katanya kepada suami), sudah sempat mengambil gelar doktor, studi ke Singapura, Amerika Serikat (agak lama meninggalkan keluarga) maka sekarang waktunya gantian. Lalu saya pindah ke Jakarta.

KORAN JAKARTA/MUHAEMIN A UNTUNG

Lantas apa respons suami pada saat itu?

Suami pun bertanya kalau saya tidak setuju bagaimana? Maka saya katakan ya, sudah bubar riwayat kita sebab ini point of no return. Jadi, saya betul-betul tahu apa yang saya tidak mau, yaitu tidak mau tinggal di Bandung. Menurut saya, Bandung dunianya sempit, jadi saya mau pindah ke Jakarta.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Presiden Prabowo Tinjau Pelaksanaan Sekolah Rakyat di Bali

Presiden Prabowo Tinjau Pelaksanaan Sekolah Rakyat di Bali

07 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.