Kawal Pemilu Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Masa Depan Bangsa I PLN Jangan Bebankan Kelebihan Pasokan Listrik ke Masyarakat

RI Harus Mandiri Energi dan Pangan agar Bisa Lebih Maju

Foto : BAY ISMOYO / AFP

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP TERUS BEROPERASI I Rumah-rumah di desa tercemar polusi asap yang mengepul dari cerobong di PLTU Suralaya, Cilegon, Banten. Cerobong asap menyemburkan asap berbahaya ke udara dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Indonesia sudah ikut berpartisipasi pada konferensi perubahan iklim (COP) yang digagas PBB sejak pertama, tetapi faktanya terus menambah karbon dengan membangun beberapa PLTU.

A   A   A   Pengaturan Font

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, yang diminta pendapatnya mengatakan sulitnya Indonesia meraih kemandirian pangan dan energi karena mental doyan impor dari birokrat yang ditunggangi oleh para pemburu rente (rent seeker).

"Ada keuntungan dari setiap kilogram komoditas yang diimpor. Akibatnya tidak ada good will untuk mewujudkan kemandirian pangan," kata Esther.

Kemandirian pangan bahkan sudah disarankan para pakar belasan tahun lalu, namun bukannya membangun produksi pangan sendiri, malah dimatikan dengan impor.

FAO sendiri menyatakan pada 2023 produksi pangan dunia akan turun dan populasi dunia makin naik, terutama di negara sedang berkembang. Indonesia setiap tahun kehilangan devisa 15 miliar dollar AS untuk impor pangan. Masalah makin pelik karena harga pangan dunia setiap tahun terus naik, sedangkan cadangan devisa jumlahnya tidak banyak untuk mengimpor kebutuhan penduduk yang jumlahnya 270 juta jiwa.

Dari sektor energi, Kepala Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Tata Mustasya, mengatakan langkah pemerintah yang masih mengandalkan energi kotor batu bara untuk kelistrikan menyandera upaya transisi energi. Padahal, RI punya banyak sumber energi hijau yang bisa diandalkan untuk mewujudkan kemandirian energi.
Halaman Selanjutnya....


Redaktur : Vitto Budi
Penulis : Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S, Eko S

Komentar

Komentar
()

Top