Pompeii, Kota Resor yang Terkubur Material Gunung Api
📅 Jumat, 14 Jul 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Tiziana FABI / AFP
Pompeii adalah kota resor yang berkembang pesat di selatan Roma kuno. Lokasinya berada di sepanjang pantai Italia di bawah bayang-bayang gunung berapi aktif Gunung Vesuvius. Saat gunung itu meletus pada 79 Masehi, seketika itu Kota Pompeii terkubur abu vulkanik tebal.
Abu terbang dari puncak Gunung Vesuvius ke seluruh negeri seperti banjir dan menyelimuti kota dalam, tulis seorang saksi. "Kegelapan… seperti hitamnya kamar-kamar yang tertutup dan tidak terang," kata saksi itu dikutip dari lamanhistory.com.
Korbannya tidak tanggung-tanggung. Diperkirakan sekitar dua ribu orang meninggal dan kota itu ditinggalkan selama hampir bertahun-tahun. Sekelompok penjelajah berhasil menemukan kembali situs tersebut pada 1748. Temuan dari balik lapisan tanah ini, membuka tabir kehidupan masa lalu.
Di bawah lapisan abu dan puing yang tebal, Kota Pompeii yang sebagian besar terkubur, ditemukan dalam kondisi masih utuh. Dari artefak dan kerangka yang tertinggal di kota terkubur itu, mengajarkan banyak hal tentang kehidupan sehari-hari di dunia kuno.
Terletak di pantai barat Italia di sepanjang pantai Teluk Napoli di selatan Kota Napoli modern, para pemukim Yunani kuno menjadikan Pompeii bagian dari lingkungan Helenistik pada abad ke-8 SM.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jauh sebelum letusan Gunung Vesuvius, Pompeii jatuh di bawah pengaruh kekuasaan Roma pada abad ke-2 SM. Sejak saat itu Teluk Napoli menjadi daya tarik bagi wisatawan kaya dari Roma untuk menikmati garis pantai Campania.
Pada pergantian abad pertama Masehi, Kota Pompeii, yang terletak sekitar lima mil dari Gunung Vesuvius, merupakan tempat peristirahatan yang berkembang pesat bagi warga Kekaisaran Romawi yang paling terkemuka. Rumah-rumah elegan dan vila-vila rumit banyak yang dipenuhi dengan karya seni indah dan air mancur berkilauan berjajar di jalan beraspal.
Dari temuan di bawah lapisan abu vulkanik ini, sebagian besar kekayaan kota ini berasal dari tanah yang subur kawasan tersebut merupakan pusat perkebunan zaitun, anggur, dan tanaman lainnya. Anggur dari Pompeii dinikmati di beberapa rumah paling modis di Roma.
Sebaiknya Anda baca juga:
Turis, penduduk kota, dan orang yang diperbudak, keluar masuk pabrik kecil dan toko pengrajin, bar, kafe, rumah bordil, dan pemandian. Orang-orang berkumpul di arena berkapasitas 20.000 kursi dan bersantai di lapangan terbuka dan pasar. Menjelang letusan, para ahli memperkirakan populasinya sekitar 12.000 orang.
Saat ini Gunung Vesuvius belum pernah meletus sejak tahun 1944, namun masih menjadi salah satu gunung berapi paling berbahaya di dunia. Para ahli percaya bahwa letusan dahsyat lainnya akan terjadi kapan saja bencana yang hampir tak terduga, karena hampir 3 juta orang tinggal dalam jarak 20 mil dari kawah gunung berapi.
Gunung Vesuvius
Gunung Vesuvius tentu saja tidak terbentuk dalam semalam. Vesuvius adalah bagian dari busur vulkanik Campanian yang membentang di sepanjang konvergensi lempeng tektonik Afrika dan Eurasia di semenanjung Italia telah meletus selama ribuan tahun.
Letusan dahsyatnya yang tidak biasa di masa lalu (sekarang dikenal sebagai "letusan Avellino") memuntahkan jutaan ton lava, abu, dan bebatuan super panas sekitar 22 mil ke langit. Bencana di Zaman Perunggu itu menghancurkan hampir setiap desa, rumah, dan pertanian dalam jarak 15 mil dari gunung.
Penduduk desa di sekitar gunung berapi telah lama belajar untuk hidup dengan Gunung Vesuvius yang amat aktif. Bencana alam berupa gempa besar melanda wilayah Campania yang terjadi pada 63 M, membuat para ilmuwan saat ini terus memperingatkan akan bencana yang akan datang. Apalagi saat ini orang-orang masih berbondong-bondong ke pantai Teluk Napoli, dan Pompeii pun semakin ramai setiap tahunnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!