Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Polusi Cahaya Meningkatkan Risiko Alzheimer pada Kaum Muda

📅 Minggu, 15 Sep 2024, 15:00 WIB | Oleh:
Polusi Cahaya Meningkatkan Risiko Alzheimer pada Kaum Muda Doc: Istimewa
Ket. Ilustrasi

Sebuah studi terbaru mengungkapkan, paparan cahaya malam hari di luar ruangan berkaitan eray dengan demensia untuk orang dewasa di bawah 65 tahun. Di dunia modern ini, meningkatnya penggunaan cahaya buatan luar ruangan yang terang telah meningkatkan produktivitas, keamanan, dan kenyamanan, namun paparan cahaya yang berlebihan dapat mengganggu ritme sirkadian dan tidur, yang pada gilirannya dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental.

Penelitian baru yang diterbitkan di Frontiers in Neuroscience menemukan bahwa cahaya buatan yang berlebihan di malam hari, atau "polusi cahaya", dapat menyebabkan lebih banyak orang terkena penyakit Alzheimer, terutama orang dewasa yang berusia di bawah 65 tahun.

"Penelitian lain menunjukkan bahwa polusi cahaya dikaitkan dengan berbagai gangguan dan penyakit, seperti masalah tidur, obesitas, dan bahkan kanker," kata penulis utama penelitian ini, Robin Voigt-Zuwala, PhD, seorang profesor kedokteran dan direktur Laboratorium Penelitian Ritme Sirkadian di Rush University Medical Center di Chicago, dikutip dari Everyday Health, Rabu (11/9).

"Studi kami menemukan bahwa paparan cahaya di malam hari juga dapat merusak kesehatan otak, terutama bagi individu dengan faktor risiko penyakit Alzheimer, seperti riwayat keluarga, genotipe APOE4+ (faktor risiko genetik terkuat untuk penyakit Alzheimer), atau penyakit komorbiditas yang meningkatkan risiko, seperti penyakit kardiovaskular," tambahnya.

Dengan menggunakan data yang diperoleh dari satelit, penulis studi menghitung intensitas cahaya malam hari rata-rata menurut negara bagian dan wilayah (tidak termasuk Hawaii dan Alaska) antara tahun 2012 dan 2018. Dengan menggunakan data Medicare, mereka menentukan keberadaan penyakit Alzheimer di berbagai wilayah dan membandingkan prevalensi penyakit dengan tingkat intensitas cahaya di setiap wilayah. Mereka juga memasukkan data medis tentang variabel yang diketahui atau diyakini sebagai faktor risiko Alzheimer.

Voigt-Zuwala dan rekan-rekannya menemukan bahwa prevalensi Alzheimer pada orang berusia 65 tahun ke atas lebih terkait erat dengan polusi cahaya di malam hari dibandingkan dengan penyalahgunaan alkohol, penyakit ginjal kronis, depresi, dan obesitas. Faktor risiko lain, termasuk diabetes, tekanan darah tinggi, dan stroke, lebih terkait erat dengan Alzheimer dibandingkan dengan polusi cahaya.

Namun, untuk orang yang berusia di bawah 65 tahun, intensitas cahaya malam hari adalah pengaruh nomor satu yang terkait dengan Alzheimer. Karena tidak ada faktor risiko penyakit lain pada populasi ini yang memiliki hubungan kuat dengan demensia, para ilmuwan menyarankan bahwa orang yang lebih muda mungkin sangat sensitif terhadap efek paparan cahaya di malam hari.

Voigt-Zuwala mencatat bahwa orang yang lebih muda cenderung memiliki gaya hidup yang membuat mereka terpapar lebih banyak cahaya di malam hari.

"Daerah perkotaan dengan polusi cahaya paling tinggi cenderung didominasi oleh individu yang lebih muda, dan orang yang lebih muda cenderung begadang lebih larut untuk kegiatan sosial. Paparan cahaya selama waktu istirahat normal akan mengganggu ritme sirkadian dan akan berdampak buruk bagi kesehatan," ucapnya.

Ritme sirkadian mengatur sebagian besar biologi dan perilaku kita, dan gangguan dapat menyebabkan peradangan pada mikrobioma usus, meningkatkan kebocoran usus, dan membuat individu menjadi kurang tahan terhadap stres dan lebih rentan terhadap penyakit.

Bagi Yuko Hara, PhD, direktur Penuaan dan Pencegahan Alzheimer di Cognitive Vitality, sebuah program dari Alzheimer's Drug Discovery Foundation, analisis ini selaras dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa orang berusia lima puluhan dan enam puluhan yang kurang tidur dari enam jam per malam memiliki risiko demensia yang jauh lebih tinggi.

"Beta-amiloid, penanda biologis untuk penyakit Alzheimer, dapat mulai terakumulasi di otak beberapa dekade sebelum timbulnya gejala," ujar Dr Hara, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

"Pada saat tidurlah protein beracun seperti amiloid dibuang dari otak. Dengan demikian, mungkin sangat penting bagi orang paruh baya untuk mendapatkan jumlah tidur yang cukup untuk mencegah penumpukan amiloid dan protein beracun lainnya di otak," lanjutnya.

Penulis studi menambahkan bahwa memiliki gen APOE4+, sebuah faktor yang memengaruhi penyakit Alzheimer yang muncul lebih awal, mungkin berperan dalam peningkatan kerentanan terhadap efek paparan cahaya di malam hari, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana hal ini terkait.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

37 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
Olahraga
Janice Tjen Mulus ke Peremp...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.