Pesawat Layang untuk Transportasi Kargo Berbiaya Rendah
📅 Senin, 25 Mar 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: afp/ Aerolan
Ide pesawat layang ditarik oleh pesawat seperti yang biasa digunakan pada olahraga dirgantara, akan diterapkan pada pesawat kargo. Cara ini, jika berhasil, dapat memangkas biaya udara hingga 65 persen dari cara konvensional.
Sebuah perusahaan di Texas barat menemukan cara yang sangat sederhana untuk memangkas biaya kargo udara sebanyak 65 persen. Dengan menarik pesawat otonom berupa pesawat layang (glider) pengangkut kargo di belakangnya, hal ini dapat berpotensi melipatgandakan kapasitas muatannya secara signifikan.
Perusahaan rintisan (startup) asal Texas, Aerolane mengatakan penghematan akan jauh lebih besar dengan pesawat layang kargo otonom yang dibuat khusus dan dihubungkan ke pesawat utama dengan tali derek sederhana. Tanpa sistem propulsi, maka akan menghemat seluruh bobot mesin, motor, bahan bakar, atau baterai, apalagi pesawat Aerocart ini tidak memiliki kabin untuk pilot, hanya ruang untuk kargo dan sistem kontrol penerbangan otonom yang menjalankannya.
Aerocart ini akan ditarik di landasan pacu oleh pesawat utama seperti pesawat layang rekreasi. Selanjutnya akan lepas landas kurang lebih bersama dengan pesawat utama, kemudian tetap berada di tali selama fase pelayaran penerbangan. Setelah itu secara mandiri berselancar di belakang pesawat utama untuk mendapatkan hambatan minimal dan daya angkat optimal.
Pesawat layang akan akan mendarat tepat di belakang pesawat utama dengan tali masih terpasang. Namun bisa juga pada akhirnya dilepaskan di tempat yang ideal sehingga bisa turun sendiri dan berpotensi mendarat di landasan yang sama sekali berbeda dari pesawat utama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yang terakhir ini akan memerlukan beberapa perselisihan peraturan, tetapi menurutBloomberg, Aerolane yakin pesawat itu tidak boleh diperlakukan jauh berbeda oleh The Federal Aviation Administration (FAA) dibandingkan pesawat layang rekreasi biasa.
Aerolane sejauh ini telah menerbangkan dua prototipe yang disebutautomated tow cargo glider. Yang pertama adalah Virus Pipistrel seberat 1.000 pon yang telah dikonversi dan yang kedua adalah pesawat pendorong Velocity SE canard, yang juga telah dikonversi untuk tugas ini. Keduanya menjalankan sistem autopilot milik Aerolane yang dirancang khusus untuk melayang berselancar di pusaran udara dengan efisien.
Keduanya masih memiliki mesin di dalamnya, namun Aerolane bekerja sama dengan FAA untuk mendapatkan izin mulai membuat pesawat tanpapowertrainyang menggunakan bahan ringan. Pada saat ini, mereka akan membangun pesawat layang kargo seberat 3 ton dan kemudian versi 10 ton.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perusahaan telah mengumpulkan dana awal sekitar 11,5 juta dollar AS untuk memulai proyek ini. Selain itu juga telah menetapkan target tahun 2025 untuk ketersediaan awal dari pesawat layang tersebut di pasaran.
Perusahaan ini belum memiliki pelanggan awal yang mendaftar, namun setelah prototipe khusus mereka dijadikan patokan, gagasan tentang kecepatan udara dibandingkan kecepatan darat bisa membuat operasi pengangkutan tertarik, bahkan jika pesawat layang derek ini pasti beroperasi, akan membuat terperangah di mana pun pesawat ini lepas landas atau mendarat.
Ide dari "Glider"
Pesawat layang atau pesawatglideradalah pesawat yang lebih berat dari udara yang biasanya digunakan untuk penerbangan tanpa mesin. Model ini dibagi menjadi dua kategori yaituglidermurni dan pesawat layar (sailplane).
Umumnya pesawat layang adalah salah satu jenis pesawat terbang yang didesain untuk keperluan latihan dan olahraga udara. Pesawat ini biasanya tidak dilengkapi dengan mesin pendorong, sehingga untuk dapat terbang dia harus ditarik dengan kendaraan atau pesawat terbang bermesin.
Namun ada beberapa jenis pesawat layang yang dilengkapi motor penggerak dalam rangka meningkatkan jangkauan atau bahkan untuktake-offdanlandingsecara mandiri tanpa perlu ditarik pesawat bermesin. Bahan dari struktur pesawatgliderterbuat dari komponen yang ringan namun memiliki kekuatan serta kekakuan yang tinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!