Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Edisi Weekend Foto Video Infografis
Prospek Usaha - Coco Mart Bali Berencana IPO pada Juli 2018

Perusahaan Ritel Didorong "Go Public"

Foto : istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Go public merupakan salah satu sarana mendapatkan dana jangka panjang.

DENPASAR - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mendorong pelaku usaha ritel di Bali untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) atau go public ke pasar modal. Sebab, potensi mendapatkan penambahan modal jangka panjang terbuka lebar dari hasil jual saham kepada masyarakat. "Ada satu peluang untuk bisa melakukan ekspansi supaya lebih bertumbuh yaitu lewat pasar modal," kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Aprindo, Roy Nicholas, pada sebuah diskusi di Denpasar, Sabtu (3/3).

Untuk itu, Aprindo menggandeng Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pihak terkait lainnya melakukan sosialisasi dan penjelasan yang detail terkait upaya penawaran umum di bursa saham. "Go public merupakan salah satu sarana agar ritel, khususnya ritel lokal di daerah, bisa mendapatkan dana jangka panjang dari investor pasar modal," ujarnya. Roy mengimbau pelaku usaha ritel di Pulau Dewata untuk mulai menjajaki sumber modal dari luar karena ritel saat ini dituntut untuk menyesuaikan dengan perkembangan pasar yang tumbuh dinamis dan cepat mengalami perubahan.

Apalagi Bali sebagai daerah tujuan wisata dunia, lanjut dia, usaha ritel daerah setempat juga dituntut untuk melakukan inovasi dan ekspansi yang tentunya membutuhkan sumber pendanaan. "Ini semangat untuk ekspansi. Dengan penambahan modal jangka panjang ini bisa dukung pertumbuhan ritel. Ritel harus tumbuh dengan cara ekspansi," ujar Roy. Dia mengungkapkan dari sekitar 600 anggota Aprindo, 80 persen di antaranya merupakan ritel yang berada di daerah, sedangkan sisanya merupakan ritel berjaringan besar yang banyak berkedudukan di Jakarta dan sudah melebarkan sayap hingga seluruh wilayah Indonesia.

Dari ratusan anggota itu, Roy menyebutkan baru 25 perusahaan ritel yang mencatatkan namanya di lantai bursa saham. Sebagian besar pelaku ritel daerah tersebut dinilai belum tersosialisasi optimal terkait go public dan masih fokus membesarkan dan menjalankan ritelnya namun belum memikirkan sumber pendanaan eksternal seperti melalui pasar modal. "Kalau ritel di daerah perlu waktu mengembangkan bisnisnya melewati pasar modal. Mereka perlu kriteria dan syarat serta kondisi masuk ke lantai bursa. Ritel lokal itu perlu diedukasi maksimal," ucapnya.

Kepala Unit Strategi Pengembangan Calon Emiten BEI, Yogi Brilliana, mengatakan prospek di Bali besar karena ada pangsa pasar internasional sehingga permintaannya akan tinggi. Namun, sebagian pengusaha di daerah masih belum mengetahui persyaratan yang diperlukan untuk melakukan IPO termasuk masih adanya stigma bahwa penawaran saham perdana itu hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar.

Peluang Dana

Sebelumnya sudah ada tiga perusahaan dari Bali, yakni PT Bali Towerindo Sentra Tbk, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk, dan PT Island Concepts Indonesia Tbk, yang akan IPO. Adapun perusahaan ritel berjaringan, Coco Mart, menargetkan go public pada Juli 2018. Manajer Operasional Coco Mart, Wayan Sudipa, mengatakan induk perusahaan Coco Mart, yakni PT Bali Pawiwahan atau Coco Group, berencana ingin melakukan pengembangan usaha atau ekspansi bisnis sehingga memerlukan pendanaan yang lebih besar.

"Melalui penawaran saham perdana di lantai bursa, peluang mendapatkan aliran modal dari masyarakat semakin besar," katanya. Pihaknya saat ini memiliki jaringan gerai sebanyak 102 unit dan ke depan menargetkan ekspansi bisnis hingga 400 gerai masih di kawasan Bali dan Lombok, NTB. Ant/AR-2

Penulis : Antara

Komentar

Komentar
()

Top