Perempuan Indonesia Perlu Mendapat Lebih Banyak Kesempatan Kerja
📅 Jumat, 27 Okt 2023, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock
Alexander Michael Tjahjadi, Article 33 dan Jesita Wida Ajani, Norwegian School of Economics
Satu hari sebelum Claudia Goldin diumumkan sebagai pemenang nobel ekonomi 2023, ia menulis sebuah penelitian menarik tentang "mengapa perempuan sudah menang". Dalam tulisannya, ia menjabarkan perjuangan menerus perempuan-perempuan di Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh hak-hak mereka seputar ketenagakerjaan, status pernikahan, agama, politik hingga hak atas tubuh.
Perjuangan yang mencapai puncak di akhir 1970an dan awal 1980an ini membuahkan sejumlah legislasi yang-setidaknya-memberikan perempuan rasa aman di tempat kerja, tak lagi kehilangan kesempatan berpartisipasi di ranah publik karena kewajiban rumah tangga, tak takut dipecat atau ditolak dari pekerjaan karena hamil atau memiliki anak, dan memperoleh akses lebih baik ke pendidikan.
Terdapat dua hal yang dapat dilihat dari konsistensi Goldin dalam riset gender. Pertama, dengan menggunakan data historis selama lebih dari satu abad, cara Goldin menganalisis gender melebihi cara ekonom tradisional memandang permasalahan ekonomi. Ia mengulas aspek-aspek yang selama ini tak tersentuh studi ekonomi, termasuk bagaimana pil kontrasepsi memberikan perempuan harapan untuk bekerja dan bersekolah.
Hal kedua adalah sumbangsihnya dalam disparitas atau perbedaan gender di pasar tenaga kerja. Goldin berhasil menggambarkan tingkat partisipasi perempuan di AS sebagai kurva berbentuk U alias tidak meningkat secara konsisten: menurun saat perubahan sektor agraris ke industri dan berangsur naik saat berubah ke sektor jasa. Alasannya karena norma sosial dan struktur ekonomi berubah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di akhir tulisan teranyarnya, Goldin menyebutkan bagaimana meskipun legislasi telah membuka banyak peluang bagi perempuan, belum ada bukti hal ini menyelesaikan ketimpangan penghasilan.
Riset Goldin mengenai bagaimana perempuan masih terikat "motherhood penalty", menjelaskan bagaimana tanggung jawab rumah tangga yang tak berimbang membatasi gerak mereka untuk memajukan karier dan memperoleh pendapatan yang lebih baik, relevan tak hanya bagi perempuan AS tetapi juga di kancah global-termasuk Indonesia.
Dilema ibu bekerja: dari kontrasepsi hingga PAUD
Sebaiknya Anda baca juga:
Data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), dan dikaji secara berkala oleh Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan bahwa rata-rata jarak kesenjangan upah bulanan antara tenaga kerja laki-laki dan perempuan di Indonesia selama satu dekade terakhir berada di kisaran 26,4%-atau di atas rata-rata dunia yang sekitar 20%. Kontribusi pendapatan perempuan ke perekonomian sepanjang 1990 - 2020 pun berada di bawah 25%, tanpa perkembangan berarti.
Padahal, perempuan Indonesia memiliki potensi berkembang yang sama atau lebih dibandingkan laki-laki. Dekomposisi hasil tes evaluasi kemampuan belajar PISA pada 2018, nilai perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki untuk seluruh tes (matematika, IPA, dan membaca). Bahkan, survei tambahan menunjukkan bahwa perempuan lebih fokus, lebih rajin, dan lebih tekun.
Sebuah tulisan pernah mengulas bahwa bagi mereka yang berusia 30 tahun dan ke atas, baik laki-laki maupun perempuan cenderung mendapatkan upah setara selama keduanya memiliki kesamaan usia, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, dan bidang pekerjaan sejenis.
Hanya, banyak perempuan berhenti bekerja sebelum mencapai tahap tersebut. Perempuan yang memiliki anak biasanya tidak lagi fokus pada kariernya karena beban mengasuh anak biasanya jatuh kepada mereka.
Di sini, peran fertilitas dan keluarga berencana sangat penting karena menjadi indikator pilihan perempuan dalam mengembangkan karier mereka. Salah satu riset tentang kesetaraan gender yang dilakukan oleh Australian National University dan SurveyMETER menemukan bahwa perempuan Indonesia tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengikuti program keluarga berencana. Di lain sisi, mereka juga tidak mendapatkan kompensasi pekerjaan rumahan. Norma sosial juga sulit berubah sehingga peran perempuan sulit diterima masyarakat kalau ia bekerja, tidak menjadi ibu rumah tangga, atau menggunakan kontrasepsi.
Di ranah global, perdebatan perempuan yang bekerja saat mempunyai anak tidak kunjung selesai. Menurut kertas kerja kebijakan yang dipublikasikan Bank Dunia pada Februari, ibu bekerja memiliki beberapa dampak positif bagi anak. Ini termasuk memberikan kesempatan bagi anak untuk hidup di rumah tangga yang lebih sejahtera. Ibu lebih cenderung menghabiskan uang untuk anak dibandingkan ayah. Terbukanya akses ibu ke jaringan sosial dan informasi yang luas juga memperkuat mereka untuk membuat keputusan investasi terbaik untuk anak.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!