Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Anggaran PEN | Anggaran Stimulus PEN 2021 Dipangkas Sebesar 55 Persen dari Alokasi 2020

Pemulihan Ekonomi Kian Berat

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

Pengurangan stimulus untuk program PEN tahun depan dikhawatirkan semakin menggerus konsumsi domestik sehingga dapat menghambat pemulihan ekonomi nasional.

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan diprediksi meleset dari target. Hal itu dipengaruhi belum adanya kejelasan soal kepastian vaksin dan rendahnya stimulus untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun depan.

Pada 2021, pemerintah memangkas anggaran stimulus PEN sebesar 55 persen dari alokasi tahun ini. Pengurangan itu menimbulkan kekhawatiran bagi kalangan usaha dan pemerhati ekonomi.

Ekonom Universitas Diponegoro Semarang, Esther Sri Astuti, menegaskan dalam logika normal, dengan alokasi dana PEN yang besar seperti tahun ini saja, pertumbuhan ekonomi nasional masih terkontraksi. Apalagi, ketika stimulus itu berkurang.

"Jelas, dengan anggaran yang berkurang tidak mungkin mendongkrak pertumbuhan," tegasnya dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Minggu (29/11).

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani. Dia mengkhawatirkan penurunan alokasi anggaran PEN tahun depan karena bisa berdampak buruk terhadap konsumsi domestik yang selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional.

"Tentu ini akan mempengaruhi pemulihan ekonomi. Kalaupun vaksin ditemukan, tidak cukup meningkatkan confident (kepercayaan diri) pelaku industri," tegas Shinta.

Dia mengakui berbagai langkah relaksasi kebijakan berdampak positif pada pemulihan sisi suplai. Namun, di sisi lain, permintaan atau demand masih tertekan.

Masalah Pengangguran

Lebih parah lagi, sambung Shinta, tantangan terbesar tahun depan adalah masalah pengangguran. Saat ini saja, terdapat sekitar 9,7 juta penggangguran. Jumlah itu diperoleh dari angka penggangguran selama Covid-19 yang sebesar tiga juta orang dan sisanya pengangguran lama.

Di sisi lain, tambahan pengangguran terbuka meningkat 7 persen (Agustus 2020). "Angka pengangguran itu belum final. Itu data Kemenaker Agustus lalu. Masih ada peluang tambah karena kemarin ada lagi UMKM yang rumahkan karyawannya," ungkap Shinta.

Meski demikian, pemerintah mengaku telah membuat siasat untuk memacu ekspor nasional. Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, mengaku pemulihan ekonomi nasional tahun depan akan terbantu oleh perbaikan kondisi global setelah tahun ini terkontraksi cukup dalam.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri-Kementerian Perindustrian, Eko SA Cahyanto, optimistis pertumbuhan industri pengolahan nonmigas tahun depan diproyeksikan naik menjadi 3,95 persen. Hal itu setelah sepanjang 2020 terkontraksi dan pertumbuhan minus 2,22 persen.

"Tapi itu kan dengan asumsi pandemi Covid-19 dapat dikendalikan dan sudah ada vaksin sehingga akivitas ekonomi mulai pulih," ungkap Eko.

Eko menerangkan investasi diperkirakan menjadi faktor penggerak pertumbuhan sektor industri tahun depan. Terlebih lagi dengan adanya UU Cipta Kerja dan komitmen pemerintah untuk merampungkan aturan turunannya. "Tentunya itu akan menjadi daya tarik bagi investor," beber Eko. ers/E-10


Redaktur : Muchamad Ismail
Penulis : Fredrikus Wolgabrink Sabini

Komentar

Komentar
()

Top