Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Remehkan Ketahanan Pangan dan Terus Bergantung pada Impor

📅 Senin, 24 Jul 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Remehkan Ketahanan Pangan dan Terus Bergantung pada Impor Doc: NARINDER NANU/AFP
Ket. PERKUAT PRODUKSI DALAM NEGERI I Buruh memisahkan sekam padi dari gabah di Amritsar, India, belum lama ini. Di saat negara-negara produsen seperti India sudah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor beras, Pemerintah Indonesia harus segera membatasi impor dan fokus memperkuat produksi beras dalam negeri.

» Kejahatan dari para rent seeking, oligarki, dan kronisme ini pasti akan mendatangkan bencana.

» Semua komoditas pangan kalau bisa jangan impor. Pemerintah seharusnya jangan mengeluarkan izin impor.

JAKARTA - Pemerintah dinilai terlalu meremehkan ketahanan pangan dengan terus-menerus mengimpor bahan makanan. Padahal, negara-negara produsen seperti India sudah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor beras untuk menjaga stok kebutuhan dalam negeri mereka.

Begitu pula dengan Ukraina yang diinvasi Russia, merupakan produsen 30 persen gandum dunia. Dengan mundurnya Russia dari kesepakatan biji-bijian Laut Hitam maka pasokan gandum ke berbagai negara terancam karena Russia bisa saja menembaki gandum yang dikirim Ukraina dari Odesa ke negara lain.

Guru Besar Ekonomi Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan ketika India sebagai salah satu produsen beras terbesar dunia memutuskan untuk melarang ekspor beras, dampaknya akan sangat terasa di pasar global. Larangan ekspor itu jelas mengguncang harga beras di dunia karena stok terbatas, sementara permintaan dari berbagai negara naik.

"Kita kemarin sudah sempat amankan angka impor beras dari India, semoga cukup untuk tambahan tahun ini. Kalau tidak, memang harga beras bisa naik," kata Dwijono.

Kenaikan harga beras itu pasti akan mempengaruhi tingkat inflasi di banyak negara, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor beras dari India. Kalau harga kebutuhan pokok naik, otomatis menurunkan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Begitu pula dengan gangguan rantai pasok gandum dari Ukraina karena dilanda perang melawan Russia. Jika skenario terburuk terjadi, pasokan gandum dari Ukraina bisa terhenti atau berkurang secara drastis akan meningkatkan ketergantungan pasar global pada pasokan dari produsen lainnya.

"Negara-negara yang mengimpor beras dan gandum dari India dan Ukraina harus mulai mencari alternatif pasokan untuk mengatasi potensi krisis pangan yang mungkin timbul," kata Dwijono.

Fenomena itu, papar Dwijono, sebenarnya sudah terlihat dari setahun lalu, namun pemerintah seolah mengabaikan untuk melakukan antisipasi dengan memperkuat kapasitas produksi dalam negeri.

Dia menduga ada peran dari para pemburu rente (rent seeking), oligarki, dan kronisme dalam sistem ekonomi dan perdagangan sehingga pemerintah seolah meremehkan ancaman ketahanan pangan tersebut, tanpa bertindak mengantisipasinya.

"Kita 'doyan' impor karena ada yang 'doyan' fee, ribuan triliun rupiah. Kejahatan dari para rent seeking, oligarki, dan kronisme ini pasti akan mendatangkan bencana, hanya soal waktu saja. Bagaimana mungkin bisa mau kejar kekurangan pasokan saat ini kalau belum ada persiapan dan langkah antisipasi," katanya.

Kejahatan-kejahatan tersebut, katanya, telah menghambat potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan beradilan, serta menciptakan ketidakstabilan dalam sektor pangan.

Dibuat Malas

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
Advertisement
Event Jakarta Akhir Pekan 10-11 Oktober: Ada Avenged Sevenfold hingga Victoria Run

Event Jakarta Akhir Pekan 10-11 Oktober: Ada Avenged Sevenfold hingga Victoria Run

09 Oct 2026
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.