Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Nasib Pekerja Migran Perempuan Indonesia di Malaysia

📅 Senin, 01 Apr 2024, 15:53 WIB | Oleh: Tim Penulis
Nasib Pekerja Migran Perempuan Indonesia di Malaysia Doc: Antara/Aswaddy Hamid
Ket. Pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia.

Aniello Iannone, Universitas Diponegoro

Peringatan Hari Perempuan Internasional bulan Maret ini semestinya menjadi renungan terhadap ketidaksetaraan gender yang merajalela secara global. Berbagai tantangan di sektor-sektor masyarakat, seperti politik, kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan, masih terus dihadapi oleh perempuan. Terutama, perempuan kelompok rentan yang sering terabaikan seperti pekerja migran.

Contoh konkret dari tantangan ini ada dalam dinamika hubungan antara Malaysia dan Indonesia.

Malaysia menjadi magnet penting bagi tenaga kerja atau pekerja migran Indonesia. Sebaliknya, Indonesia menduduki posisi sebagai penyedia tenaga kerja utama bagi Malaysia, yang sebagian besar adalah perempuan. Mereka umumnya bekerja di sektor informal, seperti kebersihan dan perawatan lansia.

Jika menggunakan makna kelas pekerja dalam analisis Marxisme yang dicetuskan Karl Marx, Indonesia adalah salah satu pemasok utama "pasukan cadangan pekerja" yang pekerjanya ditujukan untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja di sektor-sektor dengan kondisi kerja buruk, jam kerja panjang, dan situasi yang sering tidak manusiawi.

Pada praktiknya, para pekerja migran juga rentan menjadi korban perdagangan manusia dan perdagangan seks serta terjebak dalam siklus perbudakan. Ini terjadi mayoritas terhadap pekerja migran perempuan. Mereka juga sering menghadapi eksploitasi dan kekerasan.

Para pekerja migran perempuan menjadi korban ketidakpastian yang disebabkan oleh sistem migrasi dan perekrutan yang cenderung eksploitatif kapitalis, sehingga membuat mereka kehilangan hak-haknya sebagai pekerja.

1. Kondisi kerja dan upah yang tidak pasti

Ketidakpastian dalam kondisi kerja dan upah yang cenderung rendah menciptakan keuntungan bagi pemberi kerja di Malaysia karena biaya tenaga kerja yang lebih murah di Indonesia. Bahkan, terdapat beragam laporan yang menyoroti fakta bahwa gaji para pekerja seringkali tidak dibayarkan..

Selain itu, ditemukan juga laporan yang menyebutkan bahwa sejumlah besar pekerja migran Indonesia diminta membayar sejumlah uang sebagai persyaratan untuk mendapatkan pekerjaan, umumnya melalui agen perekrutan yang mencari pekerja dengan upah rendah dari negara periferi (memiliki kekuatan ekonomi yang rendah) seperti Indonesia untuk dieksploitasi di Malaysia, yang merupakan negara semi-periferi. Para migran terpaksa membayar dan bahkan berutang untuk membiayai perjalanan mereka.

Menurut Organisasi Ketenagakerjaan Internasional (ILO), 29% pekerja migran perempuan Indonesia di Malaysia mengalami kondisi yang masuk dalam definisi kerja paksa. Kondisi tersebut meliputi tingkat isolasi yang tinggi dan pembatasan kebebasan, seperti kebebasan bergerak, terutama di sektor pekerjaan rumah tangga migran. Mereka juga seringkali tidak memiliki dokumen, tidak terdaftar, dan oleh karena itu rentan karena tidak sepenuhnya dilindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan.

Namun, perlu dicatat bahwa bahkan di antara pekerja rumah tangga reguler, ada jumlah yang signifikan yang mungkin tinggal dalam situasi kerja paksa dan eksploitasi. Banyak keluarga di negara seperti Malaysia menggunakan pekerja rumah tangga, seringkali perempuan dari negara seperti Indonesia, karena gaji mereka lebih rendah dibandingkan pekerja lokal.

Praktik tersebut menciptakan eksploitasi bahkan dalam kerangka hukum yang lebih jelas, karena majikan dapat mencoba memaksimalkan keuntungan mereka dengan merugikan hak dan kesejahteraan pekerja rumah tangga.

2. Terjebak utang

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

58 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.