Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mengenal Gejala Flu Burung H3N8, yang Memicu Kasus Kematian Pertama di Tiongkok

📅 Sabtu, 15 Apr 2023, 16:12 WIB | Oleh:
Mengenal Gejala Flu Burung H3N8, yang Memicu Kasus Kematian Pertama di Tiongkok Doc: Reuters
Ket. Unggas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa (11/4) mengkonfirmasi kematian pertama akibat flu burung H3N8 atau Avian Influenza. Korban merupakan wanita berusia 56 tahun dari provinsi Guangdong, Tiongkok, yang meninggal pada 16 Maret 2023, usai menerima perawatan di rumah sakit akibat mengalami pneumonia akut.

Menurut Komisi Kesehatan Nasional Republik Rakyat Tiongkok, ini adalah kasus ketiga infeksi manusia yang dilaporkan terkait flu burung H3N8 di negara itu. Dua kasus sebelumnya dilaporkan pada April dan Mei 2022. Salah satu kasus sebelumnya berkembang menjadi penyakit kritis, sementara yang lain menderita penyakit ringan. Kedua kasus tersebut kemungkinan tertular dari paparan langsung atau tidak langsung pada unggas yang terinfeksi.

Sejauh ini, tidak ada kasus tambahan yang terkait dengan kasus ini, maupun kasus sebelumnya. Menurut laporan dari pejabat kesehatan, penyelidikan epidemiologi awal terhadap peristiwa ini, menunjukkan bahwa paparan pasar unggas hidup mungkin menjadi penyebab infeksi. Pasalnya, korban meninggal memiliki riwayat paparan unggas hidup sebelum timbulnya penyakit, dan riwayat kehadiran burung liar di sekitar rumahnya. Namun, masih belum jelas apa sumber pasti infeksi ini dan bagaimana virus ini terkait dengan virus avian influenza A lainnya yang beredar pada hewan.

Virus flu burung H3N8 umumnya terdeteksi secara global pada hewan. Virus ini sendiri adalah beberapa subtipe yang paling sering ditemukan pada burung, menyebabkan sedikit atau tidak ada tanda-tanda penyakit, baik pada unggas domestik maupun burung liar. Sejauh ini, penularan lintas spesies virus flu burung H3N8 telah dilaporkan untuk berbagai spesies mamalia, termasuk yang endemik pada anjing dan kuda. Penularan virus flu burung dari burung ke manusia biasanya bersifat sporadis dan terjadi dalam konteks tertentu. Di mana, sebagian besar infeksi virus flu burung pada manusia yang telah dilaporkan sebelumnya disebabkan oleh paparan unggas yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi.

Menurut National health Services, flu burung menyebar melalui kontak dekat dengan burung yang terinfeksi, baik dalam keadaan mati atau masih hidup. Kontak dekat ini termasuk menyentuh unggas yang terinfeksi, menyentuh kotoran atau tempat tidur, membunuh atau menyiapkan unggas yang terinfeksi untuk dimasak, hingga mengunjungi pasar yang menjual unggas hidup juga bisa menjadi sumber flu burung. Namun, infeksi flu burung tidak bisa terjadi ketika Anda memakan unggas atau telur yang dimasak sepenuhnya, bahkan di daerah dengan wabah flu burung.

Adapun gejala utama flu burung dapat muncul dengan sangat cepat dan meliputi, suhu yang sangat tinggi atau terasa panas atau menggigil, otot sakit, sakit kepala, sampai batuk atau sesak napas. Sementara itu, gejala awal flu burung mencakup diare, sakit perut, nyeri dada, pendarahan dari hidung dan gusi, dan konjungtivitis. Setidaknya diperlukan waktu 3 hingga 5 hari untuk gejala pertama muncul setelah Anda terinfeksi. Dalam beberapa hari setelah gejala muncul, komplikasi yang lebih parah dapat berkembang seperti pneumonia dan sindrom gangguan pernapasan akut.

Namun, jangan khawatir. Pasalnya ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mencegah infeksi flu burung, seperti hindari kontak dengan unggas hidup dan unggas; jangan tidak mendekati atau menyentuh kotoran burung atau burung yang sakit atau mati; jangan pergi ke pasar hewan hidup atau peternakan unggas; jangan makan unggas atau bebek yang kurang matang atau mentah; dan mendapatkan vaksin flu burung.

Informasi epidemiologis dan virologis yang tersedia menunjukkan bahwa virus avian influenza A atau H3N8 sendiri tidak memiliki kapasitas untuk transmisi berkelanjutan di antara manusia. Oleh karena itu, penilaian saat ini adalah kemungkinan penyebaran dari manusia ke manusia rendah. Namun, karena sifat virus influenza yang terus berkembang, WHO terus menekankan pentingnya pengawasan global untuk mendeteksi perubahan virologi, epidemiologi, dan klinis yang terkait dengan virus influenza yang bersirkulasi yang dapat memengaruhi kesehatan manusia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Taman Safari Prigen Perkena...
Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...
Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.