Selasa, 11 Mar 2025, 23:50 WIB

Mahasiswa Untirta Inisiasi Program Kreator Inklusi Bagi Siswa Tuli

Mahasiswa Pendidikan Khusus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang menginisiasi program kreator inklusi.

Foto: Antara

Tangerang - Danish Akbar Firdausy Asbari, mahasiswa Pendidikan Khusus di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) menginisiasi program kreator inklusi yakni workshop untuk meningkatkan keterampilan digital siswa-siswi tuli di Sekolah Luar Biasa (SLB) Santi Rama, Jakarta Selatan.

"Program ini merupakan bagian dari inisiatif tim Domino’s Impact dalam program inkubasi Impact yang diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Mengajar," kata Danish Akbar dalam keterangannya di Tangerang, Banten, Selasa (11/3).

Danish bersama timnya yakni Ikhwa, Aersal, dan Sofia mengaku perlu ada peningkatan akses bagi siswa Tuli dalam memahami dunia digital, khususnya dalam profesi content creator.

Melalui workshop ini, Danish dan rekannya membekali 19 siswa SMA Luar Biasa (SMALB) kelas 10 dan 11 dengan keterampilan membangun personal branding serta membuat konten yang inklusif dan berdampak.

"Kami juga membuat talkshow dengan melibatkan narasumber dari KONEKIN dan Yayasan Pendidikan Kesehatan Mental untuk berbagi wawasan seputar strategi sukses dalam membangun karier digital yang inklusif," katanya.

Danish berharap program ini dapat memberikan dampak jangka panjang bagi siswa-siswi tuli dalam membangun identitas digital mereka.

“Saya ingin dunia digital menjadi ruang yang lebih inklusif bagi teman-teman Tuli. Mereka memiliki potensi besar untuk berkarya dan menjadi content creator yang inspiratif,” kata Danish.

Founder dan CEO KONEKIN Marthella Sirait menyoroti pentingnya niche dalam membangun personal branding serta konsistensi dalam berkarya di media sosial.

Ia juga mengajak peserta untuk mengubah konten-konten yang mendiskriminasi kelompok difabel menjadi konten edukasi yang lebih inklusif.

“Ketika kontennya mendiskriminasi teman-teman difabel, itu menjadi celah untuk kita buat video reaksi sekaligus edukasinya. Pola pikir kita bukan pada belas kasihan, tetapi lebih kepada pemberdayaan,” ujarnya.

Sylvia Adriana selaku Founder Yayasan Pendidikan Kesehatan Mental menekankan pentingnya pengendalian diri dalam menghadapi komentar negatif di dunia digital, karena inklusivitas tidak hanya dimulai dari dunia maya, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Di dunia nyata, mulailah dengan memahami bahwa setiap orang unik dan beragam. Dengan memahami pola pikir tersebut, sikap seseorang pun akan terbawa ke dunia digital,” ujarnya.

Redaktur: Andreas Chaniago

Penulis: Antara

Tag Terkait:

Bagikan: