Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lima Organisasi Profesi Dokter Luncurkan Konsensus Cegah Terjadinya MARSI

📅 Selasa, 05 Sep 2023, 20:34 WIB | Oleh:
Lima Organisasi Profesi Dokter Luncurkan Konsensus Cegah Terjadinya MARSI Doc: istimewa
Ket. perban

JAKARTA - Penggunaan perekat seperti plester dressing, produk stoma, elektroda, pada obat, strip penutup luka pada pasien dapat mengakibatkan kulit menjadi lecet, melepuh, atau terkelupas atau biasa disebut dengan Medical Adhesive-Related Skin Injury (MARSI). Agar tidak berdampak buruk maka risiko ini perlu dihindari.

Berdasarkan survei singkat Pediatric ICU (PICU) rumah sakit di Indonesia ditemukan MARSI sebesar 12 persen dari total 77 pasien. Studi Dan Wang dan rekan di Tiongkok pada 2019 menunjukkan bahwa prevalensi MARSI di Pediatric ICU sebesar 23,5-54 persen akibat penggunaan plester untuk fiksasi selang napas.

Menurut observasi yang dilakukan Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI), 32 dari 36 pasien (88,88 persen) yang mengalami MARSI merasakan nyeri atau sakit yang mengganggu, dan 6 di antaranya juga mengalami komplikasi infeksi. Mereka yang memiliki faktor risiko terkena MARSI adalah pasien lanjut usia, pasien pediatrik, pasien ICU, dan pasien yang telah menjalani pembedahan.

"Masih sedikit rumah sakit yang memiliki Standard Operating Procedures (SOP) untuk MARSI. Dengan demikian, jelas bahwa konsensus MARSI ini sangat dibutuhkan di Indonesia, terutama untuk pasien risiko tinggi," kata perwakilan dari Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) dr. Heri. Pada kesempatan yang sama, dr. Heri Setyanto, Sp.B, FInaCS dalam media briefing berjudul, Pentingnya Pencegahan Cedera Kulit Akibat Perekat Medis, di Jakarta, Kamis (31/8).

Dalam praktik, sering ditemui kondisi kulit pasien seperti lecet, melepuh, atau kulit pasien terkelupas ketika plester dilepaskan. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi kulit tersebut dapat berisiko menimbulkan infeksi atau penyakit lainnya.

"MARSI sendiri bisa menjadi beban ekonomi tersendiri bagi pasien karena harus mengeluarkan biaya lebih, serta menambah waktu pengobatan. Maka, tenaga kesehatan harus dibekali dengan pengetahuan terkait perekat medis yang sesuai dengan kebutuhan pasien berisiko untuk mencegah MARSI," imbuhnya.

Melihat tantangan kesehatan ini, kelompok kerja ahli dari PABI, Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (Perdici), Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (Pergemi), dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merumuskan konsensus yang berfokus pada peningkatan kesadaran dan pencegahan terkait MARSI.

Konsensus MARSI menekankan beberapa hal penting meliputi definisi MARSI, pengkajian faktor risiko, pengamatan berkala untuk identifikasi dini, memilih perekat medis yang sesuai, teknik melepas dan memasang perekat medis / plester, serta rekomendasi terbaik akan pencegahan MARSI. Hasil konsensus ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas perawatan pasien.

Dr. dr. Erwin Pradian, Sp.An, KIC, KAR, M.Kes, dari Perdici mengatakan,dalam survei sederhana yang kami lakukan pada 59 anggota Perdici ditemukan tipe MARSI tertinggi pada pasien di ICU. Tipe dimaksud adalah dermatitis iritan kontak sebanyak 47,3 persen, dan dermatitis alergi sebanyak 30,9 persen.

"Di ICU, masalah MARSI dan komplikasinya kerap ditemui. Pada jurnal penelitian menemukan bahwa prevalensi MARSI di ICU hingga 42 persen," katanya.

Pasien dengan penyakit kritis di ICU rentan terhadap MARSI karena berbagai faktor. Berbagai faktor dimaksud adalah terkena paparan yang tinggi terhadap perekat medis, malnutrisi, ketidakstabilan hemodinamik, disfungsi organ, edema, dan kelainan kulit.

Dalam proses pengobatan, pasien di ICU biasanya membutuhkan berbagai perangkat medis untuk pemantauan, diagnosis, dan pengobatan. Misalnya kateter urin, enteral, dan vaskular adalah perangkat medis yang paling banyak digunakan, yang memerlukan penggunaan perekat medis/plester, dimana dalam prosesnya selalu diganti secara berkala.

Tartila, Sp.A(K), dari IDAI menyatakan, kulit anak-anak cenderung masih rentan dan sensitif mengakibatkan berisiko tinggi terkena MARSI. Berdasarkan survei singkat Pediatric ICU (PICU) rumah sakit di Indonesia ditemukan MARSI sebesar 12 persen dari total 77 pasien. Suatu studi menunjukkan bahwa prevalensi MARSI di Pediatric ICU sebesar 23,5-54 persen akibat penggunaan plester untuk fiksasi selang napas.

"Untuk itu, kami menekankan pentingnya perhatian yang cermat oleh tenaga kesehatan pada anak-anak dengan faktor risiko yang teridentifikasi seperti usia, durasi rawat inap yang lama, edema, infeksi, atau pembedahan," ucapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

39 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.