Kecakapan Bantu Pemuda dari Daerah Kumuh Kenya untuk Maju
📅 Sabtu, 01 Mar 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/SIMON MAINA
Tumbuh di daerah kumuh Kenya, Annastacia Mwende selalu mencintai mobil tetapi tidak pernah berpikir untuk menjadi mekanik. Sekarang, ia adalah pemagang teladan di sebuah bengkel di jalan sempit di Nairobi.
Kenya membutuhkan lebih banyak orang seperti dia, kata para ahli yang mempelajari pentingnya keterampilan praktis yang menghasilkan pekerjaan nyata.
Terlalu sering anak muda Kenya merasa tertekan untuk masuk universitas untuk belajar kedokteran, hukum atau manajemen kantor, hanya untuk mengetahui bahwa kemudian tidak ada pekerjaan untuk mereka. Hal itu khususnya berlaku di tempat-tempat seperti Kibera, salah satu daerah kumuh terbesar dan tertua di negara Afrika timur.
"Anda bisa mencari tukang ledeng di sekitar sini sampai Anda pingsan," kata Martha Otieno, seorang pekerja muda untuk CFK Africa, sebuah lembaga amal yang bekerja dengan kaum muda di daerah kumuh. "Berapa banyak manajer kantor yang benar-benar kita butuhkan?" imbuh dia.
Seperti wilayah Afrika lainnya, penduduk Kenya mayoritas adalah angkatan kerja muda dengan 80 persen berusia di bawah 35 tahun, menurut angka pemerintah. Prospek ini tidak bagus karena setengah dari populasi perkotaan tinggal di daerah kumuh dan kurang dari 20 persen pekerjaan berada di sektor formal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Alih-alih mengejar pekerjaan kantoran yang sedikit, CFK Africa berpendapat bahwa kaum muda memerlukan keterampilan untuk maju di sektor jua kali (secara harfiah berarti "matahari yang terik"), dunia kerja informal di bengkel-bengkel rumahan yang membangun, memperbaiki, dan menyelamatkan sesuatu.
"Jika Anda melihat orang-orang yang sudah mapan di komunitas ini, mereka adalah perajin, tetapi butuh waktu lama bagi mereka untuk mengembangkan keterampilan mereka," kata kepala CFK Afrika, Jeffrey Okoro.
Lembaga amal tersebut berharap dapat mempercepat proses tersebut dengan skema pemagangan eksperimental. Angkatan pertama yang beranggotakan 100 pemuda Kibera tahun lalu dipasangkan dengan teknisi listrik, mekanik, dan ahli perajin lainnya untuk secara realistis mentransisikan kaum muda ke peluang kerja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mwende, 20 tahun, adalah kasus yang umum di dunia kerja di Kenya saat ini. Ia belajar mencintai mobil dari ayahnya yang seorang mekanik. "Ayahku selalu pulang dengan tangan kotor dan itu terlihat sangat menyenangkan," kata Mwende.
Awalnya Mwendeber pikir lebih baik kuliah di universitas namun kemudian ia kehabisan uang dan harus berhenti kuliah. Bahkan dengan gelar sarjana, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan kantoran kemungkinan besar tidak akan ada tandingannya.
Program magang CFK Afrika datang untuk menyelamatkannya, mendanai penempatannya di Timed Performance Garage di pinggiran kota Nairobi, sebuah bengkel yang memperbaiki mobil-mobil Jerman. Berkat kecakapannya, dalam beberapa bulan saja mentornya menawarinya pekerjaan penuh waktu.
"Saya sangat mencintai pekerjaan ini, saya lebih memilih melakukan ini daripada menjadi dokter, pilot, atau pengacara," ungkap dia.
Isi Kesenjangan
Di seberang kota, Nicholas Odhiambo, 22 tahun, magang di salon kecantikan dan ia juga telah diterima jadi pekerja tetap.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!