Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kebutuhan Pangan 270 Juta Penduduk RI Jangan Andalkan Impor

📅 Rabu, 15 Nov 2023, 01:07 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kebutuhan Pangan 270 Juta Penduduk RI Jangan Andalkan Impor Doc: ISTIMEWA
Ket. DWIJONO HADI DARWANTO Guru Besar Fakultas Pertanian UGM - Seharusnya pemerintah segera memperbaiki saluran irigasi dan subsidi pupuk sudah seharusnya langsung ke petani, bukan lagi ke pabrik pupuk.

» Indonesia memiliki sumber daya dan potensi untuk menjadi negara produsen beras yang kuat.

» Selama ini, petani lebih banyak "mengalah" demi menjaga harga beras rendah.

JAKARTA - Pernyataan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI yang memperkirakan Indonesia bisa mengimpor hingga lima juta ton beras pada 2024 dinilai "ngawur" karena parameter perhitungannya tidak jelas.

Guru Besar Fakultas Pertanian dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Dwijono Hadi Darwanto, di Yogyakarta, Selasa (14/11), mengatakan bahwa impor sampai lima juta ton sulit diterima secara logika. "Impor lima juta ton, saya nggak tahu cara berhitungnya bagaimana, enggak ngerti," kata Dwijono.

Dia memperkirakan musim tanam padi sekarang mungkin memang tidak bisa di bulan Desember karena ketersediaan air masih terbatas. Dengan demikian, musim tanam padi akan mundur ke Januari 2024, sehingga musim panen besar yang biasanya di bulan Maret-April kemungkinan mundur hingga Mei, sehingga ada kelangkaan produksi sejak Desember hingga Maret atau sepanjang lima bulan.

"Apabila stok pemerintah yang ada di Bulog saat ini sisa 1,5 juta ton, diperkirakan hanya mencukupi untuk bansos dan operasi pasar (stabilisasi harga) hanya bertahan hingga awal Maret, sehingga ada kekurangan di April-Mei, tapi impornya kan tidak sampai 5 juta ton," jelas Dwijono.

Terlepas dari perhitungan itu, semestinya yang terpenting adalah bagaimana produksi sektor pertanian di Tanah Air meningkat dengan fokus pada pelaku usaha pertanian yakni petani.

"Bolak-baik dukungan pada pertanian seharusnya dikerjakan dengan sungguh-sungguh, jangan retorika saja," tandas Dwijono.

Pada intinya yang harus dipahami oleh semua pemimpin negara adalah, 270 juta perut penduduk Indonesia tidak akan bisa dipenuhi dengan mengandalkan impor. Tidak mungkin dengan beban perut sebanyak itu Indonesia mengandalkan negara lain.

Sangat penting bagi para pemimpin untuk berpihak pada petani dan berinvestasi dalam pertanian lokal. Hal itu tentu memerlukan dukungan terhadap penghidupan petani.

Situasi hari ini di mana impor beras begitu besar, harus menjadi panggilan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk mengambil tindakan yang nyata dalam mendukung kemandirian pangan Indonesia.

Indonesia memiliki sumber daya dan potensi untuk menjadi negara produsen beras yang kuat. "Seharusnya pemerintah segera memperbaiki saluran irigasi dan subsidi pupuk sudah seharusnya langsung ke petani, bukan lagi ke pabrik pupuk. Ini jika ke depan masih berharap para petani mau meningkatkan produksi gabahnya," tandas Dwijono.

Belajar dari pengalaman selama ini, pemerintah seharusnya mengandalkan produksi dalam negeri, terutama mengurangi konversi lahan pertanian untuk kebutuhan nonpertanian.

Layani Kelompok Tertentu

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.