Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kapal Pukat Hela Dasar Miliki Risiko Karbon yang Tinggi

📅 Sabtu, 20 Jan 2024, 00:00 WIB | Oleh:
Kapal Pukat Hela Dasar Miliki Risiko Karbon yang Tinggi Doc: ISTIMEWA
Ket. Para pemerhati lingkungan telah lama menentang penggunaan kapal pukat hela dasar, yaitu praktik penangkapan ikan yang menjelajahi dasar laut untuk mencari ikan darat dan krustasea.

NEW YORK - Para ilmuwan baru-baru ini untuk pertama kalinya menghitung emisi rumah kaca yang disebabkan oleh teknik penangkapan ikan destruktif yang dikenal menggunakan kapal pukat hela dasar (bottom trawl), dan mengatakan proses penangkapannya memiliki risiko karbon yang tinggi.

Dikutip dari The Straits Times, kapal-kapal bottom trawl menggunakan jaring berbobot besar yang panjangnya mencapai 800 meter untuk mengambil udang, kepiting, halibut, dan ikan lain dari dasar laut.

Para ilmuwan dan pemerhati lingkungan telah lama menentang penggunaan kapal jenis ini karena dapat menyebabkan kerusakan pada ekosistem dasar laut seperti terumbu karang, dan secara tidak sengaja membunuh penyu, hiu, serta spesies laut lain yang tidak menjadi sasaran penangkapan ikan.

Menurut sebuah makalah yang diterbitkan pada Kamis (18/1) di jurnal Frontiers in Marine Science, cara ini juga menimbulkan dampak iklim. Para peneliti menghitung gangguan penangkapan CO2 di sedimen dasar laut oleh kapal pukat hela dasar mengakibatkan 370 juta ton gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfer setiap tahunnya. Angka tersebut dua kali lipat lebih besar dari emisi CO2 yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil oleh industri perikanan global.

Para penulis makalah ini memperkirakan setiap CO2 yang dilepaskan yang tersisa di lautan akan mengasamkan perairan di sekitarnya, yang dapat melarutkan cangkang kepiting, remis, bulu babi, dan makanan laut lainnya yang menjadi andalan manusia.

"Ini adalah kawasan tertutup, khususnya seperti Mediterania, di mana kita dapat melihat bahwa CO2 dapat menciptakan pengasaman lokal yang bisa sangat besar," kata Trisha Atwood, penulis utama studi tersebut dan profesor ilmu daerah aliran sungai di Utah State University.

Amati Laut Dalam

Dia mencatat penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengukur dampak lokal dari pengasaman seiring dengan pemodelan yang dilakukan para peneliti yang mengamati lautan dalam skala global.

Studi Frontiers bukanlah studi pertama yang menghubungkan kapal pukat dan CO2, sebuah makalah tahun 2021 di jurnal Nature, yang menganalisis pengukuran CO2 di area yang menggunakan pukat, untuk pertama kalinya menetapkan sedimen yang terganggu telah melepaskan gas yang menyebabkan pemanasan global ke laut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

37 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.