Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hasil Penelitian: 6 dari 10 Perantau Mengalami Kesepian

📅 Kamis, 21 Des 2023, 10:57 WIB | Oleh:
Hasil Penelitian: 6 dari 10 Perantau Mengalami Kesepian Doc: istimewa
Ket. Health Collaborative Center (HCC) melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa status seorang perantau yang tinggal di Jabodetabek berpotensi atau berisiko hampir dua kali lipat untuk menderita kesepian derajat sedang hingga berat.

JAKARTA - Penelitian terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) membuktikan 4 dari 10 orang yang tinggal di Jabodetabek mengalami kesepian derajat sedang dan berat. Hal ini ditandai dengan indikator survei daring pada 1.229 responden selang 3 bulan terakhir.

Peneliti utama dan Ketua HCC Dr dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK menegaskan, hasil derajat kesepian warga Jabodetabek ini secara signifikan berhubungan langsung dengan empat variabel, yaitu status perantauan, usia muda kurang dari 40 tahun, status belum menikah, dan perempuan.

Menurut Dr Ray, survei menggunakan UCLA Loneliness Scale ini menunjukkan bahwa status seorang perantau yang tinggal di Jabodetabek memiliki potensi atau risiko hampir dua kali lipat untuk menderita kesepian derajat sedang hingga berat. Bahkan terdapat satu indikator penting yaitu 62 persen indikator kesepian dibentuk oleh perasaan tidak merasa cocok dengan pergaulan dan orang-orang di sekitarnya.

"Ini indikator yang tidak menyenangkan karena WHO sendiri sudah mengeluarkan rekomendasi bahwa bahaya dari kesepian dapat meningkatkan terjadinya gangguan kesehatan jiwa, meningkatkan risiko penyakit-penyakit jantung dan pembuluh darah yang berbahaya bahkan meningkatkan risiko kematian," ungkap dr Ray yang juga inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa di Jakarta, Selasa (19/12).

Hasil penelitian ini lebih lanjut menemukan fakta lain, yaitu lebih 51 persen kelompok penduduk dengan usia di bawah 40 tahun mengalami kesepian derajat sedang dengan risikonya lebih dari dua kali lipat. Menurut dia, temuan ini juga membuktikan bahwa kelompok usia muda yang berada pada tahap masa hidup aktif dan produktif ternyata sebagian besar mengalami kesepian.

"Artinya istilah support system yang sangat populer di kalangan generasi muda terkesan tidak cukup mendukung para generasi muda dan produktif di kota besar untuk tidak merasa kesepian," tegas dr Ray yang merupakan pengajar kedokteran kerja di Departemen Kedokteran Komunitas FKUI ini.

Temuan lain dari studi ini adalah terkait dengan status perkawinan. Sebanyak 60 persen penduduk Jabodetabek yang belum menikah atau janda dan duda mengalami kesepian derajat sedang hingga berat, dimana risikonya juga secara statistik sangat bermakna yaitu mencapai satu setengah kali lipat.

"Kondisi status perkawinan ternyata ketika dihubungkan dengan derajat kesepian menunjukkan adanya hubungan dengan jenis kelamin perempuan. Jadi perempuan memang lebih rentan untuk mengalami kesepian bila mereka tidak menikah, paling tidak ini terlihat dari analisis univariat yang dilakukan penelitian ini," ujarnya.

Penelitian dari HCC ini dilakukan oleh dr Ray sebagai peneliti utama bersama Yoli Farradika, M Epid sebagai research associate. Penelitian berlangsung sejak November 2023 pada 1.229 responden mayoritas Jabodetabek, dengan mayoritas perempuan rentang usia antara 21 hingga 60 tahun.

Penelitian dilakukan dengan survei daring menggunakan kuesioner UCLA Loneliness Scale yang tervalidasi dalam Bahasa Indonesia, dengan random sampling dan margin of error 1,6 dan mendapatkan izin etik dari Komisi Etik Kesehatan, yang merujuk pada tingkat kredibilitas dan validitas dari hasil penelitian ini.

Lebih lanjut dr Ray mengungkapkan, penggunaan kuesioner UCLA Loneliness Scale sudah sering dipakai untuk mendapatkan penggambaran skala kesepian di komunitas di berbagai negara, sehingga kuesioner ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Meskipun demikian, menurut dr Ray, tentunya hasil ini tidak 100 persen merepresentasikan kondisi secara umum, tapi cukup kuat untuk mendapatkan indikasi derajat kesepian, agar menjadi bahan acuan, diskusi dan rekomendasi bagi masyarakat, tenaga kesehatan dan pemerintah untuk mencari solusi bahwa kesepian itu terjadi di masyarakat kita dan perlu diatasi dengan sejumlah langkah cepat.

Salah satu rekomendasi HCC berdasarkan studi literatur menunjukkan efektivitas dari ruang publik yang ramah interaksi sudah diterapkan di berbagai negara di Eropa dan Amerika. Hasil studi ini diharapkan bisa menjadi pemantik diskusi pentingnya kesehatan jiwa di Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Olahraga
Iran Membidik Langkah Berse...
Daerah
Kasus yang Melingkungi Proy...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.