Gawat Data Pemanasan Global Ini, BMKG: Sejumlah Rekor Suhu Panas Bumi Terjadi Pada 2024
Staf Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hikmat Kurniawan menyampaikan paparannya, di SMK Hang Tuah 1, Jakarta, Sabtu (9/11).
Foto: ANTARA/Farhan Arda NugrahaJakarta- Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa beberapa rekor terkait suhu panas terjadi pada 2024 panas pada sejumlah bulan tahun ini mencetak rekor tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Tahun 2024 ini sudah banyak rekor-rekor yang diciptakan di dunia selama sejarah mulai dari suhu terpanas, anomali suhu tertinggi dan sebagainya," kata Staf Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Hikmat Kurniawan dalam seminar "Dampak Perubahan Iklim Pada Kesehatan Reproduksi Remaja" di Jakarta Utara pada Sabtu.
Ia menjelaskan, Copernicus Climate Change Surveys (C3S) mencatat bahwa Maret 2024 merupakan bulan terpanas selama 10 bulan terakhir.
Lalu, rata-rata suhu April 2024 tercatat 15,03 derajat celsius yang menjadikannya sebagai bulan April terpanas dibandingkan periode sebelumnya sepanjang sejarah pencatatan suhu.
"Jadi dibandingkan dengan April tahun-tahun sebelumnya, April 2024 ini merupakan April terpanas sepanjang pencatatan suhu," kata dia.
Selanjutnya, di Juni 2024 suhu bumi tercatat 1,5 derajat celsius lebih panas dari rata-rata suhu Juni 1850-1900.
Kemudian, Hikmat mengungkapkan, Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mencatat suhu Juli 2024 sebagai bulan terhangat yang pernah tercatat dalam 175 tahun.
"Bahkan 21 Juli 2024 memecahkan rekor suhu global sebagai hari terpanas di bumi dengan rata-rata 17,09 derajat celsius," ujar Hikmat.
Ia menjelaskan, peningkatan suhu bumi disebabkan oleh gas rumah kaca yang terdapat di atmosfer dan dapat menyerap serta memerangkap panas dari matahari. Karbon dioksida menjadi unsur penyumbang terbesar terhadap gas rumah kaca yang diikuti oleh metana, nitrogen okside, kloroflorokarbon, dan uap air.
" CO2 (karbon dioksida) yang paling banyak menyumbangkan (gas rumah kaca) ke atmosfer. Kemudian metana atau CH4 walaupun jumlahnya tidak sebanyak CO2, tapi metana ini menyerap panasnya lebih besar dibanding CO2," ucap Hikmat.
Berita Trending
- 1 Indonesia Tunda Peluncuran Komitmen Iklim Terbaru di COP29 Azerbaijan
- 2 Sejumlah Negara Masih Terpecah soal Penyediaan Dana Iklim
- 3 Ini Kata Pengamat Soal Wacana Terowongan Penghubung Trenggalek ke Tulungagung
- 4 Penerima LPDP Harus Berkontribusi untuk Negeri
- 5 Ini yang Dilakukan Kemnaker untuk Mendukung Industri Musik
Berita Terkini
- Christian Sugiono Bangun Luxury Glamping di Tepi Danau
- KKP Perkuat Kerja Sama Ekonomi Biru dengan Singapura
- Berkaus Hitam, Pasangan Dharma-Kun Kampanye Akbar di Lapangan Tabaci Kalideres, Jakarta Barat
- IBW 2024, Ajang Eksplorasi Teknologi Blockchain Kembali Digelar
- Desa Energi Berdikari Pertamina di Indramayu Wujudkan Ketahanan Pangan dan Energi