Cegah Anak 'Stunting' Tak Perlu Mahal
📅 Sabtu, 28 Agu 2021, 08:31 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: BKKBN.GO.ID
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh kembang anak balita akibat dari kekurangan gizi. Kondisi ini terjadi saat bayi dalam kandungan hingga dilahirkan, tetapi baru terlihat setelah bayi berusia 2 tahun.
Kekurangan gizi pada masa janin dan usia dini akan berdampak pada perkembangan otak. Rendahnya kemampuan kognitif yang akan memengaruhi prestasi sekolah dan keberhasilan pendidikan. Dalam jangka panjang, kekurangan gizi pada awal kehidupan akan menurunkan produktivitas. Tentu ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat.
Saat ini, Indonesia menduduki peringkat empat dunia dan urutan kedua di Asia Tenggara terkait kasus balita stunting. Jumlah kasus stunting di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 27,67 persen.
Angka itu berhasil ditekan dari 37,8 persen pada tahun 2013. Namun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu kurang dari 20 persen.
Gambaran tersebut menunjukkan stunting merupakan permasalahan serius. Tanpa penanganan serius, stunting bisa merugikan Indonesia ke depannya. Untuk mewawancarai seputar stunting dan masalah kependudukan lain, wartawan Koran Jakarta, Muhamad Ma'rup, mewawancarai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, dalam beberapa kesempatan. Berikut petikan wawancaranya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagaimana kondisi penanganan stunting di Indonesia?
Saat ini, stunted (pendek) itu yang diukur, di Indonesia masih menggunakan stunted. Sedangkan yang namanya stunting itu ada ikutan-ikutannya, ada sebab akibatnya. Maka dikatakan stunting dan bisa dikoreksi dalam 1.000 hari kehidupan pertama karena potential growth tercipta di 1.000 hari kehidupan pertama.
Di posyandu sekarang hanya mengukur pertumbuhan panjang dan berat tanpa mengukur perkembangan sebagai pendekatan. Apabila dikaji lebih ilmiah ukuran di Indonesia itu berbeda dengan standar internasional, seperti stunted di Indonesia kurang dari dua standar deviasi, tapi internasional juga berbeda dengan di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara ini pendekatannya mengukur tinggi badan dengan perkembangan umur, seperti baru lahir tinggi badan kurang dari 48 cm ini potensi stunting. Potensi otak tidak bertumbuh baik, fisik tidak bertumbuh baik, kalau tidak dikoreksi dalam 1.000, maka hari tuanya bisa menjadi pendek, berisiko penyakit kardiovaskuler, stroke, dan diabetes.
Kenapa stunting ini menjadi penting?
Jadi, stunting arahnya mencegah stunting itu mencegah agar tidak cerdas, agar tidak pendek, dan hari tua tidak terkena penyakit-penyakit. Masalah stunting penting untuk diselesaikan, karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak.
Data Bank Dunia atau World Bank mengatakan angkatan kerja yang pada masa bayinya mengalami stunting mencapai 54 persen. Artinya, sebanyak 54 persen angkatan kerja saat ini adalah penyintas stunting. Hal inilah yang membuat stunting menjadi perhatian serius pemerintah.
Bagaimana pemerintah merespons hal tersebut?
Awal tahun 2021, pemerintah Indonesia menargetkan angka stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024. Kami siap bekerja keras untuk mencapai target menurunkan prevalensi stunting hingga 14 persen sebagaimana diamanatkan Presiden Jokowi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!