Logo

Follow Koran Jakarta di Sosmed

  • Facebook
  • Twitter X
  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Threads

© Copyright 2025 Koran Jakarta.
All rights reserved.

Selasa, 07 Jan 2025, 15:50 WIB

Berikut Tips Sehat dari IDI Cianjur Agar Kamu Terhindar dari Vulvovaginitis

Foto: EyeEm dari Freepik

Vulvovaginitis adalah salah satu kondisi kesehatan yang sering ditemui pada wanita, terutama yang memengaruhi bagian luar alat kelamin, yaitu vulva, serta area dalam vagina. Secara umum, vulvovaginitis merujuk pada iritasi atau peradangan yang terjadi pada kedua area ini, dan dapat dialami oleh wanita dari segala usia, mulai dari anak-anak hingga remaja.

Penyakit ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti infeksi bakteri, jamur, iritasi kimiawi, atau bahkan alergi terhadap produk tertentu. Gejalanya pun beragam, mulai dari rasa gatal, nyeri, hingga keluarnya cairan tidak normal. Meskipun tidak selalu berbahaya, vulvovaginitis dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya jika tidak ditangani dengan tepat.

Di tengah tantangan ini, keberadaan organisasi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Cianjur idicianjur.org menjadi sangat berarti. Sebagai cabang dari organisasi profesi kedokteran, IDI Cianjur berkomitmen untuk memberikan edukasi kesehatan serta konsultasi gratis bagi individu yang mengalami gangguan kesehatan, termasuk vulvovaginitis.

Lalu apa saja ciri-ciri seseorang memiliki penyakit vulvovaginitis?

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Cianjur menjelaskan vulvovaginitis adalah kondisi peradangan yang terjadi pada vulva dan vagina, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Berikut adalah ciri-ciri seseorang menderita penyakit vulvovaginitis meliputi:

1. Keputihan tidak normal

Warna, bau, dan jumlah cairan keputihan yang keluar dari vagina dapat menjadi tanda penyakit vulvovaginitis. Keputihan dapat berwarna putih atau kuning kehijauan dengan bau yang seringkali tidak sedap.

2. Rasa gatal dan iritasi

Penderita vulvovaginitis akan mengalami nyeri dan gatal di organ intim mereka. Terutama pada bagian vagina dan area sekitarnya, yang dikenal sebagai vulva. Gatal atau iritasi organ intim ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan berpotensi mengancam kesehatan.

3. Nyeri saat berhubungan seksual

Bagi sebagian wanita, berhubungan seksual dengan pasangannya dapat menyebabkan rasa sakit. Peradangan dinding vagina dapat menyebabkan nyeri atau ketidaknyamanan saat berhubungan intim, yang memerlukan perawatan medis.

4. Nyeri saat buang air kecil

Pada sebagian wanita juga terjadi nyeri saat buang air kecil. Ini disebut disuria, dan dapat terjadi karena iritasi di area genital. Disuria secara umum lebih dikenal dengan sebutan anyang-anyangan.

5. Kemerahan dan pembengkakan pada organ intim

Untuk menghindari abses, Anda harus rutin cek kesehatan pada dokter terutama jika mengalami kemerahan dan pembengkakan di area vulva dan vagina. Hal ini bisa menjadi tanda akan reaksi pada peradangan.

6. Perdarahan ringan

Faktor terakhir adalah perdarahan ringan. Beberapa wanita mungkin mengalami bercak perdarahan dari vagina, meskipun ini tidak selalu terjadi.

Apa saja obat yang direkomendasikan untuk penyakit vulvovaginitis?

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah merangkum beberapa obat yang dapat mengatasi penyakit vulvovaginitis. Berikut adalah beberapa obat yang direkomendasikan berdasarkan penyebab umum vulvovaginitis meliputi:

1. Miconazole

Miconazole adalah obat antijamur yang dapat digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada area vagina. Ini dapat meredakan gejala infeksi jamur seperti gatal, iritasi, rasa terbakar, dan keputihan.

2. Clotrimazole

Dokter mungkin menyarankan Clotrimazole sebagai obat lain untuk mengobati infeksi jamur. Clotrimazole memiliki manfaat seperti mengobati kutu air, kurap, dan panu maupun infeksi jamur lainnya.

3. Neo Gynoxa Ovula

Neo Gynoxa Ovula adalah obat ovula dengan antibiotik dan bakterisid metronidazole dan nystatin yang efektif melawan amoeba dan Trichomonas vaginalis.

4. Terapi Pengganti Hormon

Vulvovaginitis, yang disebabkan oleh penurunan hormon estrogen, dapat diobati dengan terapi pengganti hormon. Ini terutama berlaku untuk wanita pascamenopause.

Penggunaan obat-obatan ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter untuk memastikan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai dengan penyebab vulvovaginitis. Jika gejala tidak membaik setelah pengobatan atau jika terjadi kekambuhan, penting untuk berkonsultasi kembali dengan dokter.

(IKN)

Bagikan:

Portrait mode Better experience in portrait mode.