Bisakah Program Makan Bergizi Gratis Memberi Ruang Inklusif untuk Anak dengan Disabilitas?
📅 Senin, 06 Jan 2025, 14:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
Sri Sunarti Purwaningsih, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Andhika Ajie Baskoro, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Angga Sisca Rahadian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Isnenningtyas Yulianti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Mochammad Wahyu Ghani, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Zainal Fatoni, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Pemerintahan Prabowo Subianto akan menerapkan program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai 6 Januari 2025. Salah satu program Asta Cita ini ditujukan sebagai upaya untuk memperbaiki permasalahan gizi di Indonesia, mulai dari mencegah stunting hingga mendukung pengembangan SDM berkualitas.
Penerapan program ini didominasi pemberian makanan bergizi dengan menu sehat di sekolah, baik di tingkat dasar maupun menengah, serta pesantren. Selebihnya, terdapat pemberian makanan bergizi untuk ibu hamil dan menyusui.
MBG ditargetkan mencakup 80 juta penerima manfaat hingga 2029. Meski begitu, patut dipertanyakan apakah program MBG yang didistribusikan di sekolah-sekolah dapat memenuhi prinsip inklusivitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pasalnya, terdapat anak-anak pengidap alergi dan penyandang disabilitas yang tidak dapat mengonsumsi bahan makanan tertentu. Lantas, sejauh mana program MBG dapat memberikan ruang inklusif untuk anak-anak tersebut?
Sensitivitas terhadap siswa khusus
Pemerintah harus sangat memperhatikan menu makanan anak pengidap alergi dan penyandang disabilitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menu makanan anak pengidap alergi tertentu, tentu tidak bisa disamaratakan dengan menu anak-anak lain yang tidak mengidap alergi. Bagi mereka yang memiliki alergi kulit, misalnya, penyedia makanan harus berhati-hati memilih bahan makanan agar tidak memicu reaksi alergi, seperti gatal-gatal atau ruam. Ada pula anak yang alergi terhadap kandungan susu dan produk olahan turunannya. Karena itu, pemerintah harus memperhatikan kesesuaian kebutuhan makanan setiap siswa.
Anak penyandang disabilitas dengan ragam disabilitas tertentu juga membutuhkan kecukupan gizi dan jenis makanan yang berbeda-beda. Data menunjukkan, jumlah anak penyandang disabilitas di Indonesia sekitar 2 juta jiwa. Penyandang disabilitas lebih rentan terhadap kekurangan gizi, termasuk stunting akibat gangguan fisik dan neurologis.
Menu diet untuk penyandang autisme, misalnya, harus selektif karena anak-anak dengan autisme sensitif terhadap makanan tinggi gula, susu, dan pengawet makanan. Selain itu, anak dengan autisme memiliki banyak persoalan yang menyertai kesehatannya, sehingga terapi gizi yang tepat dapat membantu mengurangi beban mereka.
Selain itu, akan lebih baik jika program MBG juga menyasar anak dengan disabilitas yang ada di luar sekolah formal umum, termasuk di Sekolah Luar Biasa (SLB), panti, atau di rumah-rumah. Sebab, tidak semua anak penyandang disabilitas disekolahkan di SLB. Sementara semua anak yang berada di sekolah formal maupun tidak seharusnya sama-sama memiliki hak untuk mendapatkan makanan bergizi tersebut.
Tidak ada data pasti jumlah anak penyandang disabilitas yang berada di sekolah, baik di sekolah umum maupun SLB. Namun secara statistik, jumlah anak dengan disabilitas yang mendapatkan pendidikan formal hanya sekitar 12,26%.
Belajar dari negara lain
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!