Validitas Data Pertumbuhan Ekonomi Diragukan

Senin, 09 Nov 2026, 00:00 WIB

Lonjakan pertumbuhan ekonomi di tengah lesunya konsumsi rumah tangga sebagai motor utama PDB memunculkan anomali yang mempertanyakan keselarasan antara angka statistik dan kondisi riil perekonomian.

JAKARTA – Peningkatan kinerja pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2026 menjadi 5,47 persen dari 5,29 persen memunculkan tanda tanya di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga dan melemahnya sejumlah indikator ekonomi lainnya. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya ketidaksinkronan antara angka pertumbuhan agregat dan aktivitas ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Ket. Foto: Kinerja Triwulan III - Konsumsi Rumah Tangga Tumbuh Melambat Selama Juli-September — Sumber: antara

Karena itu, pemerintah perlu memberikan penjelasan lebih transparan mengenai sumber pertumbuhan, terutama kontribusi setiap komponen pengeluaran dan sektor usaha. Hal itu dimaksudkan agar kualitas pertumbuhan tidak hanya tercermin dari angka statistik, tetapi juga menggambarkan kondisi riil perekonomian.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda menilai pertumbuhan ekonomi triwulan III-2026 menyimpan lima kejanggalan. “Ada anomali yang sulit dijelaskan secara logika ekonomi. Katanya tumbuh tapi konsumsi rumah tangga melemah. Ini yang janggal," ujar Nailul di Jakarta, Minggu (8/11).

Menurut Nailul, ada 5 kejanggalan utama dalam angka pertumbuhan kali ini. Pertama, konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) melambat dari 5,06 persen pada triwulan II menjadi 5,04 persen. Kedua, sejumlah mesin pertumbuhan lain juga melambat, yakni Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dari 6,87 persen menjadi 6,06 persen, PMTB kendaraan dari 26,03 persen menjadi 12,96 persen, serta konsumsi pemerintah dari 15,97 persen menjadi 8,95 persen.

Ketiga, industri pengolahan tumbuh 5,87 persen dan industri makanan minuman naik 7,09 persen, tetapi konsumsi rumah tangga untuk makanan dan minuman selain restoran justru melambat, sejalan dengan penurunan indeks penjualan ritel sektor tersebut. Keempat, sektor pertanian pangan, hortikultura, dan perkebunan mengalami kontraksi, meskipun kontribusinya terhadap PDB hampir 10 persen.

"Jika ketiga sektor tersebut mengalami kontraksi, sangat perlu dipertanyakan angka pertumbuhan ekonomi secara nasional lebih tinggi," ujarnya.

Kelima, Nailul mempertanyakan validitas data pertumbuhan ekonomi karena dinilai perlu mencerminkan kondisi riil masyarakat. “Perubahan data yang disesuaikan dengan keinginan Presiden merupakan kemunduran bagi negara,” pungkasnya.

Konsumsi Domestik

Seperti diketahui, perekonomian Indonesia pada triwulan III-2026 mencatatkan pertumbuhan solid hingga 5,47 persen secara tahunan (yoy). Angka ini melampaui capaian triwulan III-2025 sebesar 5,04 persen.

Ekonomi beberapa negara mitra dagang utama Indonesia turut mencatatkan pertumbuhan positif pada triwulan III-2026, diantaranya: Vietnam 10 persen(yoy), Singapura 5,4 persen (yoy), Malaysia 5,3 persen (yoy), Tiongkok 4,5 persen (yoy), Korea Selatan 3,4 persen (yoy), dan Amerika Serikat 2,1 persen (yoy).

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Moh. Edy Mahmud, menyampaikan konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi triwulan III-2026. “Ekonomi Indonesia pada triwulan 3-2026 tumbuh solid sebesar 5,47 persen secara tahunan, utamanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih terjaga,” jelas Edy pada konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/11).

Edy melanjutkan, konsumsi rumah tangga mampu tumbuh hingga 5,04 persen (yoy) dan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yaitu 2,62 persen pada triwulan III-2026. Pertumbuhan tersebut juga lebih tinggi dibanding triwulan III-2025 sebesar 4,89 persen.

Kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan 3-2026 utamanya didorong oleh kenaikan nilai transaksi barang dan jasa secara online, peningkatan mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata, serta berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi.

Selain konsumsi rumah tangga, komponen lainnya yang mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2026 dari sisi pengeluaran adalah PMTB yang tumbuh 6,06 persen (yoy), yang mencerminkan pertumbuhan investasi baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta. Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh hingga 8,95 persen, jauh diatas pertumbuhan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen.

Hal itu sejalan dengan meningkatnya realisasi belanja pegawai terutama pada gaji dan tunjangan ASN, serta meningkatnya realisasi belanja barang dan jasa utamanya pada belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa program Makan Siang Sekolah Bergizi.

  • konsumsi rumah tangga

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.