Obat Hipertensi Ini Bikin Dokter Terkejut, Efeknya Bertahan Dua Tahun Setelah Konsumsi Dihentikan

Senin, 09 Nov 2026, 00:27 WIB

LONDON - Harapan baru muncul bagi jutaan penderita tekanan darah tinggi atau hipertensi. Sebuah obat bernama baxdrostat menunjukkan hasil yang mengejutkan para peneliti karena manfaat penurunan tekanan darahnya ternyata tetap bertahan hingga dua tahun setelah pasien berhenti mengonsumsinya.

Lebih menarik lagi, sebagian pasien bahkan tidak lagi membutuhkan obat hipertensi lainnya. Temuan ini memunculkan dugaan bahwa baxdrostat bukan sekadar membantu mengendalikan tekanan darah, tetapi berpotensi mengatasi salah satu penyebab utama hipertensi hingga ke sumbernya.

Ket. Foto: Temuan ini memunculkan dugaan bahwa baxdrostat bukan sekadar membantu mengendalikan tekanan darah, tetapi berpotensi mengatasi salah satu penyebab utama hipertensi hingga ke sumbernya. — Sumber: Istimewa

Dilansir dari The Guardian, Minggu (8/11), penelitian yang dipimpin Profesor Morris Brown, spesialis hipertensi dari Queen Mary University of London, menemukan bahwa sejumlah pasien mengalami perbaikan tekanan darah yang bertahan jauh lebih lama daripada perkiraan awal.

"Ini sangat menggembirakan melihat hasilnya. Hampir seperempat pasien berhenti menjalani semua pengobatan dan memiliki tekanan darah yang benar-benar normal," kata Brown.

Temuan tersebut menjadi perhatian karena hipertensi merupakan salah satu persoalan kesehatan terbesar di dunia. Lebih dari satu miliar orang secara global mengalami tekanan darah tinggi. Di Inggris saja, jumlah penderitanya mencapai lebih dari 12 juta orang.

Dalam sekitar 5 hingga 10 persen kasus, hipertensi berkaitan dengan kondisi yang disebut aldosteronisme primer. Penyakit ini terjadi ketika kelenjar adrenal memproduksi hormon aldosteron secara berlebihan, biasanya akibat nodul kecil atau tumor jinak.

Aldosteron berperan mengatur keseimbangan garam dalam tubuh. Namun, ketika produksinya berlebihan, hormon tersebut memerintahkan ginjal untuk menahan lebih banyak garam. Akibatnya, cairan meningkat dan tekanan darah ikut melonjak.

Selama ini, salah satu penanganan utama aldosteronisme primer adalah operasi pengangkatan kelenjar adrenal yang bermasalah. Namun, tindakan tersebut tidak selalu menghasilkan kesembuhan menyeluruh karena faktor lain juga bisa berkontribusi terhadap hipertensi pasien.

Di sinilah baxdrostat menawarkan pendekatan berbeda.

Obat tersebut termasuk kelompok aldosterone synthase inhibitor (ASI), yakni penghambat enzim yang diperlukan tubuh untuk memproduksi hormon aldosteron. Dengan menekan produksi hormon tersebut, baxdrostat membantu mengurangi salah satu pemicu utama peningkatan tekanan darah.

Baxdrostat telah mendapatkan persetujuan di Amerika Serikat pada tahun ini untuk digunakan pada pasien dengan hipertensi yang tidak terkendali meskipun sudah mendapatkan pengobatan yang tersedia. Di Inggris, obat tersebut sedang dievaluasi oleh National Institute for Health and Care Excellence (NICE), lembaga yang menentukan rekomendasi penggunaan obat melalui layanan kesehatan nasional NHS.

Efeknya Bertahan Setelah Obat Dihentikan

Potensi baxdrostat memberikan efek lebih dari sekadar mengontrol hipertensi terungkap melalui penelitian kecil yang melibatkan 14 pasien.

Sebelumnya, para pasien menunjukkan penurunan tekanan darah secara signifikan selama menjalani uji coba obat selama tiga bulan. Mereka kemudian melanjutkan konsumsi pil setiap hari selama enam hingga 12 bulan sebelum akhirnya menghentikan pengobatan.

Namun, ketika para peneliti kembali memeriksa kondisi mereka hingga dua tahun kemudian, tekanan darah pasien ternyata masih berada pada tingkat yang lebih rendah.

Sebagian bahkan tidak lagi memerlukan obat untuk mengendalikan hipertensi.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal medis New England Journal of Medicine.

Mason Freeman, profesor kedokteran dari Harvard University yang turut terlibat dalam penelitian, mengingatkan bahwa temuan tersebut belum cukup untuk menyimpulkan baxdrostat benar-benar menyembuhkan penyakit pada sebagian pasien.

Menurut dia, penelitian dengan jumlah peserta lebih besar masih diperlukan untuk memastikan seberapa sering efek jangka panjang tersebut terjadi.

"Jika efek ini umum dan sangat persisten, pendekatan untuk mendiagnosis dan mengobati pasien ini kemungkinan akan berubah secara dramatis," kata Freeman.

Ia bahkan melihat kemungkinan penggunaan obat penghambat aldosteron sintase sejak awal ketika dokter mencurigai pasien mengalami aldosteronisme primer. Pasien yang memberikan respons positif berpotensi tidak perlu menjalani prosedur diagnostik invasif maupun operasi.

Diduga Menghancurkan Sel Penghasil Hormon Berlebih

Profesor Brown memiliki dugaan tersendiri mengenai alasan baxdrostat mampu memberikan efek yang bertahan lama meskipun penggunaannya sudah dihentikan.

Ia menghubungkan temuan tersebut dengan eksperimen pada tikus sekitar 20 tahun lalu. Penelitian itu memperlihatkan bahwa ketika gen yang diperlukan untuk memproduksi aldosteron dihilangkan, sel-sel penghasil hormon tersebut ikut menghilang.

Brown menduga baxdrostat mungkin memicu mekanisme serupa.

Ketika obat menekan produksi aldosteron, tubuh diduga mengalami peningkatan molekul sangat reaktif yang dikenal sebagai spesies oksigen reaktif atau reactive oxygen species (ROS). Molekul ini berpotensi menghancurkan secara selektif sel-sel yang memproduksi hormon aldosteron secara berlebihan.

"Radikal oksigen itu membunuh sel-sel dan sel-sel itu menghilang," ujar Brown.

Ia mengatakan mekanisme tersebut masih berupa hipotesis yang perlu dibuktikan melalui penelitian laboratorium.

Jika dugaan tersebut terbukti, baxdrostat berpotensi menawarkan perubahan besar dalam penanganan aldosteronisme primer. Pengobatan yang selama ini berfokus pada pengendalian tekanan darah mungkin dapat berkembang menjadi terapi yang mampu menghilangkan sumber gangguan produksi hormon.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian terhadap 14 pasien belum bisa dijadikan bukti bahwa baxdrostat merupakan obat penyembuh hipertensi secara umum. Uji klinis lebih besar tetap diperlukan untuk memastikan efektivitas, keamanan, serta kemungkinan manfaat jangka panjangnya.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.