Bukan Sekadar Ngopi, Festival 10.000 Cangkir Banyuwangi Satukan Ribuan Orang dalam Semalam
Minggu, 08 Nov 2026, 22:44 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/HO-Pemkab Banyuwangi
BANYUWANGI - Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai tradisi minum kopi masyarakat Suku Osing yang dikemas dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir 2026 di Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, menjadi simbol kuat persaudaraan dan gotong royong.
"Festival ini menjadi bagian dari upaya menjaga semangat gotong royong, masyarakat ikhlas dan senang menyuguhkan kopi secara gratis kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang belum dikenal. Meski sederhana, cara ini menjadi kekuatan untuk merajut persaudaraan dan persatuan," kata Bupati Ipuk di Banyuwangi, Minggu (8/11).
Ia mengapresiasi masyarakat Desa Kemiren yang konsisten menjaga tradisi leluhur hingga desa tersebut dikenal luas sebagai desa adat wisata, dan pemerintah daerah setempat akan terus mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan Desa Kemiren.
Menurut Ipuk, memasuki tahun ke-13 sejak pertama digelar pada 2014, festival ini menjadi salah satu agenda budaya yang dinanti wisatawan.
"Pelaksanaan Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cangkir 2026 yang digelar pada Sabtu (7/11) malam, dihadiri ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara, memadati jalan utama desa dan disambut hangat oleh warga di halaman setiap rumah," kata Ipuk.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Kepala Desa Kemiren, Kecamatan Glagah Muhammad Arifin mengemukakan bahwa Festival Ngopi Sepuluh Ewu bukan sekadar menyajikan ribuan cangkir kopi, melainkan menggambarkan karakter masyarakat Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) yang menjunjung tinggi keramahan dalam menerima tamu.
"Kami diajarkan suguh, gupuh, lungguh dalam menerima tamu. Suguh berarti memberikan suguhan atau hidangan kepada tamu, meski hanya berupa minuman, gupuh bermakna antusias dan sigap menyambut kedatangan tamu, sedangkan lungguh berarti menyediakan tempat duduk yang layak agar tamu merasa nyaman," katanya.
Ngopi Sepuluh Ewu ini merupakan wujud kearifan lokal, budaya dan adat istiadat masyarakat Osing dalam menerima tamu. "Kearifan ini perlu terus kami rawat dan wariskan kepada anak cucu," katanya menambahkan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!