Pembangunan Manusia Ibu Kota Masuk Kategori Sangat Tinggi

Jumat, 06 Nov 2026, 03:24 WIB

JAKARTA – Pembangunan manusia Jakarta masuk dalam kategori sangat tinggi karena berada dalam angka 85,88. “Ini masuk sangat tinggi,” jelas Kepala BPS Jakarta, Kadarmanto, Kamis (5/11).

Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jakarta mencapai 85,88. Angka ini  meningkat 0,83 poin atau 0,98 persen dari tahun lalu. Menurut Kadarmanto, dalam lima tahun terakhir, IPM Jakarta terus meningkat dari 82,77 pada tahun 2022 menjadi 85,05 pada tahun lalu.

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA/Dhemas Reviyanto

“Peningkatan pada tahun ini, terjadi di seluruh indikator penyusunnya, baik indikator kesehatan, pendidikan maupun pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan,” kata Kadarmanto.

IPM menggambarkan capaian pembangunan manusia yang diukur melalui dimensi: umur panjang dan hidup sehat. Kemudian pengetahuan serta standar hidup layak.

Untuk dimensi Umur Harapan Hidup Saat Lahir, BPS mencatat harapan hidup saat lahir pada tahun ini mencapai 76,44 tahun atau meningkat 0,17 tahun dari tahun lalu.

Angka ini menggambarkan perkiraan rata-rata lama hidup bayi yang baru lahir. Artinya bayi yang lahir tahun ini,  diperkirakan akan hidup sampai umur 76 tahun atau 76,4 tahun.

“Jadi, peningkatan umur ini, umur harapan hidup sehat lahir menandakan adanya perbaikan taraf kesehatan masyarakat Jakarta,” kata ­Kadarmanto.

Selanjutnya, dimensi pengetahuan yang terdiri dari Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS), sama-sama naik. HLS mencapai 14 tahun, naik 0,20 tahun dari tahun lalu. Artinya anak usia tujuh tahun dapat menempuh pendidikan selama 14 tahun.

Sementara itu, RLS mencapai 11,76 tahun, meningkat 0,17 tahun. Ini menunjukkan rata-rata lama pendidikan formal yang telah dijalani penduduk usia 25 tahun ke atas.

Selanjutnya, dimensi Standar Hidup Layak yang diwakili oleh pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan. Pada tahun ini, indikator tersebut mencapai Rp21,43 juta per kapita per tahun. Nilai ini meningkat Rp755.000 atau 3,65 persen dari tahun lalu.

Tumbuh 5,87 Persen

Selain itu, Kadarmanto juga menyampaikan bahwa ekonomi Jakarta tumbuh sebesar 5,87 persen pada triwulan III dari periode sama tahun lalu atau secara tahunan (yoy).

Dia menyampaikan, secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta Atas Dasar Harga Berlaku di Jakarta triwulan III sebesar Rp1.069,06 triliun. Sedangkan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp596,33 triliun. Ini berarti tumbuh 5,87 persen dibandingkan triwulan III-2025.

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa lapangan usaha dengan kontribusi terbesar bagi ekonomi Jakarta pada triwulan III adalah sektor perdagangan besar dan eceran dengan kontribusi sebesar 18,12 persen. Kemudian, diikuti konstruksi (11,17 persen), industri pengelolaan berkontribusi (10,94).

Untuk konstruksi, pertumbuhan didorong oleh meningkatnya konstruksi gedung dan infrastruktur. Ini tecermin dari realisasi dari pembangunan moda Lintas Raya Terpadu (LRT) Velodrome-Manggarai dan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta fase 2A yang meningkat.

Sementara itu, dari sisi produksi, lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi mengalami pertumbuhan tertinggi yakni sebesar 10,86 persen, diikuti penyediaan akomodasi dan makan minum (9,57 persen), serta jasa lainnya (8,31 persen). “Sedangkan dari sisi pengeluaran komponen ekspor mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 9,86 persen,” turur Kadarmanto.

Pertumbuhan ini tertinggi secara nasional dibanding provinsi lain. Jakarta menyumbang sebesar 16,09 persen dalam kue ekonomi nasional. Wid/Ant/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.