Perempuan Muda Paling Berisiko: Beralih dari Susu Sapi ke Susu Nabati, Keju, dan Yogurt Nabati dapat Sebabkan Kekurangan Mikronutrien
Kamis, 05 Nov 2026, 11:20 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
LONDON - Peralihan dari susu sapi ke produk berbahan nabati seperti susu oat, susu kedelai, keju vegan, dan yogurt nabati ternyata menyimpan risiko kesehatan yang perlu diperhatikan. Sebuah penelitian terbaru menemukan, kebiasaan mengganti produk susu hewani dengan alternatif nabati berpotensi menyebabkan kekurangan sejumlah mikronutrien penting, terutama yodium.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena kelompok perempuan muda dan usia produktif dinilai paling rentan mengalami kekurangan nutrisi akibat perubahan pola konsumsi tersebut.
Penelitian yang diberitakan The Guardian, Rabu (4/11/), menyebutkan bahwa penggantian sebagian produk susu dengan alternatif nabati dapat menurunkan asupan yodium, kalsium, riboflavin atau vitamin B2, serta vitamin B12. Risiko semakin besar apabila produk pengganti tersebut tidak diperkaya dengan nutrisi tambahan.
Yodium menjadi perhatian utama para peneliti. Mineral ini dibutuhkan kelenjar tiroid untuk memproduksi hormon yang berperan mengatur metabolisme tubuh, mendukung pertumbuhan, serta perkembangan otak.
Profesor madya nutrisi kesehatan masyarakat Universitas Surrey, Dr Sarah Bath, mengatakan kelompok perempuan muda dan perempuan usia subur merupakan populasi yang perlu mendapat perhatian khusus.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ada dampak kesehatan yang diketahui akibat kekurangan yodium, dan itulah mengapa kami ingin meningkatkan kesadaran tentang hal ini," kata Bath.
Dia menjelaskan, perempuan muda memiliki tingkat asupan yodium yang relatif rendah. Padahal, mineral tersebut sangat dibutuhkan pada periode penting dalam kehidupan perempuan, terutama selama usia reproduktif.
Berdasarkan pemodelan penelitian, mengganti sekitar seperlima hingga sepertiga konsumsi susu dengan alternatif nabati dapat meningkatkan prevalensi kekurangan yodium pada remaja putri di Inggris dari 54 persen menjadi 65 persen.
Sementara itu, pada perempuan berusia 19 hingga 49 tahun, angkanya diperkirakan meningkat dari 32 persen menjadi 42 persen.
Penelitian tersebut mengamati produk pengganti susu yang beredar di pasar Inggris, mencakup 146 produk susu nabati, 76 yogurt, dan 67 keju berbahan nabati.
Hasilnya menunjukkan, hanya sebagian produk yang telah dilengkapi mikronutrien penting. Sebanyak 61 persen produk mengandung tambahan kalsium dan 46 persen diperkaya vitamin B12.
Namun, produk yang mengandung tambahan riboflavin hanya mencapai 19 persen, sedangkan yang diperkaya yodium bahkan hanya 12 persen.
Kondisi tersebut membuat peralihan konsumsi produk susu berpotensi mengurangi asupan sejumlah nutrisi apabila konsumen tidak memperhatikan kandungan gizi produk penggantinya.
Dalam simulasi penelitian, mengganti sepertiga konsumsi produk susu dengan alternatif vegan dapat menurunkan asupan yodium antara 9 persen hingga 21 persen. Asupan kalsium, riboflavin, dan vitamin B12 juga mengalami penurunan.
Risikonya semakin besar apabila seluruh konsumsi produk susu digantikan dengan produk nabati. Dalam skenario tersebut, prevalensi asupan yodium yang tidak mencukupi diperkirakan mencapai 80 persen pada remaja putri dan 72 persen pada remaja putra.
Para peneliti menilai fortifikasi atau penambahan mikronutrien pada produk nabati perlu diperhatikan secara lebih serius. Bahkan, mewajibkan produsen memperkaya seluruh alternatif susu dengan yodium dinilai dapat mencegah penurunan rata-rata asupan mineral tersebut.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!