- Home
-
- Luar Negeri
-
- Angkatan Darat AS Berlatih...
Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
Kamis, 05 Nov 2026, 12:36 WIBCAROLINA UTARA â Militer Amerika Serikat (AS) mulai mempersiapkan skenario terburuk dalam kemungkinan perang berkepanjangan yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, tentara Angkatan Darat AS kembali menjalani latihan menggali kuburan sementara massal bagi rekan-rekan mereka yang gugur di medan perang.
Latihan tersebut menjadi bagian dari persiapan menghadapi konflik berskala tinggi, ketika jumlah prajurit yang tewas berpotensi melampaui kemampuan tim militer untuk menangani jenazah secara individual.
Seperti dilaporkan Newsweek, 29 Oktober 2026, latihan melibatkan prajurit Komando Logistik Korps ke-3 dan Brigade Zeni ke-20 yang bermarkas di Fort Bragg, Carolina Utara.
Mereka bekerja bersama personel pendukung keagamaan, termasuk pendeta militer, untuk menguji kemampuan penggunaan buldoser, ekskavator, dan peralatan konstruksi militer dalam menyiapkan lokasi pemakaman sementara.
Fokus latihan bukan sekadar menggali kuburan dalam jumlah besar, tetapi juga memastikan jenazah tetap terjaga kondisinya sehingga dapat diidentifikasi dan dipulangkan ke Amerika Serikat.
Angkatan Darat AS menyatakan bahwa pengerahan kuburan sementara dalam skala besar seperti ini belum pernah diperlukan sejak Perang Korea pada 1950-1953.
Dalam perang tersebut, hampir 37.000 personel militer AS tewas. Hingga kini, Semenanjung Korea masih terbagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.
Selama sekitar seperempat abad terakhir, militer AS lebih banyak mengandalkan prosedur evakuasi cepat untuk memulangkan prajurit yang gugur dari medan perang, termasuk selama konflik di Irak dan Afghanistan.
Namun, situasinya bisa berbeda apabila AS terlibat dalam perang berintensitas tinggi dengan jumlah korban yang sangat besar.
Militer menjelaskan, dalam kondisi banyak korban berjatuhan, tim khusus penanganan jenazah tidak selalu memiliki waktu dan kapasitas untuk melakukan pemakaman maupun ritual keagamaan secara individual. Pada saat bersamaan, operasi militer untuk menyerang atau mempertahankan wilayah kemungkinan masih berlangsung.
Karena itu, kuburan sementara massal dipersiapkan sebagai solusi darurat untuk memastikan jenazah tetap ditangani secara terhormat sekaligus memungkinkan proses identifikasi dilakukan kemudian.
Bisa Tampung 2.400 Jenazah dalam 24 Jam
Dalam latihan tersebut, tentara menguji sistem pemakaman sementara yang menggunakan lima parit untuk setiap lokasi, dengan kapasitas keseluruhan mencapai 100 jenazah.
Hasil pengujian di Carolina Utara menunjukkan, penggunaan buldoser dan kendaraan militer lainnya mampu mengisi satu lokasi pemakaman dalam waktu rata-rata satu jam 15 menit.
Bahkan, menurut perhitungan Angkatan Darat AS, hingga 2.400 jenazah prajurit dapat dimakamkan sementara dalam waktu 24 jam dengan dukungan delapan buldoser dan empat ekskavator militer.
Sersan Kelas Satu Delbert Ruede dari Komando Dukungan Korps ke-3 mengatakan latihan tersebut penting untuk mengevaluasi kesiapan militer menghadapi kemungkinan jatuhnya korban dalam konflik berskala besar.
"Latihan ini memungkinkan kami untuk meninjau secara kritis bagaimana kami menghormati, menghargai, dan secara sistematis mengelola korban yang gugur dalam konflik intensitas tinggi," ujarnya.
Ruede menegaskan, persiapan sejak dini diperlukan agar militer tidak harus menyusun prosedur penanganan korban secara mendadak ketika perang benar-benar terjadi.
"Jika kita berperang besok, kita akan improvisasi seiring berjalannya waktu. Apa yang kita lakukan di sini adalah mengambil pendekatan ilmiah yang telah teruji di lapangan sehingga kita dapat mempertahankan kendali yang positif dan dengan hormat merawat para korban yang gugur," katanya.
Latihan di Fort Bragg tersebut juga menjadi momentum penting bagi personel keagamaan militer. Untuk pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun, para pendeta Angkatan Darat AS dan personel yang menangani urusan keagamaan kembali mendapatkan pelatihan mengenai keterlibatan mereka dalam proses penggalian kuburan sementara di medan perang.
Langkah ini memperlihatkan bahwa persiapan militer AS tidak hanya mencakup kemampuan tempur dan logistik, tetapi juga skenario penanganan korban jiwa dalam jumlah besar apabila menghadapi perang dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan konflik yang dialami dalam beberapa dekade terakhir.
- us army
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.