Proyeksi Ekonomi Dipangkas, Pemerintah Hadapi Tantangan Berat

Rabu, 04 Nov 2026, 00:00 WIB

Kenaikan harga energi dan tingginya suku bunga global berpotensi menekan biaya produksi, daya beli, serta investasi, sehingga mempersempit ruang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

JAKARTA – Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal terhadap prospek pemulihan ekonomi nasional. Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi dan meningkatkan biaya produksi, sementara suku bunga global yang tinggi dapat mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter serta menekan arus modal masuk.

Ket. Foto: Prospek Perekonomian - Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 — Sumber: istimewa

Kombinasi risiko tersebut berpotensi melemahkan daya beli masyarakat, menahan ekspansi dunia usaha, dan menghambat investasi. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat permintaan domestik dan menjaga stabilitas ekonomi agar gejolak global tidak semakin menggerus momentum pertumbuhan.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,4–5,5 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari prediksi awal per Agustus 2026 di kisaran 5,6–6,0 persen. “Ekonomi Indonesia di tahun 2026 diprakirakan tumbuh di sekitar 5,4–5,5 persen year-on-year," kata Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11).

Meski proyeksi pertumbuhan ekonomi diturunkan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai perekonomian domestik masih menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan kuartal III-2026 yang ditopang permintaan domestik dan ekspor. Konsumsi rumah tangga didukung stimulus fiskal, sementara APBN berfungsi sebagai peredam guncangan melalui subsidi, kompensasi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, dan penciptaan lapangan kerja.

“Investasi tetap diperkirakan tumbuh kuat berkat proyek hilirisasi dan infrastruktur, disertai percepatan belanja pemerintah serta penyaluran bansos,” ujarnya.

Dari sisi eksternal, ekspor nonmigas masih positif. Ketahanan ekonomi juga tercermin dari pertumbuhan penjualan mobil dan sepeda motor pada September 2026 masing-masing 28,1 persen dan 15,4 persen secara tahunan, serta PMI Manufaktur yang meningkat dari kisaran 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.

Tantangan Utama

Kepala Ekonom Allianz Global Investors (AllianzGI) Christian Schulz memperingatkan kenaikan harga energi dan suku bunga global sebagai dua tantangan utama terhadap perekonomian nasional. Bagi Indonesia, tekanan harga minyak global dapat meningkatkan biaya impor energi, memengaruhi nilai tukar rupiah, serta menambah beban pembiayaan.

Namun, lanjut dia, tantangan itu dapat menjadi momentum untuk melakukan penyesuaian kebijakan yang memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. "Masalah-masalah ini bisa diatasi. Bahkan, ini merupakan peluang untuk melakukan perubahan yang memberikan manfaat dalam jangka panjang," ujar dia awal pekan ini.

Selain itu, Schulz memperkirakan tekanan inflasi global belum banyak mereda, sehingga sejumlah bank sentral masih berpotensi menaikkan suku bunga dan mempertahankannya pada tingkat tinggi lebih lama. Dia menggambarkan perekonomian dunia masih berada dalam fase pertumbuhan, tetapi mulai mendekati tahap siklus yang lebih matang sehingga risiko perlambatan dan gejolak pasar perlu diantisipasi.

"Kami tidak memperkirakan pertumbuhan turun secara signifikan. Kami juga tidak memperkirakan inflasi global turun terlalu banyak," tuturnya.

Sementara itu, Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah m pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2026 masih berada di atas 5 persen dengan penopang utamanya meliputi aktivitas konsumsi masyarakat, ekspor, investasi, serta belanja pemerintah. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada Kamis (5/11).

Piter dalam keterangannya, di Jakarta, Minggu (1/11), menjelaskan konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional, selain ekspor, investasi, dan belanja pemerintah. Terlebih, konsumsi rumah tangga memiliki kontribusi lebih dari separuh terhadap perekonomian Indonesia, sehingga aktivitas konsumsi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.