Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lawang Sewu dan Ambarawa, Jejak Sejarah Kereta Api Kembali Diangkat

4 Rabu, 04 Nov 2026, 22:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Lawang Sewu dan Ambarawa, Jejak Sejarah Kereta Api Kembali Diangkat Lawang Sewu dan Ambarawa, Jejak Sejarah Kereta Api Kembali Diangkat Doc: ANTARA/HO-KAI
Ket. Lawang Sewu, bangunan bersejarah ikonik di Kota Semarang, Jawa Tengah.

JAKARTA – Melalui Rail Heritage Forum 2026 di Lawang Sewu, KAI mengangkat perjalanan 159 tahun perkeretaapian Indonesia serta potensi museum sebagai destinasi edukasi dan wisata sejarah

PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus mengembangkan pengelolaan aset heritage sebagai ruang edukasi, pelestarian sejarah, dan destinasi wisata masyarakat. Sejumlah bangunan, stasiun, dan sarana kereta api bersejarah yang tersebar di Jawa dan Sumatra kini menjadi tempat bagi berbagai generasi untuk mengenal perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.

Minat masyarakat terhadap wisata sejarah tersebut terlihat dari aktivitas kunjungan ke dua destinasi heritage KAI di Jawa Tengah. Sepanjang 2024 hingga Agustus 2026, Lawang Sewu di Semarang dan Museum Kereta Api Ambarawa di Kabupaten Semarang mencatat total 2.127.125 kunjungan.

Dari jumlah tersebut, Lawang Sewu mencatat 1.636.638 kunjungan, sedangkan Museum Kereta Api Ambarawa menerima 490.487 kunjungan. Angka tersebut mencerminkan besarnya ketertarikan masyarakat untuk menikmati destinasi wisata yang menghadirkan pengalaman sejarah secara langsung.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyampaikan bahwa sejarah kereta api memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Selama lebih dari satu setengah abad, kereta api telah menjadi bagian dari perjalanan kota, aktivitas ekonomi, perkembangan teknologi, hingga berbagai peristiwa penting bangsa.

“Di balik setiap stasiun tua, lokomotif uap, dan bangunan bersejarah, ada cerita tentang masyarakat dan perjalanan Indonesia. Kami ingin museum-museum KAI menjadi tempat anak-anak, keluarga, dan generasi muda mengenal sejarah dengan cara yang dekat, menarik, dan berkesan,” ujar Anne.

KAI menghadirkan sejumlah destinasi yang menawarkan pengalaman sejarah dengan karakter berbeda, mulai dari Lawang Sewu dan Museum Kereta Api Ambarawa di Jawa Tengah, Museum Kereta Api Bondowoso di Jawa Timur, hingga Museum Kereta Api Sawahlunto di Sumatra Barat.

Lawang Sewu merupakan salah satu bangunan bersejarah paling dikenal di Semarang. Gedung yang mulai digunakan sebagai kantor pusat administrasi perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1907 tersebut kini menjadi destinasi yang memperkenalkan perjalanan perkeretaapian melalui koleksi benda, dokumentasi, serta informasi mengenai perkembangan transportasi rel Indonesia.

Sementara itu, Museum Kereta Api Ambarawa menghadirkan pengalaman berbeda melalui koleksi lokomotif uap, kereta bersejarah, serta jejak teknologi perkeretaapian di kawasan pegunungan. Museum ini menempati bekas Stasiun Willem I yang mulai beroperasi pada 21 Mei 1873, bersamaan dengan pembukaan jalur Kedungjati–Ambarawa.

Di Jawa Timur, Museum Kereta Api Bondowoso menyimpan ingatan sejarah yang berkaitan dengan peristiwa Gerbong Maut, salah satu bagian penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Adapun Museum Kereta Api Sawahlunto memperkenalkan hubungan erat antara perkembangan kereta api dan sejarah pertambangan batu bara Sumatra Barat. Kawasan ini memiliki keterkaitan dengan warisan pertambangan Ombilin yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, serta dikenal melalui lokomotif uap E1060 atau Mak Itam.

“Setiap museum memiliki cerita yang berbeda. Ada perjalanan teknologi, kehidupan masyarakat, perkembangan kawasan, hingga sejarah perjuangan bangsa. Keberagaman ini menjadi daya tarik yang dapat memperkaya pengalaman wisata dan pembelajaran lintas generasi,” kata Anne.

Selain museum, KAI mencatat 656 aset heritage yang telah berstatus cagar budaya maupun sedang dalam proses penetapan. Aset tersebut mencakup stasiun, bangunan, struktur, serta sarana perkeretaapian yang tersebar di berbagai wilayah operasional.

Beberapa di antaranya adalah Stasiun Jakarta Kota, Stasiun Bandung, Stasiun Semarang Tawang, Stasiun Yogyakarta, hingga berbagai jembatan, terowongan, bengkel, depo, dan lokomotif bersejarah.

Keragaman tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan jaringan kereta api turut membentuk kawasan permukiman, pusat perdagangan, kawasan industri, dan destinasi wisata di berbagai daerah.

Salah satu jejak yang memiliki nilai sejarah penting adalah lintas Kedungjati–Tuntang–Ambarawa di Jawa Tengah. Jalur yang berkaitan dengan perkembangan jaringan kereta api sejak 1873 tersebut menjadi bagian dari perjalanan awal transportasi rel di Indonesia dan memiliki potensi pengembangan wisata berbasis sejarah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
Daerah
Percepatan peninggian jalan...
Daerah
Aktivitas Kegempaan Gunung ...

Seni ukir Suku Kamoro di Papua Tengah

55 menit yang lalu | Wahyu AP

Wisata
Seni ukir Suku Kamoro di Pa...
Advertisement
Bek Timnas Indonesia Sabet "Man of the Match" Liga Champions Usai Lille Tahan Imbang Bodo/Glimt

Bek Timnas Indonesia Sabet "Man of the Match" Liga Champions Usai Lille Tahan Imbang Bodo/Glimt

04 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.