Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pembangunan Smelter Dievaluasi, Pemerintah Mulai Hitung Ulang Strategi Hilirisasi

3 Selasa, 03 Nov 2026, 22:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pembangunan Smelter Dievaluasi, Pemerintah Mulai Hitung Ulang Strategi Hilirisasi Pembangunan Smelter Dievaluasi, Pemerintah Mulai Hitung Ulang Strategi Hilirisasi Doc: ANTARA FOTO/ Jessica Wuysang.
Ket. Ilustrasi-Pekerja berjalan di lokasi proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1 PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

JAKARTA – Pemerintah tengah mengkaji pembangunan smelter ke depan, apakah hanya menghasilkan produk antara atau diarahkan hingga ke produk akhir.

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan saat ini mayoritas produk industri hilirisasi atau smelter, baru berada di tahap setengah jadi.

"Saya katakan kepada teman-teman pengusaha, industri hilirisasi kita sekarang masih mayoritas produknya itu baru di tengah, baru di 50-60 persen. (Smelter) ini membludak sekarang," kata Bahlil saat membuka ajang Mineral dan Batubara Convention Expo (Minerba Convex) 2026 di Jakarta, Senin (2/11).

Oleh karena itu, Bahlil mengatakan pemerintah menimbang apakah smelter yang produknya hanya setengah jadi masih memungkinkan dibangun, atau perlu diatur lebih lanjut.

"Yang perlu kita dorong adalah produk akhirnya, supaya bahan baku setengah jadi tidak semuanya diekspor ke luar. Jadi, Indonesia ini benar-benar mendapatkan manfaatnya secara utuh. Ini yang sekarang kita lagi mau kaji," ujarnya.

Bahlil menuturkan pada 2017-2019, nilai ekspor nikel Indonesia hanya 3,3 miliar dolar AS.

Setelah pemerintah menyetop ekspor nikel dan membangun industri pengolahan di dalam negeri, nilai ekspornya melonjak menjadi 34 miliar dolar AS.

Menurut Bahlil, kunci keberhasilan itu adalah konsistensi kebijakan.

Ia mencontohkan ekosistem baterai kendaraan listrik yang kini terintegrasi dari tambang, smelter, prekursor, katoda, hingga baterai.

Bahlil menyebut gagasan tersebut sempat diragukan saat disampaikannya pada 2020.

Kini, Amerika Serikat sudah mendapatkan bahan baku prekursor dan katoda dari Indonesia.

Indonesia juga telah memiliki tiga pabrik baterai, termasuk pabrik di Karawang, Jawa Barat, yang diresmikan pada 2024.

Sementara itu, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno menambahkan langkah berikutnya adalah memperdalam rantai industri menuju produk dengan nilai tambah yang semakin tinggi, termasuk bahan antara dan komponen untuk industri baterai.

Kajian ini menjadi penanda arah hilirisasi tahap berikutnya.

Pemerintah ingin memastikan mineral yang diolah di dalam negeri tidak berhenti sebagai bahan setengah jadi, tetapi berlanjut menjadi produk akhir yang memberi nilai tambah lebih besar bagi Indonesia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Luar Negeri
Polandia Memanas, Tuduhan K...
Advertisement
Terkonfirmasi, Jenderal LSP Ditahan di Rutan Mabes Polri   

Terkonfirmasi, Jenderal LSP Ditahan di Rutan Mabes Polri  

03 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.